Akurat

Bitcoin Jebol USD88.000, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Global

Hefriday | 26 Januari 2026, 14:30 WIB
Bitcoin Jebol USD88.000, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Global

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan dan turun ke bawah level psikologis USD88.000. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan gejolak nilai tukar utama dunia.

Dikutip berdasarkan data CoinDesk, Senin (26/1/2026) Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD87.800 pada perdagangan siang hari di Amerika Serikat, turun sekitar 2% dalam 24 jam terakhir.

Koreksi ini memperpanjang tren pelemahan pasar kripto yang sudah berlangsung lebih dari sepekan.

Baca Juga: BTC Tertahan di Bawah USD90.000, Sinyal Bearish Masih Kuat

Tekanan harga tersebut turut memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto. Dalam 24 jam terakhir, posisi bullish senilai sekitar USD224 juta terpaksa ditutup, dengan kontrak berjangka Bitcoin menyumbang sekitar USD68 juta dan Ether sebesar USD45 juta.

Di luar faktor teknikal kripto, sentimen global menjadi sorotan utama pelaku pasar. Para trader di Asia memasuki awal pekan dengan kewaspadaan tinggi terhadap potensi intervensi nilai tukar yen Jepang.

Kekhawatiran ini muncul setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memperingatkan adanya pergerakan pasar yang dinilai tidak normal.

Dikutip dari Bloomberg, penguatan tajam yen meningkatkan sikap defensif di kalangan investor Asia, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait langkah intervensi dari otoritas Jepang.

Baca Juga: Harga Bitcoin Tertekan di Awal Tahun, Ini Proyeksi BTC 2026 di Tengah Volatilitas Global

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pekan ini. Meski bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, pelaku pasar menanti pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pasca-rapat.

Kontrak berjangka FedWatch CME hingga Jumat lalu menunjukkan probabilitas 96% bahwa The Fed akan menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Sikap ini sejalan dengan pernyataan Powell pada Desember lalu yang menegaskan pemangkasan suku bunga lanjutan kemungkinan baru dilakukan pada 2026.

Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, juga menyampaikan pandangan serupa. Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Kashkari menilai masih terlalu dini bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga.

“Inflasi belum sepenuhnya terkendali, sehingga kehati-hatian tetap diperlukan,” kata Kashkari.

Meski demikian, dinamika internal di tubuh The Fed tetap menjadi perhatian. Pejabat yang ditunjuk Presiden AS Donald Trump, Stephen Miran, diperkirakan akan mendorong pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin. Jika tekanan dari kubu pelonggaran kebijakan menguat, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga bisa kembali meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk saham dan Bitcoin. Namun untuk saat ini, mayoritas pengamat pasar masih memperkirakan kebijakan moneter AS akan bertahan ketat.

Sebagian besar analis memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga satu hingga dua kali sepanjang tahun ini. Namun, JPMorgan mengambil pandangan berbeda dengan memperkirakan tidak ada pemangkasan suku bunga pada 2026, bahkan membuka peluang kenaikan pada tahun berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi