Akurat

Paket Stimulus Ekonomi Kuartal I-2026 Belum Konkret bagi Kelas Menengah, Ini 4 Saran Ekonom

Yosi Winosa | 13 Februari 2026, 16:11 WIB
Paket Stimulus Ekonomi Kuartal I-2026 Belum Konkret bagi Kelas Menengah, Ini 4 Saran Ekonom

AKURAT.CO Paket stimulus ekonomi kuartal I-2026 yang baru diluncurkan pemerintah belum berdampak nyata bagi kelas menengah atau kaum pekerja kantoran.

Kepala Ekonom Permatabank, Josua Pardede menilai kelas menengah memang tak sepenuhnya diabaikan, tetapi memang fokus kebijakan saat ini cenderung lebih berat ke dua sisi: menjaga mobilitas dan menopang kelompok rentan.

Dalam siaran pers stimulus Idulfitri 2026, pemerintah menekankan diskon tarif transportasi dan pemberlakuan WFA pada 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026. Namun bantuan pangan yang bernilai besar justru diarahkan ke 35 juta keluarga penerima manfaat, yang jelas menyasar kelompok bawah.

Baca Juga: Mengenal 'HENRY', Si Kelas Menengah Terlihat Mapan Tapi Paling Rentan

"Artinya, kelas menengah terutama pekerja kantoran memang hanya menikmati kebijakan yang sifatnya tidak langsung, seperti kemudahan mobilitas dan fleksibilitas kerja," ujar Josua kepada Akurat.co, Kamis (12/2/2026) malam.

Kelas Menengah Hati-hati

Padahal data konsumsi dan perilaku rumah tangga menunjukkan kelas menengah sedang berada dalam fase penyesuaian. Survei Konsumen Bank Indonesia Januari 2026 mencatat porsi pendapatan untuk konsumsi turun menjadi 72,3%, sementara tabungan naik menjadi 16,5% dan cicilan relatif stabil di 11,2%.

"Ini mengindikasikan kecenderungan berhati-hati, bukan ekspansif. Kelas menengah tidak jatuh miskin, tetapi juga tidak merasa cukup aman untuk meningkatkan belanja besar. Mereka cenderung menahan konsumsi dan memperkuat cadangan," tegas Josua.

Di sisi riil, tekanan ini juga tercermin pada industri otomotif. Penjualan mobil penumpang pada 2025 terkontraksi 8,9% dan penurunan terdalam terjadi pada segmen kendaraan penumpang yang sangat terkait dengan daya beli kelas menengah.

Bahkan laporan tersebut secara eksplisit menyebut bahwa dalamnya penurunan penjualan kendaraan penumpang sejalan dengan tekanan terhadap kelas menengah. Artinya, sinyal pelemahan bukan sekadar persepsi, tetapi sudah tercermin dalam pola belanja barang tahan lama.

"Jika pertanyaannya apakah kebijakan saat ini cukup ampuh bagi kelas menengah? Jawabannya belum optimal. Diskon tiket dan WFA membantu dari sisi pengeluaran jangka pendek dan pengaturan waktu kerja, tapi tak menyentuh akar persoalan utama mereka: tekanan biaya hidup, cicilan, pajak, ketidakpastian pendapatan riil," tutur Josua.

4 Kebijakan Konkret

Josua pun menyarankan beberapa kebijakan konkret yang lebih tepat sasaran bagi kelompok ini. Setidaknya ada 4 kebijakan yang perlu segera dilaksanakan.

1. Insentif Pajak yang Lebih Terarah

Misalnya penyesuaian batas penghasilan kena pajak atau relaksasi sementara untuk pekerja formal dengan penghasilan tertentu. Ini langsung meningkatkan pendapatan yang bisa dibelanjakan tanpa menimbulkan distorsi besar.

2. Dukungan ke Cicilan Rumah dan Kendaraan Pertama

Bukan dalam bentuk subsidi luas, tetapi skema bunga lebih rendah untuk rumah pertama atau restrukturisasi ringan bagi debitur yang lancar namun terdampak perlambatan. Mengingat rasio cicilan relatif stabil namun konsumsi menurun, ruang kebijakan bisa difokuskan pada meringankan beban kewajiban tetap agar ruang konsumsi pulih.

3. Jaga Stabilitas Harga dan Biaya Administrasi

Komponen ini sering menjadi beban kelas menengah, seperti tarif pendidikan, transportasi perkotaan, dan utilitas. Kelas menengah sangat sensitif terhadap kenaikan biaya rutin yang tidak bisa ditunda.

4. Perkuat Kepastian dan Kredibilitas Kebijakan Makroekonomi

Ketidakpastian global dan domestik memengaruhi sentimen dan arus modal. Bagi kelas menengah pekerja kantoran, stabilitas ekonomi dan prospek lapangan kerja sama pentingnya dengan bantuan langsung. Rasa aman terhadap masa depan akan mendorong mereka kembali berbelanja.

Jika kelompok bawah ditopang lewat bantuan sosial dan dunia usaha ditopang lewat insentif investasi, maka kelas menengah perlu ditopang lewat kebijakan yang memperkuat pendapatan riil, mengurangi beban tetap, dan meningkatkan kepastian ekonomi. Tanpanya, mereka akan terus berada di mode bertahan, bukan tumbuh.

"Jadi, bukan berarti kelas menengah diabaikan, tetapi pendekatannya masih tidak spesifik," jelas Josua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.