Akurat Logo

Pria Bersenjata AR-15 Ditangkap Dekat Gedung Putih, Mengaku Dengar Suara Perintah Bunuh Donald Trump

Fitra Iskandar | 7 November 2026, 10:39 WIB
Pria Bersenjata AR-15 Ditangkap Dekat Gedung Putih, Mengaku Dengar Suara Perintah Bunuh Donald Trump
pria asal Venezuela ditangkap aparat Dinas Rahasia Amerika Serikat - Indiatoday

AKURAT.CO Seorang pria asal Venezuela ditangkap aparat Dinas Rahasia Amerika Serikat (US Secret Service) setelah kedapatan membawa tiga senjata api dan puluhan butir amunisi di dekat Gedung Putih. Pria tersebut dilaporkan mengaku mendengar suara yang memerintahkannya pergi ke Washington DC untuk membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Penangkapan terjadi pada Kamis malam waktu setempat, ketika seorang petugas Secret Service yang sedang berpatroli melihat sebuah mobil pikap Ford F-150 berwarna biru terparkir di Constitution Avenue, tidak jauh dari kompleks Gedung Putih.

Petugas kemudian mendekati kendaraan tersebut karena mencurigai aktivitas pengemudinya. Saat ditanya apakah membawa senjata, pria itu mengangguk dan membuat isyarat tangan menyerupai pistol.

Menurut dokumen pengaduan pidana yang diajukan ke Pengadilan Tinggi DC, pria bernama Ronny Yordrix Guanipa Chrinos itu kemudian keluar dari kendaraan dan berkomunikasi dengan petugas menggunakan Google Translate.

Ia mengaku membawa senjata karena seseorang pernah mencoba membunuhnya menggunakan senjata tersebut. Ia juga menunjukkan sebuah tas berwarna cokelat di dalam mobil yang kemudian diperiksa oleh petugas.

Tiga Senjata Api Ditemukan di Mobil Curian

Hasil penggeledahan menemukan tiga senjata api, yakni pistol mesin MAC-10, pistol Glock 43x, dan senapan serbu AR-15. Petugas juga menyita puluhan butir amunisi dari dalam kendaraan.

Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa Ford F-150 tersebut merupakan kendaraan curian yang sebelumnya dilaporkan hilang di South Carolina.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyebut Guanipa Chrinos mengaku mendengar suara-suara di kepalanya yang memerintahkannya pergi ke Washington DC dan membunuh Presiden Donald Trump.

Namun, keterangan mengenai suara yang diduga memerintahkan pembunuhan tersebut tidak tercantum dalam dokumen pernyataan tertulis perkara pidana yang diajukan ke pengadilan.

Direktur US Secret Service Sean Curran mengatakan insiden tersebut mencerminkan tingginya tingkat ancaman keamanan di sekitar Gedung Putih.

"Insiden ini mencerminkan lingkungan ancaman yang meningkat, serta terus bertambahnya jumlah individu bersenjata yang tertarik mendekati kompleks Gedung Putih," kata Curran.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.