Akurat

Tanpa Saham Spekulatif, IHSG Bisa 1.500 Poin Lebih Rendah

Idham Nur Indrajaya | 13 Februari 2026, 22:23 WIB
Tanpa Saham Spekulatif, IHSG Bisa 1.500 Poin Lebih Rendah

AKURAT.CO Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun lalu terlihat mengesankan. Secara angka, indeks mencatat kenaikan dua digit dan bahkan sempat menembus level psikologis di atas 9.000. Namun di balik lonjakan tersebut, muncul pertanyaan serius: apakah penguatan itu benar-benar sehat?

Kepala Riset sekaligus Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai struktur kenaikan IHSG tahun lalu menyimpan distorsi yang signifikan. Menurutnya, sebagian besar dorongan indeks tidak berasal dari penguatan merata di berbagai sektor, melainkan terkonsentrasi pada segelintir saham berkarakter spekulatif.

Reli IHSG 22%: Kuat di Angka, Rapuh di Struktur?

Dalam paparannya mengenai outlook pasar, Rully menyebut bahwa kenaikan IHSG sekitar 22% tahun lalu banyak ditopang oleh sangat sedikit saham.

“Kalau kita hitung secara komposisi, kenaikan indeks sekitar 22% tahun lalu itu banyak ditopang oleh sangat sedikit saham. Dari sekitar 10 saham penggerak utama, delapan di antaranya kami kategorikan sebagai saham spekulatif,” ujar Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

Artinya, kenaikan IHSG bukanlah cerminan penguatan luas di mayoritas emiten. Ketika reli hanya digerakkan oleh saham tertentu dengan volatilitas ekstrem dan free float terbatas, fondasi kenaikannya menjadi kurang kokoh.

Rully bahkan memperkirakan, tanpa lonjakan ekstrem dari saham-saham tersebut, posisi IHSG tidak akan setinggi yang sempat tercapai.

“Estimasi kami, kalau indeks tidak didorong oleh kenaikan saham-saham spekulatif itu, level IHSG seharusnya berada di kisaran 7.500 sampai 7.900. Bukan sempat menembus area di atas 9.000. Jadi memang ada distorsi,” katanya.

Jika estimasi ini akurat, berarti ada selisih hingga sekitar 1.500 poin dari level puncak yang pernah disentuh indeks.

Reli Terkonsentrasi, Risiko Koreksi Lebih Tajam

Salah satu risiko utama dari reli yang sempit adalah efek domino saat terjadi koreksi. Ketika penggerak indeks hanya bertumpu pada beberapa saham, tekanan jual pada saham-saham tersebut bisa berdampak besar pada keseluruhan indeks.

Kondisi ini membuat pergerakan IHSG menjadi lebih sensitif dan tidak proporsional. Kenaikan terlihat cepat, tetapi penurunan pun bisa sama agresifnya.

Rully menegaskan bahwa tim risetnya sengaja tidak melakukan cakupan terhadap saham-saham yang masuk kategori spekulatif, meskipun pergerakan harganya sangat agresif.

“Kami memilih tidak melakukan coverage dan tidak ikut menetapkan target harga yang terlalu tinggi. Kami menjaga independensi dan kredibilitas analisis. Kenaikannya terlalu cepat dan tidak berbasis fundamental yang kuat,” ujarnya.

Narasi Indeks Global dan Efek Spekulasi

Lonjakan harga pada sejumlah saham tersebut disebut banyak dipicu narasi tematik, terutama ekspektasi akan masuk indeks global seperti yang dikelola oleh MSCI. Harapan masuk indeks global kerap memicu pembelian besar karena berpotensi mendatangkan aliran dana asing pasif.

“Story-nya waktu itu banyak berbasis ekspektasi akan masuk indeks global. Itu mendorong kenaikan sampai ratusan persen di beberapa saham. Tapi secara fundamental tidak selalu sebanding,” kata dia.

Masalahnya, ketika ekspektasi tersebut berubah—termasuk setelah keputusan penundaan penyesuaian indeks—momentum spekulatif ikut mereda. Sejak itu, pola kenaikan IHSG dinilai mulai berubah dan volatilitas meningkat.

Free Float Rendah, Celah Distorsi Harga Terbuka

Selain faktor spekulasi, ada isu struktural yang dinilai lebih mendasar: rendahnya free float di pasar saham Indonesia. Free float adalah porsi saham yang benar-benar beredar dan bisa diperdagangkan publik.

Dalam perbandingan regional, porsi free float di Indonesia disebut masih tertinggal dari beberapa negara Asia Tenggara. Ketika saham yang beredar di publik terbatas, harga menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh pemegang saham dominan.

“Semakin kecil free float yang tersedia di pasar, semakin besar potensi harga bisa dikendalikan oleh pihak tertentu. Itu bukan best practice dan tidak diinginkan oleh investor internasional,” ujar Rully.

Ia menambahkan bahwa dibandingkan dengan emerging market lain seperti India, standar transparansi dan kedalaman pasar di Indonesia masih perlu banyak pembenahan.

Kedalaman pasar yang rendah membuat reli indeks tampak impresif, tetapi sebenarnya rapuh karena tidak ditopang likuiditas yang merata.

Arus Dana Asing Masih Net Sell

Meski IHSG sempat rebound dalam beberapa pekan terakhir, Rully melihat tanda-tanda pemulihan belum sepenuhnya solid. Salah satu indikatornya adalah arus dana asing yang masih mencatat net sell, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

“Meski indeks sempat rebound, kami masih melihat arus dana asing keluar. Kenaikannya juga masih di saham-saham yang itu lagi. Jadi kami belum melihat tanda penguatan yang benar-benar berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi investor institusi, kualitas reli jauh lebih penting dibanding sekadar angka indeks. Konsentrasi penggerak indeks, struktur free float, hingga basis fundamental menjadi pertimbangan utama dalam menilai keberlanjutan tren.

Alarm bagi Pasar: Momentum Pembenahan atau Siklus Berulang?

Penilaian bahwa reli IHSG bersifat “tidak sehat” menggeser fokus dari sekadar arah naik atau turun, ke kualitas fondasinya. Jika struktur pasar tidak diperbaiki—mulai dari transparansi, likuiditas, hingga praktik tata kelola—volatilitas tinggi berpotensi berulang.

Rully menekankan bahwa fase fluktuasi saat ini bisa menjadi momentum pembenahan.

“Kalau pembenahan struktur, transparansi, dan praktik pasar bisa diperkuat, justru ini bisa menjadi titik balik. Tapi kalau tidak, volatilitas tinggi akan berulang,” kata dia.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah IHSG akan naik atau turun, melainkan seberapa sehat pondasi kenaikannya. Bagi investor ritel maupun institusi, memahami kualitas reli menjadi kunci agar tidak terjebak euforia sesaat.

Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru pasar saham dan analisis mendalam seputar IHSG, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan momentum penting di pasar.

Baca Juga: Danantara Kebut Hilirisasi, Bos Kadin: Kunci Daya Saing Industri

Baca Juga: Mensesneg: Tekanan IHSG Jadi Peluang Reformasi Ekosistem Pasar Modal

FAQ: Reli IHSG Dinilai Semu dan Risiko Saham Spekulatif

1. Mengapa reli IHSG disebut “semu”?

Reli IHSG dinilai semu karena kenaikannya tidak didorong oleh mayoritas saham di bursa, melainkan terkonsentrasi pada segelintir saham spekulatif dengan volatilitas tinggi dan free float terbatas. Artinya, penguatan indeks tidak mencerminkan kekuatan fundamental pasar secara menyeluruh.

2. Berapa potensi selisih level IHSG tanpa saham spekulatif?

Menurut Kepala Riset sekaligus Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, tanpa lonjakan saham-saham spekulatif tersebut, level IHSG diperkirakan hanya berada di kisaran 7.500–7.900, bukan sempat menembus di atas 9.000. Selisihnya bisa mencapai sekitar 1.500 poin.

3. Apa yang dimaksud dengan saham spekulatif?

Saham spekulatif umumnya memiliki:

  • Pergerakan harga sangat cepat dan fluktuatif

  • Fundamental yang belum sekuat kenaikan harganya

  • Free float rendah sehingga mudah dipengaruhi oleh pemegang saham dominan

Kenaikan saham jenis ini sering dipicu sentimen atau narasi tertentu, bukan kinerja keuangan yang solid.

4. Mengapa free float rendah bisa memicu distorsi harga?

Free float adalah porsi saham yang benar-benar beredar di publik dan dapat diperdagangkan. Jika jumlahnya kecil, harga saham lebih mudah dikendalikan oleh pihak tertentu. Kondisi ini meningkatkan risiko pembentukan harga yang tidak wajar dan membuat reli indeks menjadi kurang sehat.

5. Apa kaitannya dengan indeks global seperti MSCI?

Ekspektasi masuk ke indeks global seperti yang dikelola MSCI sering menjadi katalis kenaikan harga saham. Investor berspekulasi bahwa masuknya saham ke indeks global akan mendatangkan arus dana asing. Namun, ketika penyesuaian indeks ditunda, momentum tersebut bisa melemah dan memicu volatilitas.

6. Apakah arus dana asing sudah kembali ke pasar saham Indonesia?

Belum sepenuhnya. Meski IHSG sempat rebound, arus dana asing masih tercatat net sell, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar. Ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor global belum sepenuhnya pulih.

7. Apa risiko bagi investor ritel?

Jika reli hanya bertumpu pada sedikit saham, koreksi di saham-saham tersebut dapat menekan indeks secara signifikan. Investor ritel berisiko terjebak di harga tinggi ketika euforia memuncak, lalu menghadapi volatilitas tajam saat sentimen berubah.

8. Apa yang perlu diperhatikan sebelum berinvestasi saat IHSG volatil?

Beberapa hal penting yang bisa jadi pertimbangan:

  • Cek fundamental emiten, bukan hanya tren harga

  • Perhatikan porsi free float dan likuiditas saham

  • Pantau arus dana asing dan sentimen global

  • Hindari keputusan berbasis FOMO (fear of missing out)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.