Akurat

Ramai-ramai Petinggi OJK Mundur Usai Disentil MSCI, Ekonom: MSCI Ada Dana USD13 Miliar

Hefriday | 31 Januari 2026, 16:13 WIB
Ramai-ramai Petinggi OJK Mundur Usai Disentil MSCI, Ekonom: MSCI Ada Dana USD13 Miliar

AKURAT.CO Pengunduran diri berjamaah para petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sorotan serius pelaku pasar dan investor.

Usut punya usut, pengunduran diri tersebut sebagai tanggung jawab moral sebagai kegagal atas rekomendasi MSCI untuk mengerek free float dari 7,5% menjadi 15%.

MSCI pun lantas membekukan penambahan emiten baru dan perubahan bobot di IHSG, serta mengancam menurunkan status IHSG dari emerging market menjadi frontier market. Benarkah MSCI punya pengaruh sebesar itu?

Di tengah kondisi pasar modal yang sensitif terhadap sentimen global dan domestik, kabar ini dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Ketidakpastian respons regulator, ditambah langkah lembaga global seperti MSCI yang menurunkan peringkat saham Indonesia, memperkuat kekhawatiran akan arus keluar dana asing.
 
 
Pengamat pasar uang menilai situasi ini bukan sekadar isu personal, melainkan krisis kepercayaan yang bisa berdampak sistemik pada stabilitas pasar keuangan nasional.

Pengunduran Diri Petinggi OJK Dinilai Sudah “Terkompresi”

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai, fenomena pengunduran diri berjamaah ini sebagai akumulasi tekanan yang sudah lama terjadi.
 
“Nah ini kan sudah terkontraksi lah bahasanya, kalau orang-orang bilang itu sudah komplit. Sudah komplitasi,” ujar Ibrahim kepada awak media, Jumat malam (30/1/2026).
 
Menurutnya, masalah utama justru terletak pada minimnya respons resmi dari OJK maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) ketika gejolak mulai terlihat di pasar.
 
“Tapi masih belum direspons oleh Bursa Efek Indonesia dan OJK sendiri. Nah karena tidak ada respons, akhirnya MSCI langsung mengeluarkan satu pembekuan dan penurunan peringkat,” tegasnya.

MSCI Turunkan Peringkat, Dana Asing Terancam Keluar

Ibrahim menjelaskan, keputusan MSCI menjadi pemicu kekhawatiran investor global, terutama karena besarnya dana yang terafiliasi dengan indeks tersebut.
 
“Di MSCI itu ada dana USD13 miliar. Ada ketakutan semua itu menarik dananya, sehingga berdampak negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan,” katanya.
 
Ibrahim menilai OJK tidak mampu meredam situasi tersebut sejak awal, sehingga tekanan terhadap pasar semakin membesar.
 
“Nah ini rupanya OJK tidak bisa menanggulangi sampai akhirnya MSCI membekukan dan menurunkan peringkat,” lanjut Ibrahim.

Pemerintah Dinilai Wajar Minta Petinggi OJK Mundur

Dalam konteks tersebut, Ibrahim menilai langkah pemerintah yang menginginkan pengunduran diri para petinggi OJK sebagai keputusan yang rasional. “Jadi wajarlah kalau seandainya pemerintah menginginkan mereka harus mundur,” ujarnya.
 
Dirinya bahkan mengapresiasi sikap para pejabat yang memilih mundur secara terhormat.
 
“Saya apresiasi kalau mereka mundur berarti bagus, gentleman. Dan masih banyak kok orang-orang pintar untuk menduduki posisi mereka, baik sebagai Ketua OJK maupun komisioner,” katanya.
 
Menurutnya, langkah ini justru membuka ruang regenerasi kepemimpinan di tubuh OJK.

PLT Ketua OJK Harus Paham Pasar Modal

Terkait kekosongan jabatan Ketua OJK, Ibrahim menekankan pentingnya figur pelaksana tugas (PLT) yang benar-benar memahami dinamika pasar. “PLT ini harus benar-benar orang yang mengetahui tentang kondisi pasar modal. Bagaimana cara menanganinya,” tegasnya.
 
Ibrahim juga mengingatkan agar penunjukan PLT tidak didasarkan pada kepentingan titipan politik. “Jangan sampai orang-orang titipan. Kalau orang-orang titipan sudah tidak sesuai,” tambahnya.

Prediksi IHSG: Tekanan Masih Berlanjut

Untuk pergerakan pasar ke depan, Ibrahim memperkirakan IHSG masih berada dalam tekanan pada perdagangan awal pekan. “Kemungkinan besar IHSG ini masih berlanjut melemah,” ujarnya.
 
Tekanan tersebut, menurutnya, diperparah oleh penurunan peringkat saham Indonesia oleh lembaga global lainnya. “Ada tambahan dari Lehman Brothers yang menurunkan peringkat saham Indonesia,” kata Ibrahim.
 
Ibrahim bahkan tidak menutup kemungkinan adanya langkah ekstrem dari otoritas bursa. “Kemungkinan perdagangan akan disuspend,” tukasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa