AKURAT.CO Pertumbuhan lapangan kerja yang solid pada November 2024 membawa The Fed ke situasi yang penuh dilema.
Dengan data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan 227.000 pekerjaan baru tercipta, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan resiliensi luar biasa. Namun, peningkatan tingkat pengangguran membuat arah kebijakan moneter menjadi lebih kompleks untuk diputuskan.
Gubernur The Fed San Francisco, Mary Daly, memberikan pandangannya yang hati-hati terkait situasi ini. Dimana menurutnya pasar tenaga kerja tetap seimbang.
"Sebab setiap penganggur masih memiliki kesempatan setidaknya satu lowongan pekerjaan. Meskipun demikian mengenai kepastian mengenai dukungannya terhadap potensi pemotongan suku bunga pada bulan ini kami belum bisa memberitahunya," ucanya melalui lansiran Bloomberg, Sabtu (7/12/2024).
Seperti yang diketahui, saat ini para pemangku kepentingan sedang menghadapi tantangan untuk menentukan langkah yang tepat menjelang pertemuan di Washington pada 17-18 Desember. Sebelum mengambil keputusan, mereka akan mengevaluasi data inflasi yang akan dirilis, serta mengkaji harga konsumen, harga produsen, dan penjualan ritel.
Seperti yang diketahui, saat ini para pemangku kepentingan sedang menghadapi tantangan untuk menentukan langkah yang tepat menjelang pertemuan di Washington pada 17-18 Desember. Sebelum mengambil keputusan, mereka akan mengevaluasi data inflasi yang akan dirilis, serta mengkaji harga konsumen, harga produsen, dan penjualan ritel.
Hingga kini, The Fed telah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali, termasuk langkah signifikan sebesar setengah poin pada September lalu.
Pasar keuangan sendiri memberikan sinyal bahwa pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin lebih lanjut masih memungkinkan. Namun, opsi untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,5% hingga 4,75% juga tetap berada dalam pertimbangan.
Pasar keuangan sendiri memberikan sinyal bahwa pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin lebih lanjut masih memungkinkan. Namun, opsi untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,5% hingga 4,75% juga tetap berada dalam pertimbangan.
"Oleh karena itu diperlukannya kehati-hatian, mengingat dampak kebijakan pemerintahan mendatang juga perlu diperhitungkan secara matang," ungkapnya kembali.
Usut punya usut dilema yang sedang menghantui The Fed saat ini menunjukkan kompleksitas kebijakan moneter di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. Keputusan The Fed di penghujung tahun ini akan menjadi barometer penting bagi stabilitas ekonomi AS, sekaligus menentukan arah kebijakan di tahun 2025.
Dengan perhatian yang tertuju pada pertemuan Desember, dunia keuangan menantikan langkah besar yang akan diambil oleh bank sentral terbesar di dunia tersebut (The Fed).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









