Misteri Lautan Dan Mengapa Banyak Makhluk Raksasa Di Laut?

AKURAT.CO, Di Bumi, luas lautan lebih besar dibandingkan dengan daratan setara dengan 70 berbanding 30. Selain itu selama manusia hadir di Bumi, tercatat manusia hanya pernah mengeksploitasi 5% dari keseluruhan luas lautan. Sementara, 95% lainnya, diperkirakan luas lautan belum terjamah oleh tangan manusia.
95% wilayah laut yang belum tereksploitasi oleh manusia diperkirakan masih menyimpan hal menarik sekaligus misterius. Terlebih lagi pada dunia hewan, kehidupan di laut terdalam dan terdingin diketahui diisi oleh makhluk laut invertebrata maupun hewan bertulang belakang yang dapat mencapai ukuran raksasa.
Baca Juga: 7 Fakta Orca, Si Cerdas Pemangsa Hewan Laut
Hal itu membuat sebuah pertanyaan, mengapa terdapat banyak makhluk berukuran raksasa di lautan?
Beberapa kasus penemuan hewan laut di lautan dalam oleh para nelayan dan peneliti seperti cumi-cumi, laba-laba laut, cacing dan lainnya ditemukan dengan ukuran yang tidak wajar. Pertumbuhan ukuran beberapa spesies yang dinilai tidak wajar tersebut dapat disebut dengan Gigantisme.
Gigantisme merupakan kondisi tubuh yang mengalami kelebihan produksi hormon, hingga pertumbuhan tubuh lebih cepat dan lebih berkembang dari normalnya. Umumya tubuh yang mengalami kondisi ini akan memiliki ukuran dan berat yang lebih besar jika dibandingkan dengan normalnya.
Dalah satu kasusnya, terdapat pada seekor cumi-cumi kolosal yang ditemukan di perairan sub antartika yang memiliki 14 kali lebih panjang dari ukuran cumi-cumi normalnya. Selain itu gigantisme juga pernah terjadi di lautan pasifik dimana ditemukan spons laut yang berukuran sangat besar.
Menurut beberapa ilmuan, gigantisme terjadi di laut dalam akibat tuntutan kehidupan dengan kondisi tempat tinggal yang memiliki sumber daya terbatas.
Seperti hasil penelitian yang terdapat di dalam jurnal Biogeografi menyebutkan sebagian besar sumber daya termasuk makanan terdapat di perairan dangkal dan hanya sebagian kecil makanan yang mengalir ke perairan dalam.
Hanya makanan yang cukup besar yang mengalir ke perairan dalam. Dengan adanya tuntutan hidup yang keras, beberapa hewan laut dipaksa untuk beradaptasi. Hewan laut dituntut untuk bergerak lebih cepat dengan jangkauan berburu makanan yang lebih luas. Secara tidak langsung, hal tersebut membuat tubuh hewan di laut dalam cenderung mengalami gigantisme.
Baca Juga: Duh, Penggunaan Sunscreen Ancam Kehidupan Manusia dan Hewan Laut
Dengan tubuhnya yang besar, hewan-hewan tersebut memiliki metabolisme yang lebih efisien dan lebih baik dalam menyimpan makanan. Jadi, ketika sesuatu seperti bangkai besar hanyut ke perairan yang lebih dalam, maka predator besar dapat mengonsumsi lebih banyak dan menyimpan energi tersebut untuk waktu yang lebih lama.
Selain itu, suhu dingin yang terdapat di laut dalam juga dapat memicu gigantisme dengan memerlambat metabolisme di dalam tubuh hewan secara signifikan.
Beberapa mahluk yang berada di lautan dalam, kerap kali tumbuh dan menjadi dewasa dengan sangat lambat hingga perkembangan ukuran tubuh dapat memiliki cukup waktu untuk tumbuh lebih besar dibandingkan keadaan normalnya.
Dalam hal ini, hiu greenland yang menghuni lautan dengan suhu rendah dapat tumbuh sepanjang 7,3 meter dengan berat 1,5 ton. Pertumbuhan pada hiu greenland tersebut terjadi selama berabad-abad. Selain itu,hiu greenland dapat tumbuh sekitar 1 cm pertahun dan tidak akan mencapai kematangan seksual hingga mereka berusia sekitar 150 tahun.
Kasus yang terjadi pada hiu greenland disebabkan oleh dua faktor utama. Dua faktor utama tersebut adalah metabolisme mereka yang lambat serta jarangnya pemangsa disekitar wilayah teritorialnya.
Suhu dingin ini sangat berpengaruh meningkatkan gigantisme yang terjadi pada makhluk hidup. Beberapa kasus gigantisme semakin mudah ditemukan di lautan yang semakin dangkal di kutub yang memiliki suhu lebih dingin. (Sastra Yudha Muhidin)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






