Akurat

Bagaimana Cara Berhenti Menyenangkan Semua Orang?

Ratu Tiara | 7 Februari 2026, 23:12 WIB
Bagaimana Cara Berhenti Menyenangkan Semua Orang?

AKURAT.CO Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi baik berarti harus selalu menyenangkan orang lain.

Akibatnya, kita sering mengorbankan perasaan, waktu, bahkan batas diri sendiri demi diterima dan tidak mengecewakan siapa pun.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat lelah secara emosional dan kehilangan jati diri.

Baca Juga: Hukum Memutus Hubungan Pertemanan yang Toxic menurut Islam

Mengapa Kita Terbiasa Menyenangkan Semua Orang?

Kebiasaan people pleasing biasanya berakar dari keinginan untuk diterima, takut ditolak, atau pengalaman masa lalu yang membuat kita belajar bahwa persetujuan orang lain adalah bentuk validasi diri.

Beberapa orang juga tumbuh di lingkungan yang menuntut untuk selalu patuh dan tidak boleh menolak.

Tanpa disadari, pola ini membuat seseorang sulit mengatakan “tidak,” merasa bersalah saat menolak permintaan, dan terus memprioritaskan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Dampak Terlalu Menyenangkan Orang Lain

Terlalu sering menyenangkan orang lain dapat berdampak pada kesehatan mental.

Seseorang bisa merasa lelah, tertekan, bahkan kehilangan arah karena hidupnya lebih banyak diatur oleh ekspektasi orang lain.

Selain itu, hubungan yang dibangun atas dasar pengorbanan sepihak cenderung tidak sehat. Orang lain terbiasa menerima tanpa memahami batas, sementara diri sendiri terus merasa tidak dihargai.

Cara Berhenti Menyenangkan Semua Orang

1. Sadari Bahwa Kamu Tidak Bisa Membahagiakan Semua Orang

Langkah pertama adalah menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan selalu puas dengan keputusan kita. Perbedaan pendapat adalah hal wajar, dan penolakan bukan berarti kita orang yang buruk.

Menyadari hal ini membantu mengurangi rasa bersalah saat harus memilih diri sendiri.

2. Belajar Mengatakan “Tidak” dengan Tegas dan Sopan

Mengatakan “tidak” bukanlah tindakan egois. Justru, ini adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kamu tidak perlu memberi alasan panjang atau pembenaran berlebihan. Kalimat sederhana seperti “maaf, aku tidak bisa” sudah cukup dan tetap sopan.

3. Kenali dan Tetapkan Batas Diri

Batas diri adalah garis yang melindungi kesehatan mental dan emosional. Dengan mengenali batas ini, kamu tahu kapan harus membantu dan kapan harus berhenti.

Menetapkan batas bukan berarti menjauhkan diri dari orang lain, melainkan menjaga hubungan agar tetap seimbang.

4. Berhenti Mengukur Nilai Diri dari Penilaian Orang Lain

Nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa sering kamu membantu atau menyenangkan orang lain. Ketika kamu mulai menghargai diri sendiri, kebutuhan untuk terus mencari validasi eksternal akan berkurang.

Fokuslah pada apa yang penting dan sesuai dengan nilai hidupmu.

5. Terima Rasa Tidak Nyaman sebagai Proses

Saat mulai berhenti menyenangkan semua orang, rasa tidak nyaman hampir pasti muncul. Kamu mungkin merasa bersalah, takut dianggap berubah, atau khawatir kehilangan hubungan. Perasaan ini adalah bagian dari proses pertumbuhan. Seiring waktu, kamu akan merasa lebih lega dan jujur pada diri sendiri.

Baca Juga: 7 Cara Menjaga Hubungan Pertemanan Di Usia Dewasa, Dijamin Awet Sampai Tua

Apakah Berhenti Menyenangkan Orang Lain Berarti Egois?

Tidak. Ada perbedaan besar antara egois dan memiliki batas diri. Egois berarti mengabaikan perasaan orang lain, sedangkan menetapkan batas berarti menghargai diri sendiri tanpa merugikan pihak lain.

Hubungan yang sehat justru dibangun dari dua individu yang sama-sama memiliki ruang dan batas yang jelas.

Berhenti menyenangkan semua orang adalah langkah penting untuk hidup yang lebih sehat dan seimbang.

Dengan mengenali batas diri dan menghargai kebutuhan sendiri, kamu bisa membangun hubungan yang lebih jujur, dewasa, dan bermakna.

Arika Yafi Fawazzain (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R