Akurat

Ini Pihak yang Paling Diuntungkan dari Pelemahan Rupiah

Silvia Nur Fajri | 17 April 2024, 19:23 WIB
Ini Pihak yang Paling Diuntungkan dari Pelemahan Rupiah

AKURAT.CO Rupiah melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS, menuju level Rp16.220 (melemah 44,5 poin) pada penutupan perdagangan Rabu, 17 April 2024.

Namun demikian, tak selamanya depresiasi atau pelemahan rupiah berdampak buruk. Nyatanya, ada beberapa pengusaha yang justru untung usai rupiah melemah.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual mengatakan salah satu yang diuntungkan dari pelemahan rupiah yakni para eksportir. Pelemahan nilai rupiah membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. 

Di sisi lain, bagi para importir situasi ini justru menjadi beban tambahan. Biaya impor meningkat akibat kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang kemungkinan akan berimbas pada peningkatan harga jual.

"Oh iya tentu saja membuat eksportir jadi menguntungkan ya karena rupiahnya melemah, tapi buat importir ya akan jadi beban ya karena kan biaya importnya akan naik gitu," jelasnya kepada Akurat.co, Rabu (17/4/2024).

Baca Juga: Rupiah Ditutup Ambruk 44 Poin ke Rp16.220 Susul Konflik Timur Tengah dan Perbaikan Data Ekonomi AS

Selain itu, bagi mereka yang memiliki utang dalam dolar AS, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan ekstra. Pembayaran utang akan meningkat dalam nilai rupiah, menambah beban keuangan.

Dengan melakukan langkah-langkah seperti hedging atau lindung nilai, perusahaan dapat mengamankan diri dari fluktuasi ekonomi yang tidak terduga.

Kemudian, pekerja migran atau PMI Indonesia di AS juga turut ketiban cuan dari pelemahan rupiah. Hal ini karena setiap 1 dolar AS penghasilan mereka nilainya lebih tinggi jika dirupiahkan ketika dolar terapresiasi atau menguat.

Menurut David, penguatan dolar AS masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan indeks dolar AS adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini disebabkan oleh ekspektasi yang solid terhadap ekonomi Amerika, yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan suku bunga oleh bank sentralnya. 

Serangan Iran akhir pekan lalu juga meningkatkan keyakinan bahwa Federal Reserve (Fed) mungkin akan menahan keputusan penurunan suku bunga, terutama jika inflasi terus meningkat.

Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, ditambah dengan kenaikan harga minyak, berpotensi memperkuat dampak inflasi yang tinggi, sehingga Fed kemungkinan tidak akan terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. 

"Meskipun faktor geopolitik memainkan peran penting, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral juga merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan," ungkapnya kepada Akurat.co, Rabu (17/4/2024).

Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menjelaskan serangan Iran ke Israel memicu lonjakan harga minyak mentah.

Indonesia, sebagai produsen minyak terbesar ke-7, terancam oleh ketidakpastian produksi dari Iran. Investor cenderung beralih ke aset aman seperti emas dan dolar AS, memperlemah kurs rupiah. 

"Serangan Iran ke Israel telah menciptakan gejolak pasar minyak mentah, dengan harga melonjak hingga mencapai 85,6 dolar AS per barel atau meningkat 4,4 persen secara year on year," ungkap Bhima kepada akurat, Rabu (17/4/2024).

Gangguan ekspor diperkirakan memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi, sementara suku bunga tinggi berpotensi berlanjut, mempengaruhi konsumen yang ingin mendapatkan kredit kendaraan atau rumah.

Dari sisi dampaknya ke pelaku usaha, Bhima menilai perusahaan yang tidak melakukan hedging menghadapi risiko yang paling besar karena terjadi ketidaksesuaian antara pendapatan dalam rupiah dan pembayaran utang dalam valuta asing. 

Bagi perusahaan-perusahaan yang rentan terhadap fluktuasi valas, dampaknya dapat berujung pada penurunan signifikan dalam arus kas, bahkan mungkin memaksa mereka untuk melakukan efisiensi dalam jumlah karyawan untuk bertahan.

"Perusahaan yang tidak lakukan hedging memiliki risiko paling besar karena ada missmatch pendapatan rupiah," tandasnya.

Sementara itu Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardade menilai dampak pelemahan rupiah bisa meluas ke ekonomi Indonesia baik secara langsung maupun tak langsung.

"Konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global, memicu investasi pada aset safe haven seperti dolar AS, yang dapat melemahkan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah, kata Josua Kepada Akurat.co, Rabu (17/4/2024).

Kemudian, Josua juga menyoroti dampaknya pada ekonomi Indonesia, dengan mengatakan, kenaikan harga minyak global dapat memicu inflasi yang tinggi, menekan nilai rupiah melalui tekanan inflasi impor dan defisit perdagangan yang memperlebar defisit transaksi berjalan.

Selain itu, ia mengungkapkan eskalasi konflik juga berpotensi memengaruhi pasar keuangan Indonesia, dengan investor cenderung menarik dana dari aset berisiko tinggi. 

"Aliran modal keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia dapat merugikan nilai Rupiah dan stabilitas pasar keuangan domestik," jelas Josua.

Meski demikian, Josua memprediksi skenario ke depan, dengan menyatakan, pernyataan dari pejabat Israel, Iran, dan Amerika Serikat menunjukkan kemungkinan eskalasi konflik tetap terbatas. 

"Harga minyak diperkirakan akan kembali stabil, meredakan tekanan terhadap rupiah," ucapnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.