Akurat

Dana Asing USD300 Juta Kabur dari RI, Ekonom: Sentimen Risk Off

Silvia Nur Fajri | 5 Juli 2024, 19:24 WIB
Dana Asing USD300 Juta Kabur dari RI, Ekonom: Sentimen Risk Off

AKURAT.CO Dalam perkembangan terbaru pasar keuangan Indonesia, investor asing dilaporkan membukukan net outflow sekitar USD300 juta dari pasar saham secara tahun kalender hingga 4 Juli 2024. Selain itu, kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penurunan sekitar USD1,9 miliar. 

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, meskipun terjadi penurunan di beberapa sektor, kepemilikan investor asing pada SRBI justru meningkat sekitar Rp123,21 triliun hingga akhir Juni 2024. Menurut Josua, kondisi ini dipengaruhi oleh risk-off sentiment yang mempengaruhi pasar keuangan global yang menyebabkan keluarnya dana asing dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kemudian, Josua menjelaskan bahwa sebagian besar sentimen risk-off ini datang dari faktor global, seperti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, arah suku bunga The Fed, ketidakpastian politik di Eropa, pelemahan Yen Jepang, dan devaluasi Yuan. Di sisi domestik, investor asing sempat khawatir mengenai keberlanjutan fiskal Indonesia.

"Namun, pemerintah telah mengonfirmasi bahwa defisit fiskal dalam jangka pendek ini akan tetap prudent," ujar Josua kepada Akurat.co, Jumat (5/7/2024).

Baca Juga: Dana Asing Rp19,69 T Banjiri RI dalam Sepekan

Penguatan dolar AS terhadap mata uang utama, termasuk Rupiah, juga menjadi salah satu implikasi dari beberapa sentimen risk-off tersebut. Meskipun demikian, pelemahan Rupiah secara tahun kalender tercatat sebesar 5,4% dengan nilai tukar saat ini berada di kisaran Rp16.278 per dolar AS. 

"Ke depannya, nilai tukar Rupiah diperkirakan akan tetap stabil karena secara fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," kata Josua. 

Ia menambahkan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, dan posisi cadangan devisa yang memadai menjadi indikator kuat dari stabilitas tersebut.

Pada bulan Juni 2024, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD140,2 miliar, meningkat dari USD139,0 miliar pada bulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. 

Meskipun ada kebutuhan untuk stabilisasi Rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, cadangan devisa Indonesia cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

"Ini jauh melebihi standar kecukupan cadangan devisa internasional sekitar 3 bulan impor," tegas Josua.

Namun, Josua memperingatkan agar tetap waspada terhadap potensi berlanjutnya kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed serta dampak dari risiko global terkait situasi politik di AS dan Uni Eropa. “Risiko yang berasal dari ketidakpastian global akan tetap menjadi perhatian utama pada paruh kedua tahun 2024," jelasnya. 

Sentimen risk-off yang didorong oleh suku bunga kebijakan ‘higher for longer’ dari The Fed dan risiko politik di AS dan Uni Eropa, terutama di Prancis, dapat membatasi aliran masuk modal asing ke Indonesia.

Selain itu, ia menyebut bahwa berkurangnya surplus perdagangan akibat normalisasi harga komoditas dan melemahnya permintaan global, di samping permintaan domestik Indonesia yang kuat, menimbulkan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). "Kami memperkirakan cadangan devisa akan menurun dari USD146,4 miliar di akhir tahun 2023 menjadi sekitar USD140-142 miliar di akhir tahun 2024," ujarnya. 

Nilai tukar Rupiah diprediksi berada di kisaran Rp15.800-16.200 per USD pada akhir tahun 2024, terdepresiasi dari Rp15.397 per USD pada akhir tahun 2023.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.