Rupiah Akhirnya Menguat 14 Poin ke Rp15.704 Usai Rilis Data PCE AS yang Melemah

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 14 poin ke Rp15.704 pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 1 Maret 2024 usai rilis data indeks harga PCE AS yang turun.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah terdorong sentimen eksternal dan internal.
Dari eksternal, data PCE menempatkan penurunan suku bunga di bulan Juni sebagai fokus, namun risiko tetap ada Data indeks harga PCE ukuran inflasi pilihan The Fed turun seperti yang diharapkan pada bulan Januari, data menunjukkan pada hari Kamis.
Baca Juga: Rupiah Kembali Turun 27 Poin ke Rp15.719 Jelang Rilis Data PCE AS Nanti Malam
Angka tersebut memicu harapan bahwa inflasi akan turun dalam beberapa bulan mendatang dan memberikan dorongan yang cukup bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga pada bulan Juni.
Namun alat CME Fedwatch menunjukkan para pedagang hanya sedikit meningkatkan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga pada bulan Juni, sementara pertaruhan untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
"Sejumlah pejabat Fed juga memperingatkan bahwa inflasi yang tinggi akan membuat bank sentral tidak terburu-buru untuk mulai melonggarkan kebijakannya yang menunjukkan bahwa kenaikan inflasi di masa depan kemungkinan akan mengurangi prospek penurunan suku bunga di bulan Juni," ujar Ibrahim dikutip Jumat (1/3/2024).
Sementara itu data resmi PMI menunjukkan sektor manufaktur China menyusut selama lima bulan berturut-turut di bulan Februari.
Data yang lemah ini sebagian besar mengimbangi data yang menunjukkan beberapa perbaikan dalam aktivitas non-manufaktur, meskipun peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh belanja konsumen yang lebih tinggi selama liburan Tahun Baru Imlek sebuah tren yang mungkin akan berkurang dalam beberapa bulan mendatang.
Survei swasta terpisah menunjukkan sektor manufaktur China berkembang pada bulan Februari. Namun data resmi menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur terbesar China masih berada di bawah tekanan akibat lemahnya permintaan lokal dan luar negeri.
Sentimen Internal Rupiah
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2024 inflasi sebesar 0,37% secara bulanan (mtm) dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,58. Sedangkan, tingkat inflasi tahun ke tahun (Februari 2024 terhadap Februari 2023) tercatat 2,75% dan tingkat inflasi tahun kalender (Februari 2024 terhadap Desember 2023) sebesar 0,41%.
Tingkat inflasi bulanan Februari 2024 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama di tahun lalu. Penyumbang inflasi terbesar pada Januari 2024 berdasarkan kelompok pengeluaran adalah makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi sebesar 1% mtm dengan andil 0,29%.
Dengan komoditas penyumbang inflasi terbesar, yaitu beras dengan andil inflasi 0,21%, cabai merah 0,09%, telur ayam ras 0,04%, serta komoditas daging ayam ras 0,02%. Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,04%, tomat 0,03%, serta cabai rawit 0,02%.
Selanjutnya, sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, terdapat 26 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 12 provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Februari 2024 terjadi di Provinsi Sumatra Barat sebesar 1,17%. Sedangkan deflasi terdalam terjadi di Provinsi Maluku sebesar 1,19%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










