Danantara Kebut Hilirisasi, Bos Kadin: Kunci Daya Saing Industri
Esha Tri Wahyuni | 9 Februari 2026, 18:03 WIB

AKURAT.CO Program hilirisasi kembali menjadi sorotan setelah peletakan batu pertama (groundbreaking) 6 proyek hilirisasi Danantara fase I resmi dimulai.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menegaskan, langkah ini bukan sekadar pembangunan proyek industri, melainkan strategi besar transformasi ekonomi nasional.
Hilirisasi dinilai mampu menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, hingga meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global. Dengan mengolah sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia didorong keluar dari ketergantungan ekspor komoditas mentah menuju produk bernilai tinggi.
Baca Juga: Danantara Bakal Dampingi BEI Temui MSCI
Inisiatif ini juga sejalan dengan target pemerintah memperkuat struktur industri, menarik investasi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis manufaktur dan teknologi.
Hilirisasi Jadi Kunci Transformasi Ekonomi Indonesia
Anindya Bakrie menyebutkan, peletakan batu pertama 6dari total 18 proyek hilirisasi Danantara akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional.
“Hilirisasi atau downstreaming menjadi kunci transformasi ekonomi Indonesia karena mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam melalui proses pengolahan di dalam negeri,” ujar Anindya di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, hilirisasi tidak hanya menciptakan produk bernilai tinggi, tetapi juga memperluas dampak ekonomi ke berbagai sektor.
“Downstreaming itu membawa nilai tambah yang paling penting. Nilai tambah untuk pekerjaan, nilai tambah untuk investasi, dan juga perdagangan,” kata Anindya.
Dari Ekspor Komoditas Mentah ke Produk Bernilai Tinggi
Anindya menilai pola ekspor nasional perlu bergeser secara struktural. Selama ini, ekspor Indonesia masih didominasi komoditas primer seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara.
Dengan pengolahan yang lebih dalam, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, melainkan produk turunan dengan daya saing global yang lebih kuat. “Supaya Indonesia bisa ekspornya bukan saja palm oil atau batu bara, tapi juga semakin mempunyai nilai tambah,” tegasnya.
Perubahan ini dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Penguasaan Teknologi Jadi Penentu Keberhasilan Hilirisasi
Selain investasi dan kapasitas produksi, Anindya menekankan pentingnya penguasaan teknologi sebagai fondasi utama hilirisasi berkelanjutan.
Dirinya mencontohkan potensi pengolahan silika menjadi wafer silikon untuk kebutuhan industri semikonduktor. Jika mampu dikuasai, sektor ini dapat membawa Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global dan masuk ke industri berteknologi tinggi.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk mendorong diversifikasi ekonomi dan memperluas basis industri manufaktur nasional.
6 Proyek Hilirisasi Danantara Fase I
Sebelumnya, Danantara melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I pada Jumat (6/2/2026). Keenam proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis:
Hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan total investasi mencapai USD3 miliar, serta peningkatan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
Proyek bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter per tahun. Kemudian Proyek biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, yang mampu memproduksi avtur hingga 6.000 barel per hari.
Fasilitas integrated poultry di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat, yang berpotensi menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur, sekaligus menciptakan 1,46 juta lapangan kerja baru.
Pabrik garam dan fasilitas mechanical vapor recompression (MVR) di Gresik, Manyar, dan Sampang, yang akan meningkatkan kapasitas produksi PT Garam sebesar 380 ribu ton per tahun dan memperkuat program swasembada garam nasional.
Hilirisasi sebagai Mesin Pertumbuhan Baru
Groundbreaking proyek hilirisasi Danantara menandai babak baru strategi industrialisasi Indonesia. Dengan fokus pada nilai tambah, penguasaan teknologi, dan perluasan lapangan kerja, hilirisasi diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Keberhasilan implementasi proyek-proyek ini akan menentukan seberapa jauh Indonesia mampu keluar dari jebakan ekspor komoditas mentah dan naik kelas sebagai pemain industri bernilai tinggi di pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









