Penerimaan Negara Tumbuh 30%, APBN Dinilai Masih Solid

AKURAT.CO Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih cukup kuat menghadapi potensi krisis global, termasuk dampak eskalasi di Timur Tengah.
Hal tersebut ia sampaikan pasca bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3).
Lebih lanjut Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah membahas skenario ketahanan fiskal apabila krisis berlangsung lebih lama.
Baca Juga: Kemenkeu Hitung Ulang Dampak Penutupan Selat Hormuz ke Perekonomian RI
"Ada bahas antara lain kalau krisis seperti ini berkepanjangan, tahan nggak anggarannya. Kalau analisa kita yang ada sekarang sih masih cukup baik," ujarnya.
Ia menyebut salah satu penopang utama adalah kinerja penerimaan negara. Pajak dan bea cukai periode Januari–Februari 2026 tumbuh sekitar 30% secara tahunan.
"Itu angka yang signifikan sekali," katanya.
Data tersebut menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi dan kepatuhan perpajakan pada awal tahun anggaran.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Bunga Kredit Turun ke 8,80 Persen, Kredit Tumbuh 9,96 Persen
Diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, APBN menjadi instrumen utama stabilisasi ekonomi, termasuk saat pandemi 2020–2022 ketika defisit melebar di atas 6% dari PDB sebelum kembali dijaga sesuai batas fiskal 3%.
Penguatan penerimaan di awal 2026 menjadi indikator penting karena ruang fiskal sangat bergantung pada keseimbangan antara belanja dan pendapatan negara.
Ketahanan APBN penting bagi stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga belanja subsidi, bantuan sosial, dan proyek strategis tetap berjalan.
Sedangkan bagi pasar keuangan, sinyal fiskal yang kuat dapat menjaga persepsi risiko investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 6Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 7Prediksi Skor Como vs Man Utd 21 Oktober 2026: Setan Merah Terancam
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja
- 10Prabowo Pimpin Sidang Kabinet Dua Tahun Pemerintahan, Ingatkan Pentingnya Kekompakan dan Kerja Nyata








