Akurat Logo

Trump Siap Berikan Tarif Balasan, Akankah Lebih Manusiawi atau Sekadar Manuver Politik Saja?

Demi Ermansyah | 27 Maret 2025, 10:10 WIB
Trump Siap Berikan Tarif Balasan, Akankah Lebih Manusiawi atau Sekadar Manuver Politik Saja?

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengejutkan dunia dengan kebijakan perdagangannya. Dirinya mengumumkan tarif balasan untuk semua negara, tetapi dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Tentunya langkah tersebut menandai fase baru dalam strategi perdagangan AS, yang sering kali berubah-ubah di bawah kepemimpinannya.

"Kami akan menerapkannya ke semua negara, tetapi dengan cara yang sangat manusiawi," ujar Trump dikutip dari laman rueters.

Baca Juga: Donald Trump Minta USD500 Miliar dari Ukraina, Realistis atau Sekedar Manuver Politik?

Trump menambahkan bahwa tarif yang diterapkan kemungkinan lebih rendah daripada yang telah dikenakan negara lain terhadap AS selama beberapa dekade terakhir.

Dalam pernyataannya tersebut, Trump mengonfirmasi bahwa tarif sebesar 25% untuk impor mobil akan mulai berlaku pada 2 April 2025.

Selain itu, dirinya juga mengisyaratkan potensi penerapan tarif pada sektor kayu, meskipun belum ada rencana tambahan untuk sektor seperti semikonduktor atau farmasi.

Keputusan ini bisa berdampak besar pada industri otomotif global, terutama bagi negara-negara seperti Jerman, Jepang, dan Korea Selatan yang merupakan eksportir utama mobil ke AS.

Meskipun tarif hanya dikenakan pada mobil impor, efek domino terhadap rantai pasokan dan investasi industri otomotif tetap menjadi perhatian besar.

Kebijakan tarif ini memicu berbagai reaksi dari pelaku pasar dan negara mitra dagang AS.

Bahkan beberapa analis ekonomi menilai bahwa meskipun Trump menyebut kebijakan ini 'manusiawi' namun dampak yang diberikan tetap dapat menghambat arus perdagangan global dan menimbulkan ketegangan dagang baru.

Baca Juga: Trump Serang Ekonomi Venezuela! Tarif Baru Bikin Harga Minyak Naik

Ekonom dari Brookings Institution, James Carter, menilai bahwa kebijakan ini bisa menjadi langkah proteksionis yang merugikan dalam jangka panjang.

"Tarif seperti ini dapat memicu retaliasi dari negara-negara lain, yang pada akhirnya bisa merugikan produsen dan konsumen di AS sendiri," ujar Carter.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.