Akurat

Apakah Mencium Pasangan Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Hukum dan Batasannya dalam Islam

Redaksi Akurat | 13 Februari 2026, 12:51 WIB
Apakah Mencium Pasangan Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Hukum dan Batasannya dalam Islam

AKURAT.CO Bulan Ramadan sering menjadi momentum bagi pasangan suami istri untuk belajar menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari berbagai bentuk interaksi yang berpotensi mengganggu kesempurnaan ibadah puasa.

Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul di tengah masyarakat adalah apakah mencium pasangan dapat membatalkan puasa.

Pertanyaan ini biasanya muncul dari pasangan yang baru menikah maupun pasangan yang ingin tetap menunjukkan kasih sayang tanpa khawatir puasanya menjadi tidak sah.

Di sisi lain, banyak pula yang masih ragu membedakan antara hal yang membatalkan puasa, hal yang makruh, dan hal yang masih diperbolehkan.

Baca Juga: Apakah Memakai Obat Tetes Telinga dapat Membatalkan Puasa?

Interaksi Suami Istri Saat Puasa

Dalam ajaran Islam, hubungan suami istri merupakan hal yang halal dan dianjurkan sebagai bentuk kasih sayang dalam rumah tangga. Namun, ketika memasuki waktu puasa, interaksi tersebut memiliki batasan tertentu.

Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menjaga hawa nafsu serta menahan diri dari hal-hal yang dapat mengarah pada pembatalan puasa.

Mencium pasangan menjadi salah satu bentuk interaksi yang sering dipertanyakan hukumnya.

Secara umum, para ulama menjelaskan bahwa mencium pasangan tidak secara langsung membatalkan puasa. Hal ini karena ciuman bukan termasuk dalam kategori makan, minum, atau hubungan suami istri secara langsung yang menjadi penyebab batalnya puasa.

Mengapa Ciuman Tetap Perlu Diperhatikan?

Meski tidak langsung membatalkan puasa, mencium pasangan tetap memiliki catatan penting. Dalam banyak pembahasan fikih, tindakan tersebut dinilai dapat menjadi pintu yang membuka dorongan syahwat.

Ketika ciuman memicu gairah yang berujung pada keluarnya air mani atau hubungan intim, maka puasa seseorang bisa menjadi batal.

Dilansir dari NU Online, para ulama mengelompokkan ciuman saat berpuasa ke dalam kategori yang dapat menjadi makruh apabila berpotensi membangkitkan syahwat. Artinya, perbuatan tersebut sebaiknya dihindari, terutama jika seseorang merasa sulit mengendalikan diri.

Perbedaan Kondisi Setiap Individu

Hukum mencium pasangan saat puasa tidak dipandang secara mutlak sama bagi semua orang.

Faktor kondisi pribadi sangat memengaruhi penilaian hukumnya. Seseorang yang mampu menahan diri dan tidak terdorong menuju hal yang membatalkan puasa memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan mereka yang mudah terbawa suasana.

Dalam kajian fikih, perbedaan ini sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan hawa nafsu. Ada orang yang mampu menjaga batasan meski menunjukkan kasih sayang kepada pasangan, namun ada pula yang justru kesulitan menahan diri setelah melakukan kontak fisik ringan.

Karena itu, para ulama menekankan bahwa ukuran utamanya bukan sekadar tindakan mencium, melainkan dampak yang mungkin muncul setelahnya.

Baca Juga: Bersaksi di Pengadilan, Jenni Hermoso Kembali Tegaskan Ciuman Luis Rubiales tak Konsensual

Kapan Ciuman Bisa Membatalkan Puasa?

Puasa dapat batal apabila ciuman menyebabkan keluarnya air mani akibat rangsangan. Selain itu, jika ciuman menjadi awal dari hubungan suami istri secara langsung di siang hari Ramadan, maka puasa juga dinyatakan batal dan memiliki konsekuensi hukum tertentu.

Di sinilah pentingnya kehati-hatian. Islam menekankan prinsip menjaga diri dari hal-hal yang berpotensi mengarah pada pelanggaran.

Banyak ulama menyarankan agar pasangan suami istri lebih menahan bentuk kemesraan fisik selama waktu puasa sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah yang sedang dijalankan.

Bagaimana Islam Memandang Kasih Sayang Saat Puasa?

Menariknya, Islam tidak melarang pasangan suami istri untuk tetap menunjukkan perhatian dan kasih sayang.

Bentuk kasih sayang dapat dilakukan melalui komunikasi yang baik, saling membantu aktivitas harian, hingga mempererat hubungan emosional.

Bahkan, menjaga keharmonisan rumah tangga selama Ramadan justru menjadi bagian dari ibadah.

Pasangan dianjurkan untuk memanfaatkan waktu berbuka, malam hari, dan setelah salat tarawih sebagai momen mempererat hubungan secara lebih leluasa tanpa khawatir melanggar aturan puasa.

Mengapa Banyak Ulama Menyarankan untuk Menghindarinya?

Anjuran untuk menghindari ciuman saat puasa bukan berarti melarang secara mutlak, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian.

Dalam kaidah fikih, sesuatu yang berpotensi membawa pada pelanggaran dianjurkan untuk dijauhi agar tujuan utama ibadah tetap terjaga.

Puasa bukan hanya soal menahan kebutuhan fisik, tetapi juga latihan mengendalikan diri.

Dengan menjaga batasan dalam interaksi suami istri, seseorang dapat lebih fokus pada nilai spiritual, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kualitas keimanan selama bulan Ramadan.

Bagaimana Sikap yang Paling Bijak?

Sikap yang paling dianjurkan adalah menyesuaikan dengan kondisi diri masing-masing.

Jika seseorang merasa ciuman dapat memicu syahwat dan berisiko membatalkan puasa, maka sebaiknya dihindari. Namun, jika tidak menimbulkan dorongan tersebut, sebagian ulama masih memandangnya sebagai hal yang diperbolehkan dengan tetap menjaga kehati-hatian.

Pasangan suami istri juga dianjurkan untuk saling memahami dan menjaga kesepakatan agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan sempurna tanpa menimbulkan penyesalan.

Pada akhirnya, tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang mampu mengendalikan diri, memperkuat ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Menahan diri dari hal-hal yang berpotensi mengurangi kesempurnaan puasa merupakan bagian dari proses tersebut.

Mutiara MY (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.