Tekanan Global Masih Membayangi, IHSG Berpotensi Konsolidasi

AKURAT.CO Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan cenderung bergerak konsolidasi pada perdagangan Senin (12/1/2026), di tengah tekanan eksternal global dan melemahnya sejumlah indikator ekonomi domestik.
Meski berhasil ditutup menguat pada akhir pekan lalu, sinyal teknikal menunjukkan ruang kenaikan IHSG mulai terbatas.
Sehingga kondisi tersebut membuat pelaku pasar, khususnya investor ritel dan trader harian, perlu lebih selektif dalam menentukan strategi investasi saham.
Baca Juga: IHSG Tembus 9.000, Purbaya: Akan Berkelanjutan Terus Naik
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah, data inflasi China, serta dinamika kepercayaan konsumen Indonesia menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pasar. Dengan volatilitas yang masih tinggi, memahami level kunci IHSG dan rekomendasi saham berpotensi cuan menjadi krusial bagi investor yang ingin tetap aktif di pasar modal.
IHSG Ditutup Menguat, Meski Tekanan Masih Terasa
IHSG ditutup menguat 0,13% ke level 8.936,7 pada perdagangan Jumat (9/1/2026) setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Penguatan tersebut belum cukup kuat untuk membawa IHSG menembus level psikologis 9.000.
Dari sisi eksternal, rupiah kembali melemah ke posisi Rp16.819 per dolar AS di pasar spot. Pelemahan ini dipicu oleh kondisi ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, sementara sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan tren melambat.
Baca Juga: IHSG Rawan Profit Taking, Sentimen Global Jadi Perhatian
Menurut Phintraco Sekuritas, secara teknikal IHSG mulai menunjukkan sinyal kehati-hatian. Stochastic RSI membentuk death cross di area overbought, mengindikasikan potensi koreksi jangka pendek.
Sementara itu, histogram MACD masih berada di zona positif, namun momentumnya mulai melemah. Kondisi ini mencerminkan bahwa dorongan beli mulai berkurang, meski belum sepenuhnya berbalik arah.
Proyeksi Pergerakan IHSG
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidasi di kisaran 8.860–9.000, selama indeks belum mampu ditutup stabil di atas level 9.000.
“Sehingga diperkirakan IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 8.860–9.000 pada pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya yang dikutip, Minggu (11/1/2026).
Pasar saham Asia ditutup mixed pada Jumat lalu seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perhatian investor terhadap data inflasi China. Inflasi China tercatat naik menjadi 0,8% secara tahunan (YoY) pada Desember 2025, dari 0,7% YoY di November 2025.
Angka ini merupakan level tertinggi sejak Februari 2023 dan menandai kenaikan inflasi selama tiga bulan berturut-turut, yang didorong oleh kenaikan harga pangan setelah periode deflasi. Kondisi ini turut menopang saham-saham sektor pertahanan di kawasan Asia.
Data Domestik: Daya Beli Melemah, Konsumsi Selektif
Dari dalam negeri, indeks kepercayaan konsumen Indonesia tercatat melemah ke level 123,5 pada Desember 2025, turun dari 124 pada November 2025. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya sebagian besar sub-indeks utama, mencerminkan kehati-hatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Meski demikian, data konsumsi menunjukkan sinyal campuran. Penjualan sepeda motor domestik justru melonjak 14,5% YoY menjadi 461.925 unit pada Desember 2025. Sepanjang 2025, penjualan motor tumbuh 1,3% YoY menjadi 6,4 juta unit, berada di batas bawah target AISI.
Namun, pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1,5% YoY, menandakan pemulihan konsumsi belum sepenuhnya solid.
Rekomendasi Saham untuk Trading
Dalam kondisi pasar yang cenderung konsolidatif, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat diperhatikan untuk strategi trading jangka pendek, antara lain CENT, AGII, GJTL, ASRI, MEDC, SMBR.
Investor disarankan tetap menerapkan manajemen risiko yang ketat dan mencermati pergerakan IHSG di sekitar level support dan resistance utama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










