Akurat

Trump Bakal Kenakan Sanksi Tarif 100 Persen Bagi Negara Yang Lakukan Dedolarisasi

Demi Ermansyah | 9 September 2024, 11:42 WIB
Trump Bakal Kenakan Sanksi Tarif 100 Persen Bagi Negara Yang Lakukan Dedolarisasi

AKURAT.CO Donald Trump beberapa waktu lalu memperingatkan kepada negara-negara yang mulai menghapus dolar AS (dedolarisasi) dari sistem perdagangan, akan dikenakan sanksi tarif sebesar 100% terhadap produk-produk unggulan negara tersebut. 

Di mana peringatan tersebut dikemukakan oleh Trump, sebagai bagian dari respons perkembangan ekonomi beberapa negara yang sedang bersiap-siap menghilangkan dolar dari sistem perdagangan sekaligus bagian dari janji kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat. 
 
"Kalau anda meninggalkan dolar, maka anda tidak akan bisa berbisnis sama kami (Amerika Serikat). Sebab kami akan berikan sanksi kenaikan tarif hingga 100 persen untuk beberapa komoditas unggulan kalian," ucapnya melalui lansiran bloomberg, dikutip Senin (9/9/2024).
 
 
Tak hanya itu saja, lanjut Trump, dirinya juga akan menyiapkan berbagai kebijakan untuk mengkontrol ekspor, biaya manipulasi mata uang, dan tarif. Diketahui, idealisme Trump yang dari dulu pro dengan kebijakan perdagangan proteksionis, mengatakan dolar sudah "dikepung" selama delapan tahun terakhir. 
 
Bahkan disebutkan pada tahun lalu, China, India, Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan sudah mulai membahas soal dedolarisasi. Sebaliknya, Trump menegaskan bahwasanya dolar akan tetap menjadi mata uang cadangan dunia, dan tidak ada yang bisa merubah hal tersebut. 
 
Meskipun sampai saat ini dominasi dolar mulai berkurang dalam beberapa dekade terakhir, mata uang AS nampaknya masih memegang 59% dari cadangan devisa resmi di kuartal pertama 2024, yang disusul oleh mata uang Euro di posisi kedua dengan hampir 20%, menurut Dana Moneter Internasional.
 
Wisconsin menjadi salah satu negara bagian penting dalam persaingan Trump melawan Kamala Harris dari Partai Demokrat. Keduanya sampai saat ini masih memperebutkan dukungan dari pemilih kelas pekerja di Wisconsin, yang tak nyaman dengan agenda ekonomi Presiden Joe Biden dan lebih tertarik dengan gaya populis Trump.
 
Jajak pendapat Bloomberg News/Morning Consult minggu lalu menunjukkan Harris unggul di Wisconsin dengan selisih 8 poin persentase, keunggulan terbesar di antara tujuh negara bagian yang menjadi medan pertempuran.
 
Kampanye Trump di Wisconsin ini menutup rangkaian kampanye di Pennsylvania dan North Carolina, plus singgah di New York City, tempat dia memberikan pidato yang fokus soal ekonomi dan mengadakan konferensi pers.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.