Akurat

China Pertimbangkan Refinancing KPR hingga USD5,4 Triliun

Demi Ermansyah | 2 September 2024, 18:25 WIB
China Pertimbangkan Refinancing KPR hingga USD5,4 Triliun

AKURAT.CO Pemerintah China baru-baru ini mempertimbangkan untuk mengizinkan refinancing kredit kepemilikan rumah (KPR) senilai hingga USD5,4 triliun atau sekitar Rp83,1 kuadriliun. 

Di mana langkah yang ingin diambil oleh pemerintahan China tersebut bertujuan untuk menurunkan biaya pinjaman bagi jutaan keluarga sekaligus meningkatkan konsumsi domestik.
 
Dilansir Bloomberg pada Senin (2/9/2024), para pemilik rumah bisa merundingkan kembali syarat-syarat dengan bank sebelum Januari, di mana biasanya bank menetapkan ulang bunga KPR. 
 
Bahkan para debitur KPR juga akan diizinkan untuk melakukan refinancing dengan bank lain, yang merupakan pertama kalinya sejak krisis keuangan global. Namun, belum jelas apakah kebijakan ini akan berlaku untuk semua jenis rumah.
 
Usut punya usut, hal ini dilakukan oleh pemerintah China untuk memperkuat upaya mengurangi biaya KPR setelah bank sentral mendorong dukungan tahun lalu, yang diikuti oleh bank-bank dengan pemotongan suku bunga. 
 
 
Meskipun suku bunga lebih rendah, yang berdampak pada penurunan profitabilitas bank milik negara di China, otoritas kini menghadapi tekanan untuk menghentikan perlambatan ekonomi yang dipicu oleh sektor perumahan di negara dengan ekonomi terbesar di Asia tersebut.
 
Menanggapi hal tersebut, Kepala Riset properti China di CGS International Securities, Raymond Cheng menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa pemerintah pusat sedang memperkuat upaya untuk mendukung perekonomian secara keseluruhan, melindungi kekayaan rumah tangga, dan mendorong konsumsi. 
 
"Ini juga secara tidak langsung akan membantu sektor real estate," ujarnya.
 
Senada dengan Raymond, Ekonom dari Jefferies Financial Group, Shujin Chen memperkirakan bahwa kebijakan refinancing ini dapat memangkas suku bunga pada hipotek yang ada hingga maksimum 1 poin persentase, menghemat sekitar CNY300 miliar bagi pemilik rumah.
 
Kebijakan tegas China dalam menurunkan biaya hipotek selama beberapa tahun terakhir sebagian besar membantu pembeli properti baru. Suku bunga utama untuk jangka panjang, yang menjadi tolok ukur KPR lima tahun, dipangkas menjadi 3,85% pada Juli. Pada bulan Mei, bank sentral menghapus batas bawah suku bunga hipotek nasional untuk pembelian rumah pertama dan kedua.
 
Beberapa kota besar sebelumnya telah mengizinkan pembeli yang pernah memiliki KPR, meskipun sudah dilunasi, untuk memenuhi syarat mendapatkan suku bunga yang lebih rendah. Perbedaan ini mendorong gelombang pelunasan KPR awal yang telah membebani pemberi pinjaman dalam beberapa tahun terakhir. Pemilik rumah telah memanfaatkan pinjaman konsumen murah untuk melunasi hipotek lebih awal, sebuah praktik yang dilarang oleh regulator.
 
Total jumlah hipotek individu yang belum dibayar di China mencapai CNY38,2 triliun (USD5,4 triliun) pada akhir Maret, dan merupakan aset utama bagi pemberi pinjaman di China. Lebih dari 90% hipotek yang belum dilunasi di China pada akhir 2021 adalah untuk rumah pertama, menurut data publik terbaru dari regulator perbankan.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.