Begini Tanggapan The Fed Soal Penurunan Tarif Trump Untuk China
Hefriday | 13 Mei 2025, 16:04 WIB

AKURAT.CO Kesepakatan terbaru antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk menurunkan sebagian tarif impor yang paling agresif dinilai membawa angin segar dalam meredakan ketegangan perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Namun, para pejabat Federal Reserve menyatakan bahwa tarif yang tersisa tetap tinggi dan masih berpotensi memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi.
Dikutip dari Reuters, Selasa (13/5/2025), Gubernur Federal Reserve, Adriana Kugler, menyampaikan bahwa jeda selama 90 hari atas tarif impor pada level yang sebelumnya berisiko menghentikan perdagangan bilateral merupakan langkah positif.
Dalam simposium Bank Sentral Irlandia di Dublin, ia menilai kesepakatan tersebut mampu mengurangi kemungkinan bank sentral AS harus menurunkan suku bunga akibat perlambatan ekonomi.
"Kesepakatan ini jelas menjadi perbaikan dalam konteks hubungan dagang antara kedua negara," ujar Kugler.
Namun ia mengingatkan bahwa tarif impor yang saat ini berada di angka 30% masih tergolong tinggi, dan dapat menyebabkan kenaikan harga serta perlambatan ekonomi, meski dampaknya mungkin tidak sebesar sebelumnya.
Menurut Kugler, skenario tersebut membuat outlook kebijakan moneter The Fed turut berubah.
“Outlook dasar saya berubah dalam hal sejauh mana kami perlu menggunakan instrumen kami, dan dalam skala seperti apa,” jelasnya.
Senada dengan Kugler, Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menilai kesepakatan akhir pekan tersebut akan mengurangi tekanan terhadap perekonomian AS, meskipun dampak stagflasi masih ada.
“Tarif itu masih tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, jadi tetap akan memberi dorongan stagflasi,” ujar Goolsbee kepada The New York Times.
Dampak dari kesepakatan ini juga terasa di pasar keuangan. Investor kini menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed hingga September 2025, di mana sebelumnya pemangkasan diperkirakan dimulai pada Juli tahun ini.
Ekspektasi total pemangkasan kini hanya setengah poin persentase hingga akhir tahun depan.
Seiring langkah pemerintahan Trump yang mulai mengurangi strategi tarif paling agresifnya, pasar saham AS menguat dan suku bunga naik, menurunkan risiko resesi yang dipicu oleh kebijakan perdagangan.
Pekan lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menetapkan suku bunga acuan tetap di kisaran 4,25% hingga 4,50%. Para pembuat kebijakan menyatakan belum akan mengubah arah kebijakan hingga dampak lanjutan dari tarif terhadap inflasi dan pertumbuhan menjadi lebih jelas.
Konsultan ekonomi dari firma mantan Gubernur The Fed, Larry Meyers, menyatakan bahwa jeda tarif tersebut menjadi peluang untuk menghindari kontraksi tenaga kerja yang serius, meskipun inflasi masih diperkirakan berada di atas target 2%.
Di sisi lain, Kugler juga menyoroti potensi kerugian jangka menengah dari perang dagang yang berkepanjangan, termasuk risiko reputasi AS di mata investor global.
Ia menilai pergeseran rantai pasok global bisa terjadi jika negara lain mulai memandang AS sebagai mitra dagang yang tidak lagi dapat diandalkan.
"Jika ini berlangsung lama, saya pikir dampak terhadap rantai pasok global dan kepercayaan mitra dagang menjadi hal yang perlu dicermati," katanya.
Kugler juga menambahkan bahwa kondisi ekonomi saat ini sulit diukur secara akurat karena data telah terdistorsi oleh lonjakan aktivitas perdagangan menjelang pemberlakuan tarif. Produk domestik bruto AS mengalami kontraksi pada kuartal pertama, yang sebagian besar dipicu oleh lonjakan rekor dalam impor.
“Sulit menilai laju pertumbuhan ekonomi AS yang sebenarnya saat ini,” pungkas Kugler.
Meskipun ada jeda sementara dalam perang dagang, para ekonom dan pelaku pasar masih mewaspadai dampak lanjutan dari kebijakan tarif yang belum sepenuhnya dicabut.
Kejelasan arah kebijakan perdagangan dan moneter AS ke depan masih menjadi faktor kunci dalam menjaga kestabilan ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 4Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







