Akurat Logo

Jelang Rilis Sejumlah Data Ekonomi AS, Rupiah Anjok 115 Poin ke Rp15.510

M. Rahman | 30 November 2023, 16:19 WIB
Jelang Rilis Sejumlah Data Ekonomi AS, Rupiah Anjok 115 Poin ke Rp15.510

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 115 poin ke level Rp15.510 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 30 November 2023 jelang rilis sejumlah data ekonomi AS termasuk data inflasi Oktober dan PDB kuartal III-2023 AS.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, pejabat Fed mengatakan bahwa penurunan inflasi baru-baru ini dan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga jerja, menunjukkan bahwa bank sentral kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut, dan bahwa pelonggaran inflasi lebih lanjut juga dapat mendorong bank tersebut untuk menurunkan suku bunganya pada tahun ini.awal tahun 2024.

Namun pasar sekarang menunggu isyarat lebih lanjut mengenai inflasi AS dari data indeks harga PCE untuk bulan Oktober, yang akan dirilis hari ini. Angka tersebut merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam sikap bank tersebut terhadap suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

"Yang juga menjadi fokus adalah pidato Ketua Fed Jerome Powell pada hari Jumat mendatang, kata-kata terakhirnya sebelum periode blackout selama dua minggu menjelang pertemuan Fed bulan Desember. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan terakhir tahun ini," kata Ibrahim dikutip Kamis (30/11/2023).

Baca Juga: Rupiah Naik 40 Poin Ke Rp15.395 Jelang Rilis Data Indeks PMI China

Selain itu, pasar juga sedang menunggu data pembacaan kedua produk domestic bruto (PDB) AS kuartal III-2023 juga akan dirilis hari ini, sementara angka PMI untuk bulan November, serta pidato Ketua Fed Jerome Powell, akan dirilis pada hari Jumat.

Kemudian, rilis data indeks manajer pembelian menunjukkan penurunan berkelanjutan dalam aktivitas manufaktur, karena mesin ekonomi terbesar Tiongkok ini berjuang menghadapi memburuknya permintaan luar negeri. Angka tersebut menyoroti berlanjutnya pelemahan perekonomian Tiongkok, karena pemulihan pasca Covid-19 gagal terwujud.

Sentimen Internal Rupiah

Keresahan dan kegelisahan Presiden Jokowi terhadap situasi perekonomian dan geopolitik global yang tengah tidak stabil, membuat pelaku pasar ikut kembali gelisah. Inflasi dan suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), China yang ekonominya melambat dan mengalami krisis properti, serta tensi geopolitik yang meningkat seperti adanya Perang Ukraina vs Rusia, dan terbaru, konflik antara Israel dan pasukan Hamas di Gaza.

Jokowi blak-blakan mengutarakan kalau ia berharap negara-negara bisa memberi kabar jika ingin berperang, agar negara lain bisa mempersiapkan diri terhadap situasi ini. Selain itu, ketidakjelasan kondisi ekonomi dan geopolitik ini membuat Jokowi ingin terus mengikuti perkembangan situasi tersebut.

Dengan demikian, Jokowi meminta untuk bersama-sama mengantisipasi dampak dari perang tersebut. Apalagi, dampak dari perang ini, bisa merembet ke berbagai aspek seperti gangguan rantai pasok global, lonjakan harga pangan, hingga lonjakan harga energi.

Tidak hanya itu, secara spesifik menekankan salah satu dampak perang, yakni perubahan iklim. Jokowi mengatakan kalau sekarang, dampaknya mulai terasa dan terlihat di beberapa aspek keseharian. Salah satunya adalah produksi pangan yang sedikit menurun.

Meskipun begitu, Jokowi tetap mensyukuri pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih stabil di tengah kondisi seperti ini. Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal-III 2023 tercatat berada di angka 4,94%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa