Akurat

Jangan Dipendam! Ini Cara Memahami dan Memproses Kesedihan Karena Berduka

Eko Krisyanto | 18 Juli 2025, 09:58 WIB
Jangan Dipendam! Ini Cara Memahami dan Memproses Kesedihan Karena Berduka

AKURAT.CO Kesedihan mendalam atau duka adalah respons alami yang muncul saat seseorang kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti. Perasaan ini bisa datang dalam berbagai bentuk, mulai dari kesedihan yang dalam, kemarahan, rasa kecewa, hingga kekosongan emosional yang muncul secara bersamaan dan tidak terduga.

Jika emosi-emosi tersebut dipendam atau tidak diproses dengan baik, maka dampaknya bisa berimbas pada kesehatan fisik, seperti gangguan tidur, penurunan nafsu makan, mual, bahkan sakit kepala yang berkelanjutan.

Penting untuk disadari bahwa proses berduka membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan.

Setiap orang memiliki durasi dan cara yang berbeda-beda dalam menghadapi kehilangan, ada yang pulih dalam beberapa bulan, namun ada pula yang butuh bertahun-tahun untuk bisa menerima kenyataan dan berdamai dengan rasa kehilangan tersebut.

Baca Juga: Persib Bandung Gagal Menang Lagi, Marc Klok Rasakan Kesedihan Mendalam

Beberapa Jenis Kesedihan Akan Berduka

Setiap orang memiliki pengalaman berduka yang unik, tidak mudah untuk mengategorikan proses berduka sebagai sesuatu yang “normal” atau “tidak normal.”

Meskipun demikian, terdapat beberapa bentuk duka yang bisa dikatakan menyimpang dari respons umum yang biasa terjadi.

Jenis-jenis duka ini memiliki pola emosi atau reaksi yang berbeda dari proses berduka pada umumnya, dan sering kali memerlukan perhatian khusus. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Kesedihan Antisipatif 

Jenis kesedihan ini muncul bahkan sebelum kehilangan benar-benar terjadi, biasanya saat seseorang menghadapi situasi yang tidak terhindarkan, seperti penyakit serius pada orang terdekat.

Emosi yang muncul bisa sangat membingungkan, mulai dari kemarahan, kecemasan, hingga keputusasaan. Beberapa orang bahkan menolak merasakan duka terlebih dahulu, karena merasa “belum waktunya.”

Namun, kesedihan antisipatif bisa menjadi ruang untuk mempersiapkan diri secara emosional, menyelesaikan hal-hal yang belum tuntas, atau mengucapkan perpisahan dengan cara yang bermakna.

2. Kesedihan yang Terpinggirkan

Kesedihan ini terjadi saat rasa duka yang dialami tidak diakui atau diremehkan oleh orang lain. Contohnya, saat seseorang kehilangan hewan peliharaan, pekerjaan, atau hubungan pertemanan, dan orang di sekitarnya menganggap itu bukan hal besar untuk disedihkan.

Ketika perasaan kehilangan tidak mendapat ruang untuk diungkapkan, proses berduka bisa menjadi lebih berat dan berlarut-larut.

Dukamu tetap valid, bahkan jika orang lain tidak memahaminya.

3. Kesedihan yang Rumit

Dalam banyak kasus, rasa duka akan perlahan mereda seiring waktu. Namun, pada kesedihan yang rumit, emosi kehilangan terus berlangsung dalam jangka panjang dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika kamu merasa terjebak dalam rasa sakit yang tidak kunjung mereda, sulit melanjutkan hidup, atau terus-menerus merasa hampa dan tidak berdaya, itu bisa menjadi tanda dari duka yang kompleks. Dalam kondisi ini, penting untuk mencari dukungan emosional, baik dari orang terdekat maupun profesional kesehatan mental.

Baca Juga: Verrell Bramasta Berduka, Sang Nenek Meninggal Dunia

Cara Memproses Kesedihan Saat Berduka

1. Hadapi Setiap Emosi yang Muncul

Untuk bisa pulih dan berdamai dengan kehilangan, langkah pertama adalah mengakui setiap emosi yang muncul, entah itu rasa sakit, kecewa, marah, atau bahkan sesekali bahagia karena kenangan indah.

Menekan atau menghindari emosi hanya akan menunda proses pemulihan dan bisa menjadi beban emosional yang meledak sewaktu-waktu.

Tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja. Yang penting, izinkan dirimu merasakan.

2. Ekspresikan Perasaan Lewat Cara yang Kreatif

Jika kamu merasa sulit untuk berbicara tentang duka yang kamu alami, kamu tetap bisa menyalurkan perasaanmu melalui aktivitas kreatif.

Menulis di jurnal, membuat scrapbook, melukis, atau sekadar berjalan-jalan sambil mendengarkan lagu bisa menjadi pelampiasan emosional yang sehat. Bahkan, terlibat dalam kegiatan sukarelawan pun bisa menjadi cara untuk mengalihkan energi emosionalmu ke hal yang bermakna.

3. Tidak Ada yang Berhak Mengatur Emosimu, Bahkan Dirimu Sendiri

Seringkali kita mendengar ucapan seperti, “jangan terlalu larut” atau “cukup didoakan saja.” Meskipun maksudnya baik, kenyataannya kesedihan yang kamu rasakan adalah milikmu sepenuhnya.

Tidak ada yang berhak menentukan kapan kamu harus “move on.”

Biarkan dirimu merasa tanpa harus merasa bersalah. Mau itu menangis, marah, atau merasa lega, semua valid.

Yang penting, kamu memprosesnya dengan jujur dan penuh kasih kepada diri sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R