Akurat

Apa Itu Cognitive Dissonance, Ciri-ciri, serta Penyebabnya

Eko Krisyanto | 13 Oktober 2025, 10:22 WIB
Apa Itu Cognitive Dissonance, Ciri-ciri, serta Penyebabnya

AKURAT.CO Setiap orang pasti memiliki nilai-nilai kebenaran yang diyakini dalam hidupnya, juga memiliki hak untuk bersikap atau berperilaku atas pilihan hidupnya.

Namun, pernahkah kamu merasa tidak nyaman setelah melakukan suatu hal yang tidak sejalan dengan nilai kebenaran yang diyakini? Bisa jadi kamu mengalami cognitive dissonance.

Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut terkait penjelasan cognitive dissonance, ciri-ciri, penyebab, dan contoh cognitive dissonance yang dialami pada kegiatan sehari-hari.

Baca Juga: Muak dengan Perilaku Pejabat yang Korupsi, Bolehkah Umat Islam Tidak Percaya Pemerintah?

Apa Itu Cognitive Dissonance

Cognitive dissonance, atau dalam bahasa Indonesia adalah disonansi kognitif, merupakan teori psikologi sosial oleh Leon Festhinger yang dijelaskan dalam bukunya berjudul “A Theory of Cognitive Dissonance” pada tahun 1957.

Kondisi cognitive dissonance terjadi ketika seseorang mengalami pertentangan atau ketidakselarasan antara keyakinan dengan perilaku. Ketika keyakinan tersebut tidak sejalan dengan perilakunya, maka akan muncul rasa tidak nyaman yang mendorong untuk menimalisir perasaan tersebut.

Banyak cara untuk meminimalisir perasaan tidak nyaman tersebut, mulai dari menolak kenyataan, mencari alasan pembenaran, bahkan menghindari fakta baru.

Contohnya ketika seorang perokok aktif yang tetap aktif merokok setiap hari, walau dia mengetahui bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh. Hal tersebut merupakan contoh dari cognitive dissonance karena nilai yang ia ketahui dan yakini bertentangan dengan perilakunya.

Ciri-Ciri Cognitive Dissonance

Kondisi cognitive dissonance pasti dialami oleh semua orang dalam kehidupannya sehari-hari.

Seseorang yang sedang berhadapan dengan kondisi cognitive dissonance akan memunculkan ciri-ciri berikut dengan contohnya pada kehidupan sehari-hari.

Meragukan Keputusan Sendiri

Jika seseorang mulai meragukan keputusan yang telah diambil, maka dirinya mengalami cognitive dissonance. Hal ini dikarenakan dirinya mengalami konflik batin atas perilaku dengan hal yang diyakininya.

Misalnya seseorang sadar bahwa hidup sehat merupakan hal penting untuk diterapkan, tetapi orang tersebut justru makan makanan cepat saji dibandingkan makanan sehat.

Merasa Tidak Nyaman Terhadap Keputusan Sendiri

Jika seseorang mulai merasa tidak nyaman atas perilaku yang telah dilakukan, maka orang tersebut mengalami cognitive dissonance. Hal tersebut dikarena orang tersebut mempertanyakan perilakunya yang bertentangan dengan nilai kebenaran yang diyakininya.

Contohnya ketika seseorang berada di tempat kerja dengan kebiasaan menutup-nutupi kesalahan. Batin orang tersebut akan menimbulkan rasa tidak nyaman karena perilaku yang terjadi di lingkungannya dengan nilai kebenaran yang dianutnya.

Baca Juga: Prabowo Ingatkan Kepala Daerah dari Gerindra Jaga Perilaku Usai Ricuh Demo Bupati Pati

Merasa Malu atau Bersalah

Rasa malu dapat muncul karena otak berusaha mencari keseimbangan antara nilai kebenaran yang dianut dengan perilaku yang bertentangan.

Misalnya dengan meyakini pentingnya hidup hemat, tetapi tindakannya justru menunjukkan perilaku konsumtif tanpa mempertimbangkan fungsi atau manfaat dari barang-barang yang telah dibeli.

Kesulitan Merasionalisasi Tiap Keputusan

Seseorang yang sering mengalami cognitive dissonance akan mengalami kesulitan dalam memilah tindakan benar ataupun salah, baik terhadap dirinya maupun orang lain. Bahkan seseorang justru dapat membenarkan tindakan yang tidak sepenuhnya benar.

Misalnya, seseorang mulai mewajarkan tindakan orang lain dalam berbohong, meski dirinya mengetahui bahwa tindakan tersebut salah. Dirinya akan tetap membiarkan hal tersebut terjadi untuk menghindari konflik.

Merasionalisasi dan Mewajarkan Keputusan

Sebagian orang yang mengalami perasaan tidak nyaman akibat cognitive dissonance akan mencoba merasionalisasi atau mewajarkan keputusan yang telah dilakukan agar meminimalisir perasaan bersalahnya, bahkan jika keputusan tersebut tidak sesuai dengan nilai atau logika pribadi.

Meskipun memberikan rasa tenang sementara, kebiasaan ini justru membuat seseorang sulit berkembang lebih baik apabila terus-menerus dilakukan tanpa adanya refleksi.

Penyebab Cognitive Dissonance

Cognitive dissonance tidak terjadi begitu saja, tetapi terdapat beberapa faktor atau pemicu sehingga orang mengalami cognitive dissonance.

Ekspektasi Orang Lain

Tuntutan atau ekspektasi orang lain dapat berbenturan dengan nilai pribadi. Situasi seperti ini dapat menimbulkan konflik batin karena hal tersebut dapat bertentangan dengan prinsip yang diyakini.

Kecanduan

Kecanduan menjadi suatu hal sulit untuk dihindarkan karena seseorang akan tetap melakukannya walau dia menyadari bahwa efek dari kecanduan tersebut berdampak buruk bagi kehidupannya.

Pengambilan Keputusan

Tiap orang pasti dihadapkan pada pilihan untuk mencapai solusi terbaik dengan konsekuensi berbeda-beda. Namun, seseorang dapat merasa ragu akan pilihannya, apakah pilihan tersebut benar atau tidak.

Menerima Informasi

Ketika seseorang dihadapkan pada fakta yang menentang keyakinannya, alih-alih menerima kenyataan, mereka justru mencoba membenarkan perilakunya atau menolak kebenaran dari fakta tersebut untuk mengurangi rasa bersalah atau perasaan malunya.

Dewi Triana Rahmawati (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R