Inflasi Jepang Melonjak, BoJ Bakal Kerek Suku Bunga?
Demi Ermansyah | 20 Juli 2024, 14:20 WIB

AKURAT.CO Inflasi Jepang dikabarkan kembali meningkat di bulan kedua berturut-turut pada bulan Juni, hal ini mendukung argumen agar pejabat bank sentral untuk segera mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan di akhir bulan nanti.
Melansir dari Bloomberg, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Jepang melaporkan bahwa indeks Harga Konsumen (IHK) tak termasuk makanan segar naik sebesar 2,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tentunya hal ini meningkat dari 2,5% di bulan Mei, sebagian besar disebabkan oleh kenaikan sedikit pada biaya energi. Angka tersebut sedikit di bawah konsensus ekonomi yang memprediksi kenaikan 2,7%, tetapi memperpanjang periode inflasi di atas target 2% dari Bank of Japan (BoJ) menjadi 27 bulan berturut-turut.
Tentunya sebagian besar mencerminkan pergerakan pada pengukur harga di Tokyo yang dirilis akhir bulan lalu, yang menunjukkan percepatan akibat harga energi yang lebih tinggi.
Kenaikan harga ini memberikan alasan bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada rapat dewan gubernur yang berakhir pada 31 Juli. Menurut survei Bloomberg bulan lalu, satu dari tiga pengamat BoJ memperkirakan bank tersebut akan menaikkan suku bunga pada bulan Juli.
BoJ juga dijadwalkan untuk mengungkap rencana pemotongan pembelian obligasi dan merilis laporan prospek ekonomi, termasuk perkiraan inflasi terbaru. Dalam edisi April, bank memproyeksikan indikator harga utama akan naik rata-rata 2,8% pada tahun fiskal ini.
Tekanan inflasi yang berkelanjutan merupakan tanda positif bagi ekonomi Jepang, yang akhir-akhir ini menunjukkan sinyal beragam. Awal bulan ini, angka Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang untuk kuartal Januari-Maret direvisi turun menjadi kontraksi yang lebih dalam, dan pengeluaran rumah tangga secara tak terduga turun dari tahun sebelumnya di bulan Mei.
Di saat yang sama, gaji pokok pekerja melonjak paling tinggi sejak 1993 sebagai tanda positif untuk prospek siklus berkelanjutan yang menghubungkan pertumbuhan upah dengan kenaikan harga yang didorong oleh permintaan. Selain itu, ekspor tumbuh selama tujuh bulan berturut-turut di bulan Juni, mendukung pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi akan sedikit pulih pada kuartal kedua.
Kenaikan harga secara nasional sebagian besar didorong oleh peningkatan harga energi setelah pemerintah menyelesaikan penghapusan subsidi utilitas. Dampaknya paling nyata pada harga gas alam, yang naik 3,7% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan penurunan 3,2% di bulan Mei.
Harga listrik kurang terpengaruh oleh berakhirnya subsidi karena basis yang lebih tinggi tahun lalu, ketika operator secara signifikan menaikkan tarif mereka sebagai tanggapan terhadap kenaikan biaya komoditas.
"Kami memperkirakan IHK inti akan tetap di atas target 2% hingga kuartal pertama 2025. Kami memperkirakan BOJ akan menaikkan target suku bunga menjadi 0,15%-0,25% pada bulan Juli dan kemudian menjadi 0,4%-0,5% pada bulan Oktober, naik dari 0%-0,1% saat ini," ungkap Taro Kimura, Ekonom dari Bloomberg Economics.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










