Akurat

Tren Penguatan Dolar, Pengamat: Pemerintah Perlu Lebih Proaktif Jaga Kepercayaan Pasar

Yosi Winosa | 22 April 2024, 15:19 WIB
Tren Penguatan Dolar, Pengamat: Pemerintah Perlu Lebih Proaktif Jaga Kepercayaan Pasar

AKURAT.CO Di tengah dinamika ekonomi global, tahun 1998 menjadi pijakan bagi refleksi menyeluruh terhadap tantangan fiskal yang dihadapi saat ini.

Dengan kurs yang kini mencapai Rp16.200, Dosen Universitas Pamadina Wijianto Samirin, menyatakan bahwa memprediksi pergerakan kurs merupakan tugas yang sangat sulit bagi BI maupun pemerintah.

"Dalam menghadapi kondisi ini, kita perlu memberikan kejelasan dan konsistensi," ujarnya dalam diskusi bertajuk Dampak kebijakan ekonomi politik di tengah perang Israel secara Virtual, Senin (22/4/2024).

Baca Juga: Pasar Merespons Positif Putusan MK, Rupiah Nanjak 23 Poin ke Rp16.237

"Ketika pemerintah tak memberikan respons yang memadai terhadap pasar, kepercayaan pasar bisa terkikis," tambahnya.

Menyikapi hal ini, menurutnya perlu ada langkah-langkah konkret dari pemerintah untuk membangun kembali kepercayaan pasar. Ia mengungkapkan, hal pertama yang harus dilakukan adalah membangun kepercayaan investor dan publik. 

"Kita tinggal di era informasi yang sangat transparan. Kita harus bertindak nyata, bukan hanya dengan membangun narasi," ungkapnya.

Salah satu masalah yang menjadi sorotan adalah kebijakan fiskal yang efisien dan berorientasi pada peningkatan produktivitas ekonomi. 

"Pemerintah harus menyusun APBN yang efisien, Kebijakan populis yang tidak berdampak pada produktivitas harus dihindari," jelas Wijianto.

Selanjutnya, kondisi fiskal yang belum stabil juga berdampak pada pasar finansial, seperti yang tercermin dalam naiknya harga emas. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar kepada ekonomi mulai berkurang.

"Investor mulai mencari aset alternatif yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti dolar AS atau emas," imbuhnya.

Dalam menghadapi tantangan ini, menurutnya, respons pemerintah harus lebih antisipatif. "Jangan menunggu masalah datang baru merespons. Kita perlu bertindak lebih proaktif untuk menjaga keseimbangan dan kepercayaan pasar," tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.