Pemerintah Kebut 3 Perjanjian Perdagangan Bebas, RI Bakal Punya 43 Mitra Dagang
Demi Ermansyah | 30 Mei 2024, 18:35 WIB

AKURAT.CO Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kembali menargetkan penyelesaian tiga perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) tahun ini. Di mana perjanjian-perjanjian tersebut dianggap penting untuk menghindari potensi defisit ganda, yaitu defisit neraca pembayaran dan defisit neraca fiskal.
Menurut Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, lewat FTA tersebut nantinya para pemangku kepentingan untuk tidak terlalu khawatir mengenai defisit. Sebab tantangan ekonomi nasional lebih disebabkan oleh tekanan eksternal, bukan masalah internal.
"Masalahnya bukan di internal, masalahnya karena tekanan eksternal. Semua mata uang di dunia sedang melemah karena kebijakan di Amerika Serikat," ucapnya di sela update kerjasama internasional bersama media di Jakarta, Kamis (30/5/2024).
Lebih lanjut dirinya memaparkan bahwa pihaknya sedang melakukan perluasan mitra dagang melalui politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif, hal ini menandakan bahwa mitra dagang paham bahwa Indonesia bersikap non blok.
Lebih lanjut dirinya menekankan bahwa kerja sama yang saling menguntungkan adalah prioritas utama dalam memperluas mitra dagang internasional. Oleh karena itu, pemerintah akan segera memilih negara yang lebih atraktif dari mitra-mitra saat ini.
"Masih ada tiga perjanjian dagang bebas yang ditargetkan selesai tahun ini, yaitu Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA), Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia, serta Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP)," katanya.
Ketiga perjanjian ini, lanjutnya, akan meningkatkan jumlah mitra dagang Indonesia menjadi 43 negara, yang terdiri dari 27 dari Uni Eropa, 11 dari CPTPP, dan lima dari Uni Ekonomi Eurasia. Pihaknya memperkirakan IEU-CEPA dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 0,19% dan menambah pendapatan negara hingga USD2,8 miliar.
"Selain itu, ekspor ke negara-negara Eropa dapat tumbuh hingga 57,76 persen. Pada 2023, ekspor Indonesia ke Uni Ekonomi Eurasia tercatat sebesar USD1,1 miliar, sementara impornya mencapai USD 2,7 miliar. Produk ekspor utama Indonesia ke Uni Ekonomi Eurasia pada 2023 meliputi minyak sawit, kopra, perangkat televisi, serta mesin dan peralatan listrik. Sedangkan, produk impor utamanya adalah batu bara, pupuk, produk setengah jadi besi baja bukan paduan, dan gandum," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










