Akurat

Bank Masih Konservatif, Perbanas Proyeksi Kredit 2026 Tumbuh Terbatas

Hefriday | 7 Januari 2026, 09:50 WIB
Bank Masih Konservatif, Perbanas Proyeksi Kredit 2026 Tumbuh Terbatas

AKURAT.CO Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 masih akan berada di level single digit. Proyeksi tersebut mencerminkan sikap konservatif industri perbankan di tengah belum kuatnya permintaan dari sektor riil serta berlanjutnya ketidakpastian global.

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani mengatakan, meski likuiditas perbankan relatif memadai, dunia usaha belum menunjukkan dorongan signifikan untuk mengajukan pembiayaan baru. Kondisi ini membuat bank memilih menahan ekspansi kredit secara agresif.

“Rata-rata bank masih konservatif untuk tetap single digit. Mereka masih mengatakan tumbuh sekitar 8–9 persen, karena belum melihat pemicu permintaan kredit yang cukup tinggi,” ucap Aviliani di Jakarta, Selasa (5/1/2026).

Baca Juga: Ekonom Perbanas Taksir Kredit Perbankan Tumbuh 10,6-11,6 Persen di 2025

Menurut Aviliani, salah satu faktor kunci yang dapat mendorong permintaan kredit adalah meningkatnya belanja dan aktivitas investasi badan usaha milik negara (BUMN).

Selama ini, belanja BUMN kerap menjadi motor awal pergerakan sektor riil karena skalanya yang besar dan efek berantainya terhadap sektor swasta.

Namun, realisasi pembiayaan kepada BUMN saat ini masih terbatas. Kredit baru umumnya mengalir ke entitas tertentu yang proyeknya telah memasuki tahap implementasi, sementara proyek lain masih berada dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan.

Aviliani berharap, ke depan mekanisme pengambilan keputusan investasi BUMN dapat disederhanakan agar belanja dan proyek strategis dapat berjalan lebih cepat. Percepatan tersebut dinilai penting untuk memicu kembali aktivitas sektor riil dan meningkatkan permintaan pembiayaan perbankan.

Dari sisi swasta, tambahnya, minat terhadap kredit dinilai masih ada, namun belum merata. Permintaan umumnya datang dari pelaku usaha yang memiliki kepastian pasar atau bergerak di sektor dengan prospek jangka panjang. Di luar itu, banyak pelaku usaha memilih bersikap wait and see.

Baca Juga: Perbanas Dorong Perbaikan Perilaku Pasar dalam Regulasi Jasa Keuangan

“Sektor yang sudah punya kontrak atau kepastian permintaan masih berani mengambil kredit. Tapi yang lain masih menahan diri karena kondisi global belum sepenuhnya stabil,” ujarnya.

Sebagai informasi, data Bank Indonesia (BI), kredit per November 2025 tumbuh 7,74% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang mencatatkan pertumbuhan dua digit, sementara kredit modal kerja masih bergerak terbatas.

Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa pemulihan kredit masih sangat bergantung pada proyek berskala besar, khususnya yang melibatkan BUMN. Tanpa dorongan belanja dan investasi yang lebih luas, perbankan diperkirakan tetap berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan sepanjang 2026.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi