Reliance Industries Stop Impor Minyak Venezuela Akibat Tarif 25 Persen AS
Hefriday | 26 Maret 2025, 22:31 WIB

AKURAT.CO Reliance Industries, konglomerat asal India yang mengoperasikan kompleks kilang minyak terbesar di dunia, memutuskan untuk menghentikan impor minyak dari Venezuela.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang akan memberlakukan tarif 25% pada negara-negara yang membeli minyak mentah dari Venezuela, efektif mulai 2 April 2025.
Dikutip dari laman Pintu, Rabu (26/3/2025), sebelumnya, Reliance memperoleh izin dari otoritas AS untuk membeli minyak dari Venezuela, meskipun negara tersebut berada di bawah sanksi internasional.
Perusahaan ini biasanya mengimpor sekitar 2 juta barel minyak mentah Venezuela setiap bulan. Namun, dengan adanya ancaman tarif baru dari AS, Reliance memilih untuk menghentikan impor tersebut guna menghindari dampak finansial yang signifikan.
Langkah AS ini merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan pada rezim Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Pemerintahan Trump menuduh bahwa tindakan dan kebijakan rezim Maduro terus menimbulkan ancaman luar biasa terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS.
Tarif yang diumumkan oleh Trump tidak hanya mempengaruhi Venezuela, tetapi juga negara-negara lain yang mengimpor minyak dari Venezuela, seperti China dan India. China, sebagai pembeli terbesar minyak mentah Venezuela, diperkirakan akan merasakan dampak signifikan dari kebijakan ini.
Keputusan Reliance untuk menghentikan impor minyak Venezuela mencerminkan dampak langsung dari kebijakan tarif AS terhadap perdagangan internasional.
Meskipun perusahaan tersebut telah merencanakan pengiriman minyak Venezuela pada awal April, ketidakpastian akibat tarif baru membuat mereka memilih untuk membatalkan rencana tersebut.
Selain itu, langkah AS ini juga mempengaruhi pasar minyak global. Harga minyak mentah mengalami kenaikan karena kekhawatiran akan pasokan yang lebih ketat akibat sanksi terhadap Venezuela dan Iran.
Kontrak berjangka Brent naik 20 sen menjadi USD73,22 per barel, sementara West Texas Intermediate naik 20 sen menjadi USD69,20 per barel.
Pemerintah Venezuela mengecam tindakan AS ini, menyebutnya sebagai ilegal dan putus asa. Mereka berpendapat bahwa langkah tersebut melanggar aturan perdagangan internasional dan merupakan upaya lebih lanjut untuk mengisolasi negara tersebut dari pasar global.
Sementara itu, Chevron, perusahaan energi AS, diberikan perpanjangan waktu hingga 27 Mei untuk menghentikan operasinya di Venezuela.
Langkah ini menunjukkan pendekatan seimbang dari AS dalam menekan rezim Maduro sambil mempertimbangkan kepentingan bisnis domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









