Akurat

Prabowo Diwarisi Krisis Kelas Menengah dan Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Hefriday | 21 Oktober 2024, 16:13 WIB
Prabowo Diwarisi Krisis Kelas Menengah dan Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

AKURAT.CO Ekonom menyoroti warisan krusial yang harus dihadapi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, tantangan utama datang dari kondisi ekonomi yang diwariskan Presiden Jokowi, termasuk penurunan kelas menengah dan melemahnya daya beli, yang dapat mengancam target pertumbuhan ekonomi Prabowo sebesar 8%.

Data dari BPS dan peneliti Universitas Indonesia menunjukkan bahwa kelas menengah mengalami penurunan, yang berpotensi melemahkan konsumsi domestik. Prof. Didik memperingatkan bahwa tanpa upaya maksimal dari pemerintah, pertumbuhan ekonomi 5% mungkin sulit dicapai, apalagi target ambisius Prabowo untuk mencapai 8%. 
 
"Kondisi ini sangat tidak mudah," ujar Didik, merujuk pada pertumbuhan ekonomi yang pernah mencapai 7-8% pada tahun 1980-an.
 
 
Untuk mencapai target ambisius ini, Didik menekankan pentingnya strategi ekonomi yang kuat dan fokus pada industrialisasi berorientasi ekspor. Pada masa lalu, kebijakan ekonomi yang outward looking dan industri yang kompetitif menjadi kunci keberhasilan. 
 
Namun, saat ini Indonesia menghadapi tantangan besar dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi yang stagnan di bawah 5% selama satu dekade terakhir, serta tidak adanya sektor unggulan yang dapat memimpin pertumbuhan ekonomi.
 
Didik juga menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi yang lambat ini telah menyebabkan ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina, yang kini lebih maju dalam sektor industrinya.
 
Masalah lainnya yang diwariskan pemerintahan Jokowi adalah tingginya pengangguran terselubung. Didik mencatat banyak pekerja di Indonesia hanya bekerja rata-rata 20 jam per minggu, yang menunjukkan rendahnya produktivitas tenaga kerja.
 
Selain itu, ia juga menyoroti masalah rendahnya tax ratio, yang turun dari 12% pada era Presiden SBY menjadi sekitar 8-9% di bawah pemerintahan Jokowi. Menurutnya, rendahnya tax ratio ini menunjukkan masalah serius dalam kapasitas fiskal Indonesia, yang perlu segera diatasi agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan stabil.
 
Prof. Didik juga melihat akar dari banyak masalah ini adalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan lemahnya teknologi industri Indonesia. Ia mencontohkan Vietnam, yang berhasil menggabungkan investasi nasional dan internasional serta memperkuat teknologi industri mereka. 
 
Menurut Didik, Indonesia perlu belajar dari keberhasilan negara-negara seperti Vietnam dalam memperkuat SDM dan teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
 
Tantangan besar di masa depan, tambah Didik, adalah memastikan bahwa pemerintahan Prabowo dapat menciptakan strategi pertumbuhan jangka panjang yang tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada sektor industri yang dapat bersaing di pasar global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa