INDEF: Krisis Trust Jadi Pemicu Investor Asing Tinggalkan RI

AKURAT.CO Tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia kembali memunculkan perdebatan mengenai faktor utama di balik keluarnya modal asing dan pelemahan aset domestik.
Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai bahwa akar persoalan bukan sekadar dinamika teknis pasar, melainkan krisis kepercayaan atau trust yang melemah secara signifikan.
Dalam pernyataannya, Didik menggambarkan kondisi pasar yang mengalami tekanan berkepanjangan. Dirinya menyebut adanya koreksi tajam pada indeks dan saham perbankan yang menurutnya mencerminkan keluarnya investor asing dari pasar Indonesia.
Salah satu ilustrasi yang ia sampaikan adalah penurunan indeks yang dinilai sangat dalam serta pelemahan signifikan saham-saham perbankan besar.
Baca Juga: Purbaya Optimis Investor Kembali Masuk, Rupiah Siap Menguat
Namun, ia menegaskan bahwa angka-angka tersebut bukan inti persoalan. Substansi utama, menurutnya, adalah hilangnya kepercayaan investor terhadap prospek dan stabilitas kebijakan ekonomi Indonesia.
“Substansi penting di balik angka-angka adalah trust yang belum hadir di pasar,” ujar Didik melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Sabtu (6/6/2026).
Didik menjelaskan bahwa dalam teori arus modal global, investor tidak hanya mempertimbangkan kinerja ekonomi jangka pendek seperti pertumbuhan atau perdagangan, tetapi juga stabilitas institusi, kepastian kebijakan, dan konsistensi arah ekonomi suatu negara.
"Sebab ketika faktor-faktor tersebut dipersepsikan melemah, investor cenderung melakukan capital outflow atau pengurangan eksposur," paparnya kembali.
Tidak hanya itu saja, dirinya juga menyoroti bahwa intervensi otoritas moneter, termasuk langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar, belum cukup untuk membalikkan sentimen negatif.
"Sehingga hal inilah yang menjadi indikasi bahwa masalah yang dihadapi bukan sekadar likuiditas, melainkan persepsi risiko jangka panjang," tegasnya.
Dalam konteks tersebut, ia mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep risk premium, di mana investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung risiko yang dianggap meningkat, atau memilih keluar dari pasar sama sekali.
Lebih jauh, Didik menekankan bahwa pasar saat ini sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan. Ketika muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi, maka respons pasar dapat terjadi secara cepat dan tajam.
Kondisi ini juga, lanjutnya, berkaitan dengan ekspektasi investor global terhadap stabilitas kebijakan fiskal, independensi lembaga ekonomi, serta kepastian hukum yang melindungi investasi.
Baca Juga: Purbaya ke China dan Inggris, Cari Basis Investor Baru untuk RI
Oleh karena itu, lanjut Didik, tanpa adanya pemulihan kepercayaan, berbagai kebijakan teknis tidak akan cukup untuk menahan tekanan pasar.
"Yang paling penting untuk saat ini adalah trust rebuilding wajib menjadi agenda utama yang harus diprioritaskan," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








