Yen Menguat Tajam, Pasar Waspadai Sinyal Intervensi Jepang-AS

AKURAT.CO Pasar keuangan global memasuki fase kewaspadaan tinggi setelah yen Jepang mencatat penguatan harian terbesar dalam enam bulan terakhir.
Pergerakan tajam ini memicu spekulasi kuat akan potensi intervensi mata uang oleh Pemerintah Jepang, bahkan kemungkinan dilakukan secara terkoordinasi dengan Amerika Serikat.
Nilai tukar dolar AS terhadap yen sempat anjlok dari kisaran hampir 160 menjadi sekitar 155,6 per USD. Level tersebut menjadi posisi terkuat yen sepanjang 2026 sekaligus lonjakan harian paling signifikan sejak Agustus lalu.
Baca Juga: Modal Asing Rp1,44 Triliun Masuk di Awal Januari 2026, Sinyak Kuat bagi Pasar Keuangan RI
Pemicunya datang dari pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang secara terbuka menilai pergerakan yen sebagai sesuatu yang “tidak normal”.
“Pemerintah tidak akan tinggal diam melihat pergerakan nilai tukar yang tidak mencerminkan fundamental,” ujar Takaichi dalam pernyataannya, dikutip dari Bloomberg, Senin (26/1/2026).
Posisi Short Yen di Titik Kritis
Penguatan yen terjadi di tengah posisi spekulatif short yen yang dilaporkan berada di level tertinggi dalam satu dekade. Kondisi ini meningkatkan risiko volatilitas tajam apabila terjadi pembalikan arah secara mendadak.
Komentator pasar Walter Bloomberg menilai situasi tersebut sebagai kombinasi berbahaya bagi stabilitas pasar.
“Dengan posisi short yen di level tertinggi dalam 10 tahun dan tekanan politik yang meningkat, otoritas Jepang tampaknya siap bertindak, terutama jika yen kembali melemah,” tulisnya.
Baca Juga: Outlook Pasar Keuangan 2026: Stabilitas Dijaga, Risiko Global Masih Membayangi
Sinyal kewaspadaan semakin menguat setelah laporan menyebutkan Federal Reserve Bank of New York menghubungi sejumlah bank besar terkait pergerakan yen. Dalam sejarah pasar keuangan, langkah semacam ini kerap menjadi indikasi awal intervensi mata uang yang terkoordinasi.
Jejak Sejarah Intervensi Jepang-AS
Intervensi bersama Jepang dan AS bukanlah hal baru. Plaza Accord pada 1985 dan langkah stabilisasi pascakrisis Asia 1998 tercatat efektif menahan volatilitas nilai tukar, melemahkan dolar AS, serta mendorong reli aset global.
Analis menilai skenario serupa berpotensi kembali terjadi di tengah tekanan global saat ini.
“Jika hanya Jepang yang bergerak, Bank of Japan berisiko harus menjual US Treasury untuk menopang yen, dan itu bisa mengguncang pasar obligasi global. Namun jika dilakukan bersama AS, dampak sistemiknya bisa ditekan dan dolar dilemahkan secara terkontrol," kata CFA, Michael Gayed.
Dampak Global: Dolar, Obligasi, hingga Kripto
Intervensi dengan menjual dolar untuk membeli yen berpotensi melemahkan dolar AS sekaligus menambah likuiditas global. Kondisi tersebut secara historis menguntungkan aset berisiko seperti saham, komoditas, dan aset digital.
Bitcoin, misalnya, memiliki korelasi positif dengan yen dan korelasi terbalik dengan dolar AS. Namun, analis mengingatkan potensi volatilitas jangka pendek akibat unwinding leverage dari carry trade yen.
Pengalaman Agustus 2024 menjadi rujukan penting. Saat Bank of Japan menaikkan suku bunga secara terbatas, yen menguat tajam dan memicu aksi jual aset kripto senilai sekitar US$15 miliar dalam enam hari. Harga Bitcoin kala itu turun dari US$64.000 ke kisaran US$49.000.
Risiko dan Peluang Investor
Di sisi lain, tekanan di pasar obligasi pemerintah Jepang (JGB) juga menjadi sorotan. Kekhawatiran terhadap stabilitas JGB dinilai dapat menular ke pasar US Treasury dan mempengaruhi arah suku bunga global.
Meski demikian, dolar AS yang melemah juga membawa implikasi positif bagi ekonomi AS, mulai dari pengelolaan utang yang lebih ringan hingga daya saing ekspor yang meningkat.
Bagi investor, fase ini dipandang sebagai periode penuh risiko sekaligus peluang.
“Secara historis, intervensi terkoordinasi cenderung bersifat bullish dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar seorang analis pasar global.
Jika Jepang dan AS benar-benar bergerak bersama, pasar berpotensi memasuki fase reli baru, dengan saham, komoditas, dan aset digital sebagai penerima manfaat utama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










