Pubertas Kedua pada Laki-laki, Mengetahui Perubahan dan Sikap Pasangan

AKURAT.CO Istilah "pubertas kedua" sering digunakan untuk menggambarkan fase perkembangan yang dialami oleh laki-laki ketika mereka memasuki usia pertengahan hidup, biasanya antara usia 40 hingga 60 tahun.
Artikel ini akan membahas fenomena pubertas kedua pada laki-laki dan bagaimana pasangan dapat memberikan dukungan yang penting selama periode ini.
Pubertas Kedua pada Laki-laki:
-
Perubahan Fisik dan Hormonal: Pubertas kedua pada laki-laki ditandai dengan perubahan fisik dan hormonal yang mirip dengan masa pubertas awal. Penurunan kadar hormon testosteron, kelelahan, perubahan berat badan, dan penurunan stamina dapat menjadi ciri-ciri pubertas kedua.
-
Pencarian Identitas Baru: Pada fase ini, banyak laki-laki merenung tentang pencapaian hidup, tujuan, dan arti kehidupan. Mereka mungkin merasa perlu melakukan perubahan signifikan dalam karir, hubungan, atau gaya hidup untuk mengejar kebahagiaan dan pemenuhan diri.
-
Krisis Identitas: Pubertas kedua seringkali dihubungkan dengan krisis identitas di mana laki-laki mencari pemahaman lebih dalam tentang siapa mereka sebenarnya. Hal ini dapat mencakup pertanyaan tentang makna hidup, hubungan, dan kontribusi mereka dalam masyarakat.
Baca Juga: 3 Tahap Masa Puber Wanita, Usia Berapa Saja Ya?
Sikap Pasangan dalam Menyokong Pubertas Kedua:
-
Komunikasi Terbuka: Komunikasi terbuka adalah kunci dalam menyokong pasangan yang mengalami pubertas kedua. Pasangan harus menciptakan ruang di mana laki-laki dapat berbicara tentang perasaan, kekhawatiran, dan ambisi mereka tanpa takut dihakimi.
-
Empati dan Pengertian: Pasangan harus bersikap empati dan memahami perubahan yang mungkin terjadi pada laki-laki selama pubertas kedua. Menerima perasaan dan kekhawatiran mereka dengan pengertian dapat membantu membangun koneksi yang lebih kuat.
-
Dukungan dalam Perubahan Hidup: Jika pasangan memutuskan untuk membuat perubahan signifikan dalam hidup mereka, dukungan dari pasangan sangat penting. Ini bisa mencakup perubahan karir, pembaruan pendidikan, atau penyesuaian dalam hubungan.
-
Rekonsiliasi Identitas Bersama: Pasangan dapat membantu laki-laki menavigasi krisis identitas dengan meresapi kembali nilai-nilai bersama, impian, dan tujuan yang mereka miliki. Menciptakan visi bersama untuk masa depan dapat memperkuat ikatan pasangan.
-
Konseling atau Terapi: Jika diperlukan, pasangan dapat mencari bantuan profesional seperti konseling atau terapi. Ini dapat memberikan pandangan objektif dan alat yang berguna untuk mengatasi perubahan dan tantangan yang muncul selama pubertas kedua.
Kesimpulan:
Pubertas kedua pada laki-laki adalah perjalanan pribadi yang penuh kompleksitas, dan dukungan pasangan memainkan peran penting dalam membantu mereka melewati fase ini. Dengan komunikasi yang baik, empati, dan kesediaan untuk beradaptasi dengan perubahan, pasangan dapat memperkuat ikatan mereka dan tumbuh bersama selama perjalanan pubertas kedua ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









