Akurat

Temui Suharso, Menteri PPN Rahcmat Pambudy Bahas Strategi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Hefriday | 21 Oktober 2024, 18:19 WIB
Temui Suharso, Menteri PPN Rahcmat Pambudy Bahas Strategi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

AKURAT.CO Menteri PPN Kabinet Indonesia Maju, Suharso Monoarfa membagikan isi pertemuannya dengan Rachmat Pambudy sepekan yang lalu.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas berbagai langkah strategis yang akan diambil guna mendukung agenda pertumbuhan ekonomi yang ambisius dari Presiden terpilih, Prabowo Subianto.

Pertemuan atau diskusi tersebut menurut Suharso bertujuan untuk memastikan semua rencana berjalan dengan baik dan lancar. Salah satu hal utama yang dibahas adalah keberlanjutan program kampanye Prabowo, yang telah lama disusun dan dipimpin oleh Burhanuddin Abdullah, termasuk strategi yang dikenal sebagai Asta Cita.

Baca Juga: Sertijab, Menteri PPN Suharso: Keberlanjutan Itu Penting

Rachmat Pambudy, yang ditunjuk untuk melanjutkan kementerian tertentu, dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk melaksanakan rencana tersebut.

Pada awalnya, desain kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi sudah disusun bersama dengan beberapa tokoh seperti Rachmat Pambudy. Namun, seiring waktu, perubahan diperlukan karena adanya beberapa hambatan operasional. 

"Ada banyak hal yang harus diperbaiki dan disusun kembali," ungkanya saat ditemui di Jakarta, Senin (21/10/2024).

Salah satu fokus utama diskusi adalah target Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, sebuah angka yang ambisius di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan. Suharso menegaskan bahwa target ini hanya bisa dicapai jika berbagai kebijakan dan langkah strategis diterapkan secara konsisten. 

Meskipun beberapa rencana sempat tertunda, harapannya setelah transisi ini berjalan, kebijakan-kebijakan tersebut dapat diimplementasikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Kami sudah membahas pasar-pasar yang harus dimasuki untuk mencapai target tersebut. Namun, implementasinya butuh waktu dan perbaikan," imbuhnya.

Suharso juga mengonfirmasi bahwa beberapa agenda utama, seperti ketahanan pangan dan energi, sudah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) teknokratik. RPJMN tersebut akan menjadi acuan bagi semua kementerian dan lembaga untuk lima tahun ke depan, dengan harapan bahwa pelaksanaannya bisa lebih maksimal dibandingkan periode sebelumnya.

Suharso menyoroti bahwa Indonesia tidak boleh terlalu mengikuti standar kenyamanan yang dipatok oleh lembaga-lembaga internasional. Menurutnya, Indonesia perlu lebih berani untuk keluar dari zona nyaman dan kreatif dalam mencari solusi ekonomi yang sesuai dengan konteks nasional. 
 
"Ini negara kita, yang bisa membantu adalah kita sendiri. Kita harus berani lebih kreatif," tegasnya.

Dia menambahkan bahwa jika Indonesia hanya berfokus pada mengikuti nasihat internasional, maka pertumbuhan ekonomi akan stagnan di sekitar 5%. Dengan program-program yang diusulkan Prabowo, Suharso optimis bahwa Indonesia bisa mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi.

Setelah menyelesaikan tugas-tugasnya di pemerintahan, Suharso berencana kembali ke dunia bisnis, sebuah bidang yang ia sebut sebagai passion aslinya. “Saya sudah hampir 25 tahun mengabdikan diri di pemerintahan. Sekarang saatnya saya kembali menjadi businessman,” ujarnya. 
 
Meski demikian, ia mengakui bahwa dorongan untuk terlibat dalam politik di masa lalu adalah untuk membantu bangsa, namun kedepannya fokusnya akan kembali ke dunia usaha.

Tak ketinggalan, Suharsi mengusulkan pentingnya pembentukan kementerian digital untuk mengatur berbagai inovasi teknologi pemerintahan. Dengan adanya kementerian tersebut, dia yakin Indonesia bisa lebih siap menghadapi tantangan ekonomi digital di masa depan. "Menurut saya, kita harus punya Menteri Digital, Kementerian Digital, agar semuanya lebih terorganisir," tegasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa