AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 14 poin ke level Rp15.650 pada perdagangan Rabu, 8 November 2023 di tengah penantian pasar akan komentar lanjutan The Fed soal perekonomian dan kebijakan moneter AS.
Pengamat Pasar Uang Dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah banyak ditekan sentimen eksternal dan internal.
Pasar menanti Komentar lebih lanjut Powell, Gubernur The Fed mengenai perekonomian dan kebijakan moneter AS akan menjadi fokus, terutama menyusul data nonfarm payrolls yang lebih lemah dari perkiraan pada bulan Oktober.
Baca Juga: Dipakai Untuk Stabilisasi Rupiah, Cadangan Devisa Oktober 2023 Tinggal USD133,1 M
Namun sebelum Powell, beberapa pejabat Fed, termasuk Gubernur Michelle Bowman, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dan Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mencatat bahwa inflasi masih terlalu tinggi, dan suku bunga berpotensi naik lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Bahkan jika The Fed berhenti sejenak, diperkirakan akan mulai memangkas suku bunga pada pertengahan tahun 2024.
"Bank sentral memberi isyarat bahwa suku bunga AS akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, kemungkinan besar akan tetap di atas 5% hingga akhir tahun 2024," kata Ibrahim dikutip Rabu (8/11/2023).
Data berjangka dari alat CME FedWatch menunjukkan kemungkinan 15% kenaikan suku bunga lagi pada Januari 2024 dan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 22% pada Maret 2024.
Dari Asia, tanda-tanda berlanjutnya pelemahan ekonomi di China juga membuat para pedagang waspada terhadap pasar regional. Data pada hari Selasa menunjukkan bahwa ekspor China turun lebih besar dari perkiraan, sementara neraca perdagangan negara tersebut menyusut ke level terendah dalam 17 bulan pada bulan Oktober. Fokus sekarang tertuju pada data inflasi China yang akan dirilis pada hari Kamis.
Sentimen Internal Rupiah
Dari internal, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6%. Kenaikkan suku bunga ini akan berdampak terhadap berbagai sektor mulai dari properti, asuransi, sampai kredit yang disalurkan perbankan.
Meskipun begitu, perlu dipahami juga bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global, serta sebagai langkah preemptive dan forward looking untuk mitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor.
BI melakukan tindakan preemptive dan forward looking di tengah ketidakstabilan global. BI ingin mendukung kestabilan nilai rupiah di tengah volatilitas yang tinggi. Volatilitas tinggi ini bisa dilihat dari angka yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang sedang ada di angka 5%, tertinggi sejak 2007 sehingga BI tidak bisa lagi menahan suku bunga.
Ditambah lagi, beredar kabar dari Federal Reserve System (The Fed) yang merupakan Bank Sentral AS, mengatakan kalau mereka akan melakukan “jeda” dan tidak akan menaikan suku bunga.
"Pergerakan The Fed ini memang mempengaruhi bank sentral di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kendati demikian, penahanan suku bunga oleh The Fed tidak serta merta membuat mereka akan segera menurunkan suku bunga acuan," imbuh Ibrahim.
Lebih dari itu, Pelemahan rupiah terhadap dolar dalam beberapa bulan ke belakang ini masih jauh lebih baik ketimbang pelemahan yang terjadi. Kalau dilihat tahun 2019-2020 itu jauh lebih parah dibanding yang terjadi saat ini.
Sebetulnya, rupiah adalah mata uang yang performanya cukup terjaga dibanding mata uang lainnya secara year to date.
Dalam penutupan pasar sore ini, mata uang rupiah ditutup
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon










