Harga Emas Berpeluang Tembus USD4.700, Geopolitik Jadi Pendorong

AKURAT.CO Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan tren penguatan dalam waktu dekat, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, kombinasi faktor geopolitik, perang dagang, serta arah suku bunga global berpotensi membawa harga emas menembus level psikologis baru di kisaran USD4.700 per troy ons.
"Secara teknikal harga emas masih memiliki ruang penguatan lanjutan. Jika reli berlanjut, emas diperkirakan akan menghadapi resistance pertama di level USD4.655 per troy ons dan resistance berikutnya di kisaran USD4.706 per troy ons. Level tersebut dinilai menjadi area krusial yang menentukan kelanjutan tren bullish emas dalam jangka pendek hingga menengah," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian Terbaru, 16 Januari 2026: Galeri24 Stabil, UBS Terkoreksi
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan potensi koreksi tetap perlu diantisipasi oleh pelaku pasar. Apabila terjadi tekanan jual, harga emas dunia diperkirakan memiliki support awal di level USD4.553 per troy ons, dengan support lanjutan di area USD4.489 per troy ons. Fluktuasi jangka pendek dinilai masih akan berlangsung seiring tingginya volatilitas pasar global.
Ibrahim menjelaskan, penguatan harga emas tidak terlepas dari memanasnya kembali tensi perdagangan internasional. Uni Eropa diketahui telah menerapkan tarif impor baru terhadap produk alumina asal China, sementara Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor hingga 10% terhadap Denmark serta delapan negara mitra Eropa lainnya. Kebijakan proteksionisme tersebut memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan mendorong investor kembali memburu aset lindung nilai.
Dari sisi politik domestik Amerika Serikat, ketidakpastian juga meningkat. Ibrahim menyoroti pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh jaksa agung AS terkait isu pembangunan gedung bank sentral yang dinilai bermuatan politis. Situasi ini menambah tekanan terhadap independensi bank sentral dan memperkuat sentimen safe haven di pasar keuangan global.
Ketegangan geopolitik turut memperkuat prospek kenaikan emas. Di kawasan Eropa, NATO dilaporkan mulai mengirimkan pasukan ke Greenland sebagai langkah antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik, menyusul pernyataan Presiden Trump yang sebelumnya mengungkapkan rencana pengambilalihan wilayah administratif Denmark tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas keamanan regional.
Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian Terbaru, 15 Januari 2026: Makin Melonjak Naik, Termurah Rp2.692.000 per Gram
Sementara itu, situasi di Timur Tengah juga menunjukkan peningkatan risiko geopolitik. Demonstrasi besar-besaran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang serta rencana kedatangan kapal induk Amerika Serikat Abraham Lincoln ke kawasan tersebut dinilai berpotensi memperburuk eskalasi konflik. Ibrahim menilai kondisi ini menjadi katalis tambahan bagi penguatan harga emas dalam waktu dekat.
Ke depan, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter The Fed. Ibrahim memperkirakan hingga mendekati April, bank sentral AS berpeluang memangkas suku bunga sebanyak satu hingga dua kali.
Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka peluang penurunan suku bunga, ditambah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral global, dinilai akan menjadi faktor fundamental yang menopang reli harga emas secara berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










