Malaysia Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen di Akhir 2024

AKURAT.CO Malaysia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan mencapai sekitar 5% tahun ini, dengan batas atas proyeksi diperkirakan tercapai berkat peningkatan belanja konsumen dan ekspor yang melebihi ekspektasi pada kuartal kedua.
Produk domestik bruto (PDB) mengalami peningkatan sebesar 5,9% pada periode April hingga Juni dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan bank sentral dan departemen statistik dimana angka ini lebih tinggi dari estimasi awal sebesar 5,8%. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh sebesar 2,9% dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.
Dilansir Bloomberg, Gubernur Bank Negara Malaysia, Abdul Rasheed Ghaffour dalam sebuah pengarahan di Kuala Lumpur menyatakan bahwa perekonomian diperkirakan akan tumbuh pada kisaran yang lebih tinggi dari perkiraan bank sentral, yaitu antara 4% hingga 5% tahun ini.
Hasil ini menandai kedua kalinya pada tahun ini di mana capaian akhir melebihi prediksi awal, menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari yang diantisipasi untuk negara Asia Tenggara ini setelah pertumbuhan melambat menjadi 3,6% pada tahun 2023 akibat lemahnya permintaan global.
Investasi asing di sektor semikonduktor dan peningkatan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran turis dalam enam bulan pertama tahun ini telah melampaui periode yang sama pada 2019 sebelum pandemi, mendukung peningkatan konsumsi rumah tangga.
Baca Juga: Ekonomi Malaysia Menguat, Pencabutan Subsidi BBM Bisa Ditunda
Bank sentral memproyeksikan bahwa ekspansi ekonomi akan berlanjut pada paruh kedua tahun ini, didukung oleh peningkatan ekspor, belanja konsumen, serta kedatangan turis. Selain itu, proyek-proyek multi-tahun yang sedang berlangsung diperkirakan akan terus mendukung pertumbuhan investasi, termasuk pengembangan pusat data.
Permintaan global yang lebih kuat terhadap semikonduktor diperkirakan akan mendorong peningkatan ekspor listrik dan elektronik Malaysia pada tahun 2024, menurut bank sentral. Abdul Rasheed juga menyatakan bahwa tekanan harga akan meningkat pada paruh kedua tahun ini setelah pemerintah mengizinkan kenaikan harga diesel pada bulan Juni, namun dampaknya akan tetap terkendali.
Inflasi umum di Malaysia diperkirakan tidak akan melebihi 3%, kecuali jika terjadi kejutan besar, kata gubernur, seraya menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan harga rata-rata tetap berada di kisaran 2-3,5% untuk tahun ini. Suku bunga acuan bank sentral sebesar 3% masih dianggap mendukung perekonomian.
Dengan prospek pertumbuhan yang kuat dan tekanan inflasi yang terkendali meskipun meningkat pada paruh kedua 2024, Bank Negara Malaysia (BNM) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah hingga akhir tahun, menurut Lavanya Venkateswaran, ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp di Singapura.
Harga-harga konsumen di bulan Juni berada di bawah ekspektasi, meskipun pemerintah telah mencabut subsidi diesel. Pejabat terkait juga menyatakan bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menghapus subsidi bensin, khususnya RON95 yang paling banyak digunakan di negara ini.
Namun, perekonomian Malaysia masih menghadapi sejumlah risiko. Pertumbuhan ekonomi yang melambat di China, sebagai mitra dagang terbesar Malaysia, dapat berdampak negatif pada pertumbuhan Malaysia. Penurunan pengiriman ke China turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor Malaysia yang lebih lemah dari perkiraan pada bulan Juni.
Optimisme terkait perekonomian Malaysia telah memperkuat ringgit. Para analis di Citigroup Inc meningkatkan proyeksi pertumbuhan negara ini menjadi 5,2% pada bulan Juli. Bank-bank lain mungkin akan mengikuti, mengingat proyeksi median para ekonom untuk tahun ini berada di angka 4,5%.
BNM akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk mendukung stabilitas mata uang lokal, ujar Abdul Rasheed, karena risiko geopolitik global dapat mengguncang pasar. Para pembuat kebijakan Malaysia telah mendorong perusahaan-perusahaan terkait negara, dana-dana, serta sektor swasta untuk memulangkan pendapatan mereka dari luar negeri guna menopang ringgit.
Mata uang ini menjadi yang berkinerja terbaik di pasar negara berkembang tahun ini setelah mengalami rebound dari titik terendah dalam 26 tahun terakhir yang tercapai pada Februari. Para investor memperkirakan Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga pada September, yang dapat mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
"Dukungan terhadap ringgit ke depan terlihat positif. Ringgit sedang bergerak ke arah yang benar, mencerminkan fundamental ekonomi dan prospek pertumbuhan yang kuat," kata Abdul Rasheed.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










