Akurat Logo

Rupiah Turun Lagi 14 Poin Usai BI Rate Ditahan

M. Rahman | 21 Desember 2023, 16:21 WIB
Rupiah Turun Lagi 14 Poin Usai BI Rate Ditahan

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 14 poin ke level Rp15.525 pada perdagangan Kamis, 21 Desember 2023 saat BI mempertahankan BI rate di 6%.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen internal dan eksternal.

Dari internal, BI mempertahankan suku bunga acuannya di 6%. Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan ini tetap konsisten dengan kebijakan moneter yang prostability, untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3,0 plus minus 1% pada 2023 dan 2,5 plus minus 1% pada 2024.

Baca Juga: Rupiah Turun Tipis 5 Poin Di tengah Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Selanjutnya

Kemudian ada sejumlah faktor yang membuat BI mempertahankan suku bunga acuannya. Pertama, tingkat inflasi pada November 2023 tercatat sebesar 2,86% (yoy), cukup meningkat dari 2,56% yoy dibandingkan bulan sebelumnya. Naiknya harga bahan makanan juga tercermin dari komponen harga bergejolak yang mencatatkan inflasi sebesar 7,59% (yoy) di November 2023, peningkatan signifikan dari 5,54% (yoy) pada bulan sebelumnya. 

Kedua, dari sisi eksternal, yakni surplus perdagangan menyusut ke USD2,41 miliar di November 2023 dari USD3,48 miliar di bulan sebelumnya. Menyempitnya surplus perdagangan dipengaruhi oleh kombinasi turunnya ekspor dan meningkatnya impor selama bulan lalu.

"Ekspor merosot 8,56 persen yoy atau 0,67 persen mtm sebagai imbas dari perlambatan permintaan besi dan baja seiring dengan melemahnya daya beli untuk properti dan manufaktur di China yang menyebabkan penurunan ekspor non- migas sekitar USD167 juta," kata Ibrahim dikutip Kamis (21/12/2023).

Sentimen Eksternal Rupiah

Sementara dari sisi eksternal, beberapa pejabat Fed juga memperingatkan bahwa taruhan terhadap penurunan suku bunga lebih awal dari bank sentral terlalu optimis, mengingat tren inflasi masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%. Komentar mereka memungkinkan dolar untuk pulih dari posisi terendah dalam lima bulan pada minggu ini.

Menurut Ibrahim, taruhan penurunan suku bunga di bulan Maret tetap ada, lebih banyak data inflasi tersedia Namun meskipun ada penolakan baru-baru ini dari pejabat Fed, harga berjangka Dana Fed menunjukkan bahwa para pedagang memperkirakan peluang lebih dari 70% penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Maret 2024.

"Pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi yang akan dirilis minggu ini, dengan revisi data PDB kuartal ketiga yang akan dirilis hari ini. Kekuatan ekonomi AS memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," ujar Ibrahim.

Data klaim pengangguran mingguan juga akan dirilis pada hari Kamis, sementara pembacaan indeks harga PCE – alat pengukur inflasi pilihan The Fed – akan dirilis pada hari Jumat. Inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja merupakan poin utama yang menjadi perdebatan bagi The Fed, karena kedua sektor tersebut telah menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dalam beberapa bulan terakhir.

Di Asia, Bank Rakyat China (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya pada rekor terendah minggu ini, karena bank tersebut kesulitan menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan membendung pelemahan mata uangnya. Hal tersebut yang membuat Pasar tetap gelisah mengenai prospek ekonomi China yang terus melemah akibat krisis proferti yang sampai saat ini masih belum ada titik pemyelesaian.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa