Akurat

Kena Sanksi Sana-Sini, Industri China Melambat

Demi Ermansyah | 13 Juni 2024, 18:50 WIB
Kena Sanksi Sana-Sini, Industri China Melambat

AKURAT.CO Saat Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya mengecam masuknya produk industri China seraya bersiap untuk menaikkan tarif sebagai bentuk respons. Namun ada beberapa negara yang memiliki hubungan dagang dengan China justru malah mendapatkan keuntungan dalam upaya menjinakkan inflasi tersebut.

Melansir dari Bloomberg, beberapa waktu lalu pemerintahan China merilis sebuah data indeks harga produsen (IHP) yang turun selama 20 bulan berturut-turut pada Mei, hal ini merupakan penurunan terpanjang sejak periode 2012 hingga 2016.

Harga yang lebih rendah tersebut mengalir ke luar negeri. Pengiriman melonjak sementara harga ekspor turun sekitar 14% sejak awal 2023. Meskipun penurunan tersebut menekan margin keuntungan produsen China dan memicu ketegangan perdagangan dengan AS dan negara lain, hal tersebur justru membantu bank sentral di banyak negara berkembang mengendalikan tekanan harga.

Baca Juga: Inflasi China Mei 2024 Naik ke 0,3 Persen Secara Tahunan

Ekonomi yang paling diuntungkan adalah mereka yang paling bergantung pada impor barang industri dari China, terutama untuk barang-barang yang terkait dengan pasar perumahan yang mengalami penurunan harga tertajam.

Menurut Ekonom Senior American Enterprise, Steven Kamin menjelaskan bahwa masalah disinflasi ini adalah pedang bermata dua, di satu sisi negara-negara dapat menghargai efek disinflasi karena mereka mencoba mengendalikan inflasi mereka sendiri. "Namun di saat yang sama, penetrasi impor oleh China pada akhirnya hanya akan menyebabkan banyak tekanan balik pada politik," ucapnya.

Dalam sebuah makalah untuk The Fed yang ditulis oleh Kamin nenjelaskan pasca China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) pada 2001 yang menunjukkan hubungan antara deflasi global dan ekspor murah China. Efeknya semakin membesar sejak saat itu, katanya.

Kemudian tren ini memungkinkan tidak akan berubah dalam waktu dekat. Sebab China terjebak dalam periode deflasi di tengah permintaan lokal yang lemah dan penurunan properti, membuat para pembuat kebijakan bergantung pada penjualan luar negeri yang kuat untuk memenuhi target pertumbuhan mereka.

Komposisi pelanggannya sedang berubah. Pengiriman China ke negara-negara ekonomi maju menyumbang sekitar 56% dari total pada tahun 2023, turun dari 63% dekade lalu, dengan proporsi ke AS menurun menjadi sekitar 13% dari 20% selama periode itu, menurut perhitungan oleh Bloomberg News berdasarkan data dari Dana Moneter Internasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.