AKURAT.CO Pemanggilan calon menteri oleh Presiden Terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, menjadi langkah awal yang strategis dalam menyusun pemerintahan baru, dan membawa dampak besar terhadap pasar finansial, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.
Jika mengacu kepada tingkat domestik, proses ini dipandang sebagai upaya untuk memastikan stabilitas politik dan ekonomi melalui pembentukan kabinet yang mampu menghadapi tantangan nasional di berbagai sektor. Stabilitas politik yang tercipta dari penunjukan menteri-menteri yang kompeten akan meningkatkan kepercayaan pasar domestik, terutama para investor yang menginginkan kepastian arah kebijakan ekonomi.
Sebab apabila kabinet ini dipenuhi oleh individu yang memiliki rekam jejak baik dalam mengelola ekonomi, sektor keuangan, dan pembangunan infrastruktur, indeks harga saham gabungan (IHSG) kemungkinan akan mengalami penguatan sebagai tanda kepercayaan pasar terhadap masa depan perekonomian Indonesia.
Namun, sebaliknya, jika ada nama-nama yang dianggap kontroversial atau kurang kredibel, pasar domestik dapat merespons negatif, yang akan berdampak pada volatilitas di pasar saham dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kemudian jika beralih dari domestik ke tingkat internasional, pemanggilan calon menteri ini juga bisa menarik perhatian para pelaku pasar global dan lembaga-lembaga keuangan yang menjalin kerjasama dengan Indonesia.
Di mana mereka (masyarakat global) melihat susunan kabinet baru sebagai sinyal penting yang akan menentukan arah kebijakan ekonomi serta hubungan perdagangan dan investasi Indonesia di mata dunia. Penunjukan menteri di bidang ekonomi, keuangan, dan perdagangan akan menjadi perhatian utama bagi investor asing.
Jika kabinet yang dibentuk mampu menunjukkan visi yang jelas dalam meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global, terutama melalui kebijakan yang ramah investasi dan mendukung perkembangan industri energi terbarukan, infrastruktur, serta manufaktur, maka arus modal asing diprediksi akan mengalir deras ke Indonesia.
Sebaliknya, jika ada ketidakpastian dalam kebijakan yang mengarah pada proteksionisme atau kurang mendukung lingkungan bisnis yang kondusif, ini bisa menyebabkan investor asing menahan atau bahkan menarik investasinya, yang dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.
Tak hanya itu saja, reaksi pasar finansial internasional akan tercermin dari pergerakan mata uang rupiah dan kinerja pasar saham di Indonesia. Penunjukan menteri-menteri di bidang ekonomi dan keuangan yang memiliki reputasi baik dalam mengelola fiskal, inflasi, dan utang negara akan memberikan sinyal positif kepada pasar internasional, memperkuat rupiah, dan meningkatkan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Namun, jika kebijakan fiskal yang diambil kabinet baru dianggap tidak cukup efektif dalam mengelola utang atau menahan laju inflasi, nilai tukar rupiah dapat mengalami tekanan, yang pada akhirnya mempengaruhi daya beli domestik dan pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor-sektor tertentu juga diperkirakan akan merespons secara langsung terhadap pembentukan kabinet ini.
Sektor infrastruktur, misalnya, akan sangat bergantung pada kebijakan yang mendukung pembangunan proyek-proyek strategis di seluruh Indonesia. Jika menteri yang ditunjuk memiliki fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur, pasar konstruksi, properti, dan sektor industri terkait lainnya dapat merespons positif.
Di sisi lain, sektor energi, terutama energi terbarukan, juga akan menjadi kunci perhatian investor internasional, mengingat transisi energi menjadi isu global yang sangat penting. Pemilihan menteri energi yang proaktif dalam mendorong pengembangan energi hijau dapat menarik minat investor asing, sementara kebijakan yang stagnan atau tidak berorientasi pada keberlanjutan dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas bisnis global.
Dengan harapan yang tinggi terhadap pemerintahan baru ini, Prabowo dan tim kabinetnya harus segera mengumumkan kebijakan yang mampu memulihkan ekonomi pasca-pandemi, meningkatkan daya saing industri, dan memperkuat infrastruktur dasar negara.
Tantangan utama mereka adalah menjaga stabilitas ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mengelola dampak perubahan iklim, sambil tetap menarik investasi asing yang diperlukan untuk memperkuat perekonomian. Dalam konteks ini, respons pasar akan menjadi tolak ukur awal keberhasilan pemerintahan Prabowo dalam mengelola transisi politik dan ekonomi.
Secara keseluruhan, pemanggilan calon menteri oleh Prabowo Subianto mencerminkan fase penting dalam upaya membentuk kabinet yang mampu membawa Indonesia menuju stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional, di mana pasar global dan lembaga keuangan mengawasi dengan cermat langkah-langkah yang diambil oleh kabinet baru ini.
Respon positif dari pasar terhadap pembentukan kabinet yang kredibel akan memberikan landasan kuat bagi pemerintahan Prabowo untuk mencapai visi ekonominya dan menjaga kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, dalam mewujudkan target-target pembangunan jangka panjang.
Respon Pelaku Pasar
Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan stabilitas ekonomi masih akan menjadi perhatian utama. Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga kepercayaan investor di tengah tantangan ekonomi global.
"Untuk posisi kunci, Pak Prabowo sepertinya akan memilih keberlanjutan, misalnya dengan mempertahankan Bu Sri Mulyani, yang akan diterima pasar karena track record-nya baik sebagai penjaga stabilitas ekonomi," ungkap Wawan saat dihubungi Akurat.co, Rabu (16/10/2024).
Namun, Wawan juga menyoroti bahwa dengan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari Presiden Prabowo, diperlukan inovasi baru dalam struktur kebijakan. "Dengan target pertumbuhan Pak Prabowo yang tinggi, maka memang dibutuhkan gebrakan dan inovasi baru," jelasnya.
Wawan memperkirakan bahwa perubahan dalam kabinet akan melibatkan wajah-wajah baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dengan pendekatan yang lebih segar dan berani. Dari sisi investor, meski stabilitas masih menjadi sorotan, mereka saat ini masih dalam fase "wait and see".
Tren penurunan suku bunga, menurut Wawan, berpotensi mendukung program-program Presiden Prabowo dari sisi pendanaan. "Tren suku bunga turun kan membantu dari sisi pendanaan untuk program-program Pak Prabowo, tetapi akan dicermati bagaimana implementasi dan dampaknya," kata Wawan.
Berbeda halnya dengan Wawan, Fixed Income dan Macro Strategist Mega capital Sekuritas, Lionel Priyadi mengatakan, itu dikarenakan nama-nama calon menteri, terkhusus yang memotori ekonomi tidak ada yang mengejutkan. "Hanya minimal, karena menterinya itu-itu saja. Tidak ada yang mengagumkan," ujar Lionel saat dihubungi di Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Meski demikian, Lionel menggarisbawahi satu sosok nama juga muncul kembali, yakni Sri Mulyani, yang juga Menteri Keuangan Presiden Joko Widodo selama dua periode. Terlebih, Sri Mulyani juga pernah menjabat di posisi yang sama pada masa pemerintahan periode pertama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia menilai kiprah Sri Mulyani selama masa jabatannya telah terbukti menggambarkan keprofesionalannya sebagai pejabat negara. "Lainnya tidak ada yang istimewa," ujar dia.
Kemudian, Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto meyakini tidak akan ada gejolak di pasar. Pasalnya, tak ada kejutan dari calon-calon menteri bidang ekonomi yang dipanggil Prabowo.
"Sentimennya secara umum positif bagi pasar, tapi karena tidak ada surprise [kejutan] sehingga ya mungkin juga akan datar-datar saja. Jadi kalau misalkan ada faktor global yang lebih dominan, faktor kabinet dalam konteks respons pasar itu jadi ternetralisir," jelas Eko di Jakarta, Selasa (15/10/2024).
Dirinya mengaku tidak heran apabila banyak menteri bidang ekonomi era Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kembali dipanggil Prabowo. Bagaimanapun, sambungnya, Prabowo menjanjikan keberlanjutan.
Sejalan dengan itu, pelaku bisnis sudah tahu rekam jejak para menteri-menteri tersebut dalam lima tahun terakhir. Oleh sebab itu, jika dilihat dari sisi stabilitas saja maka pasar akan merespons secara positif. "Di mana ketika ekonomi global, geopolitiknya tensinya sangat tinggi saat ini, terus kemudian ekonomi tetap pengen tumbuh, ya aspek stabilitas tentu diutamakan," ujar Eko.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Ekonom Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy berharap Prabowo dapat menunjukan menteri, terkhusus dalam bidang ekonomi yang berlatar belakang teknokrat. "Secara umum, menteri yang mengurusi ekonomi sedapat mungkin dari profesional. The more professionals the better tentunya, karena ini sudah tradisi sejak lama," ujar Budi.