Akurat Logo

Dolar AS Melemah, Mengapa Rupiah Belum Mampu Menguat?

Esha Tri Wahyuni | 5 November 2026, 07:30 WIB
Dolar AS Melemah, Mengapa Rupiah Belum Mampu Menguat?
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik global, hasil pemilihan paruh waktu AS, hingga prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan melambat.

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp18.160-Rp18.210 per USD pada perdagangan berikutnya. Sementara itu, dalam perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp18.000-Rp18.320 per USD.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.160-Rp18.210. Sedangkan dalam perdagangan minggu ini di rentang Rp18.000-Rp18.320," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga: Gejolak Pasar Saham dan Rupiah, Wamenko Dradjad Tekankan Pentingnya Mencermati Fundamental Ekonomi

Proyeksi tersebut muncul setelah rupiah mengakhiri perdagangan Rabu dengan pelemahan. Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup di level Rp18.168 per USD, melemah 8 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.160 per USD.

Padahal, mata uang Garuda sempat menunjukkan penguatan hingga 30 poin sebelum akhirnya berbalik melemah pada akhir perdagangan.

Dari sisi eksternal, lanjut Ibrahim,salah satu sentimen yang menjadi perhatian investor adalah hasil pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, termasuk kebijakan ekonomi dan regulasi di sektor teknologi.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, BI Siapkan 5 Jurus Jaga Stabilitas Nilai Tukar

"Perkembangan politik AS turut menekan indeks dolar. Investor mempertimbangkan potensi perubahan kebijakan setelah Partai Demokrat berhasil menguasai mayoritas di Kongres AS. Pelemahan dolar secara teori dapat memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah," paparnya.

Namun, lanjut Ibrahim, sentimen positif tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian di pasar global. Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan konflik antara AS-Israel dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan kepastian penyelesaian.

"Upaya mediasi yang dilakukan Qatar menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan investor. Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran masih menghadapi sejumlah hambatan," ucapnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.