Trump Siap Berikan Tarif Balasan, Akankah Lebih Manusiawi atau Sekadar Manuver Politik Saja?

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengejutkan dunia dengan kebijakan perdagangannya. Dirinya mengumumkan tarif balasan untuk semua negara, tetapi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Tentunya langkah tersebut menandai fase baru dalam strategi perdagangan AS, yang sering kali berubah-ubah di bawah kepemimpinannya.
"Kami akan menerapkannya ke semua negara, tetapi dengan cara yang sangat manusiawi," ujar Trump dikutip dari laman rueters.
Baca Juga: Donald Trump Minta USD500 Miliar dari Ukraina, Realistis atau Sekedar Manuver Politik?
Trump menambahkan bahwa tarif yang diterapkan kemungkinan lebih rendah daripada yang telah dikenakan negara lain terhadap AS selama beberapa dekade terakhir.
Dalam pernyataannya tersebut, Trump mengonfirmasi bahwa tarif sebesar 25% untuk impor mobil akan mulai berlaku pada 2 April 2025.
Selain itu, dirinya juga mengisyaratkan potensi penerapan tarif pada sektor kayu, meskipun belum ada rencana tambahan untuk sektor seperti semikonduktor atau farmasi.
Keputusan ini bisa berdampak besar pada industri otomotif global, terutama bagi negara-negara seperti Jerman, Jepang, dan Korea Selatan yang merupakan eksportir utama mobil ke AS.
Meskipun tarif hanya dikenakan pada mobil impor, efek domino terhadap rantai pasokan dan investasi industri otomotif tetap menjadi perhatian besar.
Kebijakan tarif ini memicu berbagai reaksi dari pelaku pasar dan negara mitra dagang AS.
Bahkan beberapa analis ekonomi menilai bahwa meskipun Trump menyebut kebijakan ini 'manusiawi' namun dampak yang diberikan tetap dapat menghambat arus perdagangan global dan menimbulkan ketegangan dagang baru.
Baca Juga: Trump Serang Ekonomi Venezuela! Tarif Baru Bikin Harga Minyak Naik
Ekonom dari Brookings Institution, James Carter, menilai bahwa kebijakan ini bisa menjadi langkah proteksionis yang merugikan dalam jangka panjang.
"Tarif seperti ini dapat memicu retaliasi dari negara-negara lain, yang pada akhirnya bisa merugikan produsen dan konsumen di AS sendiri," ujar Carter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







