Menegur Pakai Adab, Berikut Tata Cara Menasehati Orang Lain Dalam Islam

AKURAT.CO Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang dekat dengan perbuatan salah dan dosa. Meski begitu, memberikan teguran atau nasihat atas kesalahan orang lain merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama bila dilakukan demi kebaikan bersama.
Anjuran untuk senantiasa saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Ashr ayat 1-3;
وَالْعَصْرِۙ, اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ, اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Wal-'aṣr, Innal-insāna lafī khusr, Illal-lażīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqq, wa tawāṣau biṣ-ṣabr.
Artinya: “(1) Demi masa, (2) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr:1-3).
Baca Juga: 3 Cara Menegur Kesalahan Orang Lain Agar Tidak Timbul Rasa Benci
Dalam ayat lain, yakni dalam surat An-Nahl ayat 125, dijelaskan adab dalam menegur orang lain yang harus dilakukan dengan cara yang baik;
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Ud'u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau'iẓatil-ḥasanati wa jādil-hum billatī hiya aḥsan
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,”
Dari dua ayat diatas, menegur orang lain menjadi suatu tindakan terpuji jika dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Di sisi lain, menegur dengan cara yang salah akan menyebabkan nasehat tidak sepenuhnya sampai, bahkan menyebabkan penerima nasehat merasa tersinggung dan sakit hati.
Maka dari itu, penting untuk memerhatikan dan mengamalkan adab dalam menegur dan menasehati orang lain, sebagaimana yang diatur dalam islam sebagai berikut:
1. Perbaiki niat dalam menasehati
Dalam menasehati atau menegur kesalahan seseorang, penting untuk terlebih dahulu memerhatikan niat.
Jangan sampai ada perasaan sombong dan merasa paling benar, atau menegur karena ingin memermalukan, memojokkan, atau memermalukan seseorang melalui teguran yang diterimanya.
Dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إنَّما الأعْمالُ بالنِّيَّةِ، وإنَّما لِامْرِئٍ ما نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapatkan ganjaran sesuai niatnya,” (HR. Bukhari no. 6953).
2. Tidak menegur di depan umum
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan adab menegur orang lain di depan umum;
من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية، ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل منه فذاك،وإلا كان قد أدى الذي عليه
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasihat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasihat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Takhrij As Sunnah Libni Abi Ashim, 1097).
Baca Juga: Ingin Masuk Surga? Simak Beberapa Nasihat Rasulullah SAW
3. Gunakkan kata yang tepat dan lemah lembut
Menegur kesalahan seseorang atau memberi nasihat harus disampaikan dengan kata-kata yang baik dan tepat agar lawan bicara tidak merasa tersinggung.
Selain itu, nasihat juga harus disampaikan dengan lemah lembut, bukan dengan cacian, teriakan, ataupun nada merendahkan, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Thaha ayat 44;
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 44).
4. Tidak berprasangka buruk
Menasihati dan menegur orang lain juga harus didasari dengan kebenaran terhadap kesalahan yang dilakukannya, dan bukan berasal dari prasangka buruk semata, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Hujurat ayat 12;
اِجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS. Al-Hujurat: 12). (Yasmina Nuha)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





