Akurat Logo

Rupiah Menguat di Bawah Rp16.000, Ekonom: Imbas Penurunan Inflasi AS

Silvia Nur Fajri | 16 Mei 2024, 17:19 WIB
Rupiah Menguat di Bawah Rp16.000, Ekonom: Imbas Penurunan Inflasi AS

AKURAT.CO Pasar valuta asing Indonesia menyaksikan lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang signifikan pada perdagangan Kamis, (16/5/02024).Dolar AS terdepresiasi terhadap mata uang global setelah rilis data inflasi AS pada bulan April 2024.

Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan pun melonjak 97 poin atau sebesar 0,61% menjadi Rp15.931 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.028 per dolar AS serta ditutup di level Rp15.923 atau naik 0,65%.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, penyebab rupiah menguat adalah inflasi bulanan AS secara mengejutkan turun menjadi 0,3% mom dari 0,4% mom, lebih rendah dari ekspektasi 0,4% mom.

Baca Juga: Inflasi CPI AS Melemah, Rupiah Nanjak 104 Poin ke Rp15.923

Secara tahunan, inflasi AS juga melemah menjadi 3,4% yoy dari 3,5% yoy. Selain itu, inflasi Inti bulanan AS turun untuk pertama kalinya dalam 6 bulan, turun menjadi 0,3% mom dari 0,4% mom. 

"Secara tahunan, inflasi Inti AS turun menjadi 3,6% yoy dari 3,8% yoy. Selain itu, Penjualan ritel AS melambat menjadi 0,0% mom dari 0,6% mom, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 0,4% mom, yang menyiratkan melemahnya permintaan dari sisi konsumen," katanya kepada Akurat.co, Kamis (16/5/2024).

Sentimen pasar berubah menjadi risk-on setelah data-data tersebut dirilis, meningkatkan permintaan terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang global, pasar saham, dan bahkan US Treasury (UST).

Selan itu, ia menjelaskan perdagangan sesi Asia hari ini, US Dollar Index turun secara signifikan hingga ke level 104,3, dan yield UST 10-tahun turun sebesar hingga ke level 4,33%. Kinerja pasar saham juga menguat, tercermin dari DJIA, S&P500, dan NASDAQ yang masing-masing menguat sebesar 0,88%, 1,17%, dan 1,40%.

Dengan pelemahan dollar indeks tersebut, menurut Josua nilai tukar rupiah cenderung menguat pada perdagangan hari Rabu ini dan bahkan sudah berada di level 15.943 per dolar AS. Selain itu, yield obligasi pemerintah (SUN) dengan tenor 10 tahun juga turun hingga 6,94% sejalan dengan penurunan yield US Treasury.

Namun, ia mengungkapkan  dalam jangka pendek, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh faktor sentimen yang berkembang di pasar keuangan global antara lain tensi geopolitik dan arah suku bunga AS.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.