Rupiah Tertekan, BI Siapkan 5 Jurus Jaga Stabilitas Nilai Tukar

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global.
Bank sentral tidak hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing, tetapi juga mengombinasikannya dengan kebijakan suku bunga, penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pemberian insentif lindung nilai atau hedging.
Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, pemilihan instrumen kebijakan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan sumber tekanan terhadap nilai tukar. Menurutnya, menjaga stabilitas rupiah membutuhkan ketepatan dalam menentukan instrumen yang digunakan.
Baca Juga: Caplok Asuransi Etiqa, Maybank Indonesia Mulai Beroperasi sebagai Grup Keuangan Terintegrasi
“Kapan kita fokus pada satu tools yang saat ini ataupun instrumen yang satu, dan kapan kita fokus kepada langkah-langkah yang lain ataupun instrumen yang lain,” kata Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa malam (3/11/2026).
Destry menjelaskan, mandat BI tidak sebatas menjaga stabilitas moneter, tetapi juga menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif untuk mendukung pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
Namun, stabilitas tetap menjadi prasyarat utama untuk mencapai tujuan tersebut. Sebab, iklim ekonomi yang kondusif sulit tercipta apabila nilai tukar dan kondisi pasar keuangan mengalami gejolak.
Dalam menjaga stabilitas rupiah, BI menggunakan nilai fundamental sebagai salah satu acuan dalam menentukan arah kebijakan. Meski demikian, pergerakan nilai tukar tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental karena turut dipengaruhi sentimen pasar dan berbagai perkembangan eksternal.
Baca Juga: Bank Indonesia Salurkan 32,5 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Destry mengatakan, apabila pergerakan rupiah menyimpang dari nilai fundamental akibat sentimen yang muncul secara tiba-tiba, BI dapat melakukan intervensi untuk menjaga agar nilai tukar tetap bergerak sesuai kondisi fundamentalnya.
Selain intervensi, BI juga memiliki sejumlah instrumen lain, mulai dari kebijakan suku bunga, penerbitan SRBI, hingga insentif biaya lindung nilai yang lebih terarah atau targeted hedging.
Dengan kombinasi tersebut, BI memiliki ruang untuk menyesuaikan respons kebijakan berdasarkan karakteristik tekanan yang sedang dihadapi pasar.
“Jadi, kalau ditanya apakah BI akan terus menggunakan intervensi? Ya kita pasti juga akan tetap ada untuk menjaga stabilitas di pasar, baik itu melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), atau Deliverable Forward (NDF). Dan sejauh ini kami masih melihat hasilnya cukup efektif,” ujar Destry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 4Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 5Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 6Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 7Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 8Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar







