Akurat

5 Kontroversi Timothy Ronald, Pendiri Akademi Crypto

M. Rahman | 17 Januari 2026, 22:44 WIB
5 Kontroversi Timothy Ronald, Pendiri Akademi Crypto

AKURAT.CO Timothy Ronald merupakan salah satu figur muda paling menonjol di ekosistem investasi dan bisnis digital Indonesia. Sebagai finfluencer, namanya dikenal luas di kalangan Gen Z dan milenial berkat konten seputar saham, mindset finansial, dan gaya hidup entrepreneur.

Namun, seiring meningkatnya popularitasnya sebagai Raja Kripto Tanah Air, Timothy Ronald juga kerap terseret dalam berbagai kontroversi yang memicu perdebatan publik. Ia juga kerap flexing atas kekayaannya, mulai dari mobil mewah McLaren Senna hingga kekayaan aset kripto senilai Rp1 triliun yang mayoritas merupakan bitcoin.

Baca Juga: Benang Kusut Akademi Crypto Milik Timothy Ronald

Berikut rangkuman 5 kontroversi Timothy Ronald yang paling sering diperbincangkan di media sosial dan komunitas finansial digital.

1. Dugaan Penipuan Investasi Kripto

Timothy dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada awal Januari 2026 oleh Younger atas dugaan penipuan investasi trading mata uang kripto melalui komunitas "Akademi Crypto" miliknya. Pelapor mengaku mengalami kerugian hingga Rp3 miliar setelah dijanjikan potensi keuntungan antara 300% hingga 500%

2. Pernyataan Ngegym Aktivitas Paling Bodoh

Pernyataan Timothy Ronald yang menyebut nge-gym sebagai "aktivitas paling bodoh" menjadi viral pada akhir Juli 2025 dan mendapat kecaman termasuk dari Dedy Corbuzier.
 
Iapun memiliki sejumlah argumentasi atas pernyataan tersebut.

Kekosongan Mental

Ia berpendapat bahwa saat mengangkat beban, otak berada dalam kondisi "kosong" dan tidak mendapatkan stimulasi intelektual atau ruang untuk berpikir reflektif.

Generalisasi Kecerdasan

Timothy mengklaim bahwa orang yang terlalu fokus membentuk badan hingga sangat bagus kemungkinan besar tidak sepintar mereka yang tidak nge-gym.

Perbandingan Jenis Olahraga

Ia membedakan gym dengan olahraga seperti tenis, basket, atau boksing yang menurutnya lebih menggunakan otak. Ia juga lebih menyukai lari karena dianggap memberi ruang untuk berpikir sambil bergerak

3. Pernyataan Sekolah Adalah Scam

Pernyataan Timothy Ronald bahwa "sekolah adalah scam" merupakan bentuk kritik keras terhadap sistem pendidikan formal yang menurutnya tidak lagi relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan bisnis modern. 
 
Iapun memiliki sejumlah argumentasi atas pernyataan tersebut.

Sistem Mencetak Pekerja, Bukan Pemikir

Ia berpendapat sistem sekolah saat ini mengadopsi model Prusia yang dirancang untuk melatih kepatuhan guna menciptakan tenaga kerja pabrik, bukan untuk mendorong pemikiran kritis atau kreativitas.

Ketidaksesuaian Kurikulum

Timothy menilai kurikulum sekolah formal seringkali tertinggal dari perkembangan teknologi, seperti AI, dan kurang mengajarkan literasi finansial yang praktis,

Pendidikan Tak Sama dengan Sekolah

Ia membedakan antara "pendidikan" (proses belajar) dan "sekolah" (institusi formal). Menurutnya, pendidikan itu penting, namun sistem institusi sekolahnya yang ia anggap bermasalah

4. Sarankan Ngopi Rp80.000 di Hotel Bintang 5

Pernyataan Timothy Ronald mengenai kopi seharga Rp80.000 di lobi hotel bintang lima merupakan saran investasi diri yang sempat viral pada tahun 2023. 
 
Iapun memiliki sejumlah argumentasi atas pernyataan tersebut.

Tujuan Networking & Mindset

Timothy menyarankan orang yang belum sukses untuk sesekali membeli kopi mahal di lobi hotel mewah guna melihat cara orang kaya bekerja dan membangun pola pikir (mindset) sukses.

Strategi Pemasaran

Setelah video tersebut memicu kontroversi dan kritik dari netizen, Timothy mengklarifikasi bahwa pernyataan itu adalah bagian dari strategi konten agar videonya menjadi viral.

5. Pernyataan Mengenai Orang Miskin

Timothy sering mengeluarkan pernyataan yang dinilai merendahkan, seperti menyebut orang miskin sebagai pengecut atau "penakut". Ia juga mengklaim bahwa dirinya menggunakan narasi "menyerang si miskin" sebagai strategi pemasaran agar kontennya viral.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa