Akurat

Bank Sentral Malaysia Tahan Suku Bunga di 3 Persen, Tiru RI?

Demi Ermansyah | 6 September 2024, 10:29 WIB
Bank Sentral Malaysia Tahan Suku Bunga di 3 Persen, Tiru RI?

AKURAT.CO Bank sentral Malaysia, atau Bank Negara Malaysia (BNM), memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada Kamis (5/9/2024). Di mana pemerintahan mereka optimis terhadap pertumbuhan ekonomi negara, inflasi, dan nilai tukar mata uang.

Disebutkan suku bunga kebijakan tetap di 3%, sesuai prediksi 22 ekonom dari hasil survei Bloomberg News. Kebijakan moneter yang terakhir diubah pada Mei 2023 ini dianggap masih mendukung ekonomi dan sesuai dengan penilaian terbaru soal prospek Malaysia, menurut BNM.

Tak hanya itu saja, BNM juga memprediksi ekspor akan meningkat seiring dengan pulihnya sektor teknologi global, sementara pengeluaran pariwisata juga terus naik berkat pertumbuhan lapangan kerja dan upah yang mendorong konsumsi rumah tangga. Ekonomi Malaysia tampil cukup baik di paruh pertama tahun ini, bahkan bisa melampaui target tahunan pemerintah sebesar 4%-5%.

Baca Juga: BI dan BNM Perkuat Kerjasama LCS

Inflasi masih terkendali, dan dampak kenaikan harga solar diminimalisir lewat kebijakan yang melindungi bisnis, sehingga inflasi diperkirakan tetap di bawah 3%. Namun, inflasi ini tetap bergantung pada kebijakan pemerintah, yang sedang berusaha mengurangi defisit anggaran.

BNM lebih hati-hati dibandingkan bank sentral lainnya dalam melonggarkan kebijakan moneter, meskipun Federal Reserve AS sudah memberi sinyal akan menurunkan suku bunga. Jika Perdana Menteri Anwar Ibrahim menghapus subsidi BBM, hal itu bisa meningkatkan tekanan harga, meski penting untuk memperbaiki keuangan negara.

Sementara itu, di Asia Tenggara, Filipina menurunkan biaya pinjaman dari rekor tertinggi dalam 17 tahun, sementara Indonesia dan Thailand memberi sinyal kemungkinan melonggarkan kebijakan moneter.

BNM menambahkan bahwa prospek ekonomi Malaysia yang cerah, ditambah reformasi domestik dan inisiatif untuk mendorong investasi, akan terus mendukung nilai ringgit. Mata uang tersebut sudah stabil dari level terendah dalam 26 tahun terhadap dolar AS pada Februari dan menjadi salah satu yang terbaik di antara negara berkembang tahun ini.

Indonesia Bagaimana?

Seperti yang diketahui bersama, Bank Indonesia terus bekerja keras menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Dimana BI memutuskan kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19-20 Juni 2024.

Dengan demikian, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 5,5 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 7 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19 dan 20 Juni 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 6,25 persen," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (20/6).

Menurut Perry, keputusan mempertahankan BI Rate pada level 6,25 persen tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah serta langkah preemptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 pada 2024 dan 2025.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dan rumah tangga.

"Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, termasuk digitalisasi transaksi keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah juga terus didorong untuk meningkatkan volume transaksi dan memperluas inklusi ekonomi-keuangan digital," lanjut Perry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.