Rupiah Menguat di Bawah Rp16.000, Ekonom: Imbas Penurunan Inflasi AS

AKURAT.CO Pasar valuta asing Indonesia menyaksikan lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang signifikan pada perdagangan Kamis, (16/5/02024).Dolar AS terdepresiasi terhadap mata uang global setelah rilis data inflasi AS pada bulan April 2024.
Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan pun melonjak 97 poin atau sebesar 0,61% menjadi Rp15.931 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.028 per dolar AS serta ditutup di level Rp15.923 atau naik 0,65%.
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, penyebab rupiah menguat adalah inflasi bulanan AS secara mengejutkan turun menjadi 0,3% mom dari 0,4% mom, lebih rendah dari ekspektasi 0,4% mom.
Baca Juga: Inflasi CPI AS Melemah, Rupiah Nanjak 104 Poin ke Rp15.923
Secara tahunan, inflasi AS juga melemah menjadi 3,4% yoy dari 3,5% yoy. Selain itu, inflasi Inti bulanan AS turun untuk pertama kalinya dalam 6 bulan, turun menjadi 0,3% mom dari 0,4% mom.
"Secara tahunan, inflasi Inti AS turun menjadi 3,6% yoy dari 3,8% yoy. Selain itu, Penjualan ritel AS melambat menjadi 0,0% mom dari 0,6% mom, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 0,4% mom, yang menyiratkan melemahnya permintaan dari sisi konsumen," katanya kepada Akurat.co, Kamis (16/5/2024).
Sentimen pasar berubah menjadi risk-on setelah data-data tersebut dirilis, meningkatkan permintaan terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang global, pasar saham, dan bahkan US Treasury (UST).
Selan itu, ia menjelaskan perdagangan sesi Asia hari ini, US Dollar Index turun secara signifikan hingga ke level 104,3, dan yield UST 10-tahun turun sebesar hingga ke level 4,33%. Kinerja pasar saham juga menguat, tercermin dari DJIA, S&P500, dan NASDAQ yang masing-masing menguat sebesar 0,88%, 1,17%, dan 1,40%.
Dengan pelemahan dollar indeks tersebut, menurut Josua nilai tukar rupiah cenderung menguat pada perdagangan hari Rabu ini dan bahkan sudah berada di level 15.943 per dolar AS. Selain itu, yield obligasi pemerintah (SUN) dengan tenor 10 tahun juga turun hingga 6,94% sejalan dengan penurunan yield US Treasury.
Namun, ia mengungkapkan dalam jangka pendek, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh faktor sentimen yang berkembang di pasar keuangan global antara lain tensi geopolitik dan arah suku bunga AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 3Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 4Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 5Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 6Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 9OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya
- 10Sidang Sudewo Ricuh, KPK Tegaskan Tuntutan Disusun Berdasarkan Fakta






