Rupiah Ambruk 202 Poin ke Rp15.687

AKURAT.CO Rupiah turun 202 poin atau sekitar 1,3% ke level Rp15.687 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (7/10/2024).
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi ini sejalan dengan pergeseran ekspektasi investor global terhadap kebijakan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) dari bank sentral Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya diproyeksikan akan dipangkas sebanyak 75 basis poin, namun kini diperkirakan hanya 50 basis poin untuk sisa tahun 2024.
"Penurunan ekspektasi ini dipicu oleh pasar tenaga kerja AS yang kembali menunjukkan tanda-tanda pengetatan. Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS turun tak terduga menjadi 4,1 persen dari sebelumnya 4,2 persen, sementara angka Non-Farm Payrolls (NFP) meningkat menjadi 254 ribu, jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan pertumbuhan sebesar 150 ribu. Angka tersebut juga direvisi naik dari data bulan sebelumnya, menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari yang diperkirakan," paparnya Senin (7/10/2024).
Baca Juga: Dipicu Serangan Balik Iran ke Israel, Rupiah Turun ke Rp15.268
Pengetatan pasar tenaga kerja AS ini menyebabkan permintaan global terhadap dolar AS meningkat, mendorong pelemahan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama perkembangan ekonomi AS dan kondisi geopolitik yang sedang memanas di Timur Tengah.
"Ketegangan geopolitik tersebut dipicu oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran, setelah Presiden AS Joe Biden menyatakan dukungan kepada Israel untuk menargetkan fasilitas minyak Iran. Hal ini memicu kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan permintaan aset safe haven, seperti dolar AS. Akibatnya, rupiah bersama dengan mata uang lainnya harus menghadapi tekanan jual," papar Josua.
Meski demikian, pelemahan nilai tukar rupiah ini tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Beberapa sektor, terutama yang berorientasi ekspor, justru diuntungkan dengan nilai tukar yang lebih lemah, karena produk-produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, bagi sektor yang bergantung pada impor atau memiliki utang luar negeri, pelemahan rupiah menjadi tantangan tersendiri karena biaya impor dan beban pembayaran utang meningkat.
Dari perspektif ekonomi global, situasi ini mencerminkan bagaimana dinamika pasar tenaga kerja dan kebijakan suku bunga di AS dapat berdampak luas terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan menjaga cadangan devisa yang cukup serta memantau perkembangan inflasi, Indonesia diharapkan dapat mengelola dampak negatif dari pelemahan rupiah ini dan menjaga stabilitas ekonomi.
Seiring dengan perkembangan ini, investor perlu lebih berhati-hati dalam merespons dinamika pasar global. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, baik dari sisi kebijakan moneter AS maupun kondisi geopolitik, langkah mitigasi risiko sangat penting agar portofolio investasi dapat tetap aman di tengah guncangan ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










