Akurat

Rupiah Nanjak 47 Poin ke Rp16.365

M. Rahman | 19 Juni 2024, 15:49 WIB
Rupiah Nanjak 47 Poin ke Rp16.365

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 47 poin ke level Rp16.365 pada perdagangan Rabu, 19 Juni 2024. Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, penjualan ritel AS hampir tidak meningkat pada bulan Mei dan data untuk bulan sebelumnya direvisi jauh lebih rendah, data menunjukkan pada hari Selasa, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih lesu pada kuartal kedua.

Pasar kini memperkirakan kemungkinan sebesar 67% bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada bulan September, menurut alat CME FedWatch, dengan perkiraan penurunan sebesar hampir 50 basis poin untuk sisa tahun ini.

Sementara itu, inflasi Inggris kembali ke target Bank of England sebesar 2% pada bulan Mei untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Penurunan inflasi harga konsumen tahunan dari angka 2,3% di bulan April sejalan dengan ekspektasi median para ekonom dalam jajak pendapat Reuters dan menandai penurunan tajam dari angka tertinggi dalam 41 tahun sebesar 11,1% yang dicapai pada bulan Oktober 2022.

"Pasar memperkirakan peluang sekitar 50 persen penurunan suku bunga pertama pada bulan Agustus dan hampir setengah poin persentase pelonggaran moneter pada tahun 2024. BoE bertemu pada hari Kamis untuk membahas kebijakan suku bunga, namun diperkirakan tidak akan melakukan perubahan apa pun," ujarnya dikutip Rabu (19/6/2024).

Baca Juga: Minim Sentimen Positif, Rupiah Terjun 87 Poin ke Rp16.282

Kemudian, risalah pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ) bulan April pada hari Rabu menunjukkan para pengambil kebijakan memperdebatkan dampak melemahnya yen terhadap harga, meskipun rilis tersebut tidak banyak menggerakkan pasar karena investor menantikan pertemuan BOJ berikutnya pada bulan Juli. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan pada hari Selasa bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga bulan depan tergantung pada data ekonomi yang tersedia pada saat itu.

Sentimen Internal

Dari internal, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2024 kembali mencetak surplus USD2,93 miliar, atau naik USD0,21 miliar secara bulanan. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan RI mencapai USD13,06 miliar, tercatat surplus selama 49 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus pada Mei 2024 ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan bulan yg sama tahun lalu

Sedangkan, surplus Mei 2024 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas yaitu sebesar USD4,26 miliar dengan komditas penyumbang surplus utamanya bahan bakar mineral HS 27, lemak dan minyak hewani nabati HS 15, besi dan baja HS 72. Surplus neraca perdagangan nonmigas Mei 2024 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan lalu namun lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2023.

Pada saat yg sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit USD1,33 miliar dgn komoditas penyumbang utama yaitu hasil minyak dan miyak mentah. Defisit neraca perdagangan komoditas Mei 2024 lebih rendah dari bulan lalu dan bulan yang sama tahun sebelumnya. BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2024 anjlok menjadi USD19,65 miliar, naik 13,82% dibandingkan April 2024 (month-to-month/mtm).

Peningkatan kinerja ekspor pada Mei 2024 didorong peningkatan ekspor nonmigas, terutama komoditas mesin dan perlengkapan elektronik serta bagiannya sebesar 26,66% dengan andil 1,34%, bijih logam terak dan abu sebesar 25,96% dengan andil 1,09%, kendaraan dan bagiannya sebesar 26,8% dengan andil 1%.

Sementara itu, total nilai impor Indonesia pada Mei 2024 mencapai US$19,40 miliar, naik sebesar 14,82% jika dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Nilai impor migas mengalami penurunan pada Mei 2024 sebesar 7,91% secara bulanan (mtm) menjadi USD2,75 miliar. Di sisi lain, nilai impor nonmigas mengalami peningkatan sebesar 19,7% mtm menjadi USD16,65 miliar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa