Dampak Trauma Masa Kecil pada Percintaan, Penuh Kasih Sayang Sekaligus Sulit Dipercaya

AKURAT.CO Setiap orang membawa cerita masa kecilnya ke dalam kehidupan dewasa. Namun,
tidak semua cerita itu indah.
Bagi sebagian orang, masa kecil diwarnai pengalaman traumatis mulai dari kekerasan fisik, pengabaian emosional, hingga pola asuh yang tidak konsisten. Trauma semacam ini tidak berhenti di masa lalu. Hal tersebut diam-diam hidup, menempel, dan akhirnya ikut membentuk bagaimana seseorang menjalin hubungan asmara ketika dewasa.
Penelitian yang dipublikasikan di Psychopedia Journals menegaskan bahwa trauma masa kecil erat kaitannya dengan pola keterikatan dalam hubungan romantis. Orang yang pernah mengalami luka psikologis cenderung mengembangkan gaya keterikatan tidak aman, seperti anxious attachment yang selalu khawatir ditinggalkan, atau avoidant attachment yang justru memilih menjauh ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Leo Hari Ini 18 Agustus 2025: Prediksi Percintaan, Karier, Keuangan, dan Kesehatan!
Dalam beberapa kasus, trauma bahkan memunculkan gaya keterikatan disorganized, dimana seseorang bisa terlihat penuh kasih sayang tetapi sekaligus sulit dipercaya dalam waktu bersamaan.
Dampaknya terlihat jelas dalam dinamika sehari-hari. Konflik kecil dalam hubungan bisa terasa seperti ancaman besar, memicu kecemasan berlebih atau kemarahan yang meledak. Kepercayaan terhadap pasangan tidak mudah tumbuh, dan dalam banyak kasus, butuh waktu lama bahkan untuk hal-hal sederhana seperti berbagi cerita pribadi.
Trauma membuat luka lama seakan terbuka kembali setiap kali ada tanda-tanda pengabaian atau penolakan, meski hanya kecil.
Lebih jauh, trauma masa kecil juga memengaruhi tingkat kepuasan dalam hubungan. Studi lain menyebutkan bahwa individu dengan riwayat kekerasan atau pengabaian di masa kecil melaporkan kepuasan asmara yang lebih rendah dibanding mereka yang tumbuh dalam lingkungan suportif.
Trauma membentuk cara pandang terhadap cinta. Sebagian menjadi terlalu bergantung, sementara sebagian lain menutup diri rapat-rapat. Pada akhirnya, pola ini sering melahirkan siklus hubungan yang rapuh, penuh kecemasan, dan jauh dari stabilitas.
Tak berhenti di situ, trauma juga kerap berjalan beriringan dengan masalah psikologis lain,
terutama depresi.
Riset dari Cambridge University menunjukkan bahwa depresi menjadi mediator penting antara trauma masa kecil dan kualitas hubungan asmara. Artinya, ketika trauma memicu depresi, kepuasan hubungan pun menurun drastis.
Hubungan yang seharusnya menjadi tempat pulih justru berubah menjadi ladang konflik dan salah paham. Meski begitu, tidak semua orang dengan trauma masa kecil terjebak pada pola hubungan yang sama. Faktor dukungan sosial terbukti berperan besar dalam mengurangi dampak
negatif trauma.
Kehadiran pasangan yang sabar, lingkungan pertemanan yang sehat, atau bahkan dukungan dari keluarga baru bisa membantu individu dengan trauma untuk membangun hubungan yang lebih stabil. Dukungan ini berfungsi sebagai bantalan emosional yang menenangkan luka lama, sekaligus memberi ruang bagi tumbuhnya rasa percaya.
Lalu bagaimana cara mengatasinya? Para ahli menyarankan terapi dengan pendekatan trauma-informed, yang membantu seseorang mengenali pola lama dan belajar strategi baru
untuk menghadapinya.
Terapi kognitif-perilaku, misalnya, bisa mengubah cara pikir negatif yang terbentuk akibat trauma, sementara konseling pasangan dapat membantu membangun komunikasi yang lebih sehat. Kesadaran akan gaya keterikatan juga penting. Dengan mengenali apakah dirinya cenderung anxious atau avoidant, seseorang dapat memahami pola konflik yang muncul dan mencari solusi lebih efektif bersama pasangannya.
Baca Juga: Syifa Hadju Ngaku Sempat Enggak Mau Nikah, Trauma karena Anak Broken Home?
Pada akhirnya, trauma masa kecil bukanlah vonis. Namun, hal itu memang meninggalkan jejak, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi.
Kesadaran diri, dukungan dari lingkungan, serta intervensi psikologis yang tepat mampu membuka jalan menuju hubungan asmara yang lebih sehat.
Sebab, cinta yang matang tidak lahir dari luka yang belum sembuh, melainkan dari keberanian untuk menghadapi masa lalu dan memilih tumbuh bersama di masa kini.
Novi Karyanti (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








