Akurat

Outlook Pasar Modal 2026: Cautiously Optimistic

Hefriday | 2 Januari 2026, 17:40 WIB
Outlook Pasar Modal 2026: Cautiously Optimistic

AKURAT.CO Memasuki 2026, pasar modal Indonesia berada dalam lanskap yang dinamis Transisi pemerintahan, penyesuaian arah kebijakan fiskal, serta dinamika global yang belum sepenuhnya stabil membentuk kombinasi risiko dan peluang yang kompleks bagi investor. 

Dalam kondisi tersebut, pergerakan pasar saham dan obligasi tidak lagi dapat dibaca secara terpisah, melainkan saling terkait sebagai respons terhadap arah kebijakan, likuiditas, serta persepsi risiko. Lantas bagaimana arah gerak pasar modal di tahun 2026? Berikut Akurat.co rangkum.

Prospek Pasar Saham Cerah, Namun Tetap Perlu Hati-hati

Untuk memulai tahun 2026 dengan sikap yang lebih berhati-hati nampaknya jadi sikap yang bijak bagi investor, mengingat masih menunggu data makro dan laporan keuangan perusahaan kuartal IV-2025 dengan harapan ada perbaikan setelah peluncuran stimulus.
 
Selain itu, tetap waspadai potensi dinamika dari sisi kebijakan pemerintah. Di sisi lain, ketidakpastian yang baru-baru ini muncul akibat rencana MSCI atau Morgan Stanley Capital International untuk merevisi persyaratan free float minimum dalam proses inklusi indeks juga akan terus berlangsung setidaknya hingga akhir Januari 2026, ketika MSCI akan mengumumkan revisi resminya yang akan diterapkan pada rebalancing Mei 2026.
 
 
Menurut catatan Schroders Indonesia, aktivitas investor ritel mulai menunjukkan sedikit kegelisahan, meskipun perhatian utama kami tertuju pada potensi arus keluar pasif asing dari saham-saham blue chip apabila rencana revisi yang baru diumumkan tersebut benar-benar diterapkan oleh MSCI, meski pasar masih bersikap skeptis.
 
"Kami memandang bahwa kuartal I-2026 kemungkinan akan tetap menjadi periode yang penuh volatilitas bagi pasar saham," tulis riset Schroders Indonesia.

6 Upside Risk

Namun demikian, apabila isu-isu dari pemerintah tetap terkendali dan data makro dan kebijakan MSCI bersifat mendukung, Schroders melihat prospek pasar saham di tahun 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025. Pemulihan domestik kemungkinan menjadi katalis utama bagi pasar saham.

Setidaknya ada 6 tesis investasi positif. Pertama, basis laba perusahaan yang rendah di 2026, khususnya pada sektor terkait konsumen dan perbankan, dapat memberikan pertumbuhan laba yang lebih tinggi di tahun yang sama jika pemulihan ekonomi terus berlanjut.

Kedua, penyaluran stimulus untuk meningkatkan daya beli domestik akan mendorong belanja masyarakat, yang berdampak positif ke sektor lain seperti perbankan dan consumer discretionary.

Ketiga, Menteri Keuangan yang baru menyatakan akan menghindari penambahan pajak baru guna mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Pemerintah memiliki target ambisius untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% di akhir masa jabatan ini, termasuk pelonggaran kebijakan perpajakan yang jika terealisasi dapat mendukung konsumsi domestik.

Keempat, harga komoditas utama yang menguat seperti CPO dan emas dapat memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian regional.

Kelima, kinerja pasar negara maju (Developed Markets/DM) seperti bursa Eropa dan AS yang masih solid, di tengah pertumbuhan global yang belum stabil, dapat mendorong terjadinya rotasi dana ke pasar negara berkembang (Emerging Markets /EM). Walaupun pasar negara berkembang telah mencatatkan kinerja kuat berkat Tiongkok dan Korea Selatan, pasar Indonesia dan ASEAN masih tertinggal.

Terakhir, IHSG diperdagangkan di kisaran 13x Price to Earnings (PE) ratio, namun jika saham-saham spekulatif dikeluarkan, valuasi dapat mendekati 10x PE, yang masih relatif murah dibandingkan negara-negara sejenis (peers).

Sektor Konsumer, Pertambangan, Perkebunan Paling Prospektif

Sejalan dengan tema pertumbuhan dan pemulihan konsumsi, Schroders menilai sektor konsumer menjadi pilihan utama untuk 2026. Pemulihan pertumbuhan pendapatan (top-line) dan penurunan biaya bahan baku diharapkan dapat meningkatkan margin perusahaan consumer staples. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memberikan sentimen positif untuk saham-saham sektor unggas. Namun demikian, volatilitas Rupiah tetap dapat memengaruhi kinerja ritel.
 
Ketidakpastian makro global diperkirakan masih akan menopang harga logam mulia, sehingga sektor pertambangan logam seperti emas tetap layak dipertimbangkan.
 
Program B50 dan keterbatasan pasokan membuat harga CPO tetap kuat, sehingga sektor perkebunan juga menarik untuk dicermati. Selain itu, sebagai perusahaan peraih pendapatan dalam USD, komoditas akan relevan di tengah pelemahan Rupiah saat ini.
 
Untuk strategi defensif, investor dapat mempertimbangkan saham-saham dividen dengan pertumbuhan yang stabil.

Pasar Obligasi Dihadapkan Banyak Tantangan

Tema utama tahun ini masih dipengaruhi oleh kebijakan Presiden Trump, yang memperumit tugas the Fed, karena pemangkasan suku bunga dalam kondisi seperti ini dapat memicu inflasi lebih tinggi.
 
Untuk obligasi pemerintah atau IndoGB ke depan, Schroders menilai dari sisi teknikal, fundamental, dan valuasi dari pasar obligasi. Secara teknikal, partisipasi lokal meningkat tajam dan walaupun arus keluar asing sangat besar pada September dan Oktober, yield obligasi tetap turun.

Permintaan obligasi pemerintah (IndoGB) sangat kuat di domestik, terutama dengan likuiditas Danantara yang kemungkinan besar akan ditempatkan sementara di obligasi sebelum investasi langsung terrealisasi. Perbankan juga terus membeli obligasi seiring likuiditas tinggi karena pertumbuhan kredit terhambat oleh perlambatan ekonomi.

Penerbitan obligasi rupiah mencatat jumlah bid yang tertinggi dalam beberapa bulan, ditambah penerbitan global baru seperti Obligasi Dimsum dan Kangaroo juga mencatat pemesanan yang sangat baik. Kesuksesan penerbitan ini kemungkinan mendorong penerbitan berikutnya yang lebih besar tahun depan sekaligus meningkatkan diversifikasi sumber pendanaan. Meski ada kekhawatiran terhadap risiko suplai di 2026, namun, permintaan domestik bisa tetap solid.

Meningkatnya Risiko Fiskal

Secara fundamental, risiko fiskal meningkat dan valuasi terlihat mahal. Defisit fiskal kemungkinan melebar dan kebutuhan pembiayaan bersih juga meningkat. Sikap Menteri Keuangan baru, Purbaya, lebih pro-pertumbuhan dibanding pendahulunya Sri Mulyani.

Keputusan menempatkan kelebihan kas Rp200 triliun di bank BUMN merupakan salah satu langkah bold pertamanya, yang bertujuan meningkatkan suplai uang dan mengatasi ketatnya likuiditas perbankan. Namun, butuh waktu hingga dana ini tersalurkan ke kredit karena pelaku usaha masih berhati-hati terhadap prospek pertumbuhan.

Jika penyaluran kredit meningkat, ini akan positif bagi pertumbuhan ekonomi (PDB), namun ada kekhawatiran terkait durasi dan strategi exit skema ini karena potensi dampak signifikan terhadap likuiditas bank saat penarikan dana dilakukan. Skema ini belum pernah dijalankan sebelumnya, sehingga ada ketidakpastian terkait kemudahan penarikan kembali dana pada saat kondisi darurat.

Tantangan lain adalah pencapaian target penerimaan pemerintah untuk tahun depan. Target penerimaan sangat ambisius sementara sumber penerimaan cenderung menurun dengan kebijakan saat ini—mulai dari alokasi laba BUMN ke Danantara, pembatalan kenaikan cukai rokok, hingga rencana penurunan tarif PPN.

Di sisi ekspor, harga komoditas utama tetap lemah, sehingga potensi defisit fiskal yang lebih lebar dan kebutuhan pembiayaan bersih yang meningkat berpotensi memperbanyak pasokan obligasi.

Ruang Untuk Rally Kian Terbatas

Dari sisi moneter, tantangan BI untuk memangkas suku bunga lebih lanjut cukup berat. Arus keluar portofolio masih berlanjut dan BI mulai memprioritaskan stabilitas Rupiah setelah tiga kuartal berturut-turut melakukan pelonggaran di kuartal ketiga. Schroders menilai suku bunga telah mendekati dasar siklusnya, sehingga ruang untuk reli obligasi tahun depan semakin terbatas.

Dari sisi valuasi, rally besar tahun ini mendorong IndoGB menjadi relatif mahal—baik dibandingkan negara sejenis maupun sepanjang sejarah. Dalam hal suku bunga riil, Indonesia berada di peringkat tiga di antara negara dengan rating BBB; per November, suku bunga riil Indonesia adalah sebesar 3,44%, dibandingkan Filipina yang sebesar 4,15% dan India yang berada di level 6,26%.

Inflasi utama di dua negara tersebut tetap rendah akibat harga pangan yang turun, sementara harga pangan di Indonesia masih naik.

Imbal hasil nominal IndoGB juga mengungguli India dan Filipina. Secara historis, dalam sepuluh tahun terakhir, yield 10 tahun IndoGB di kisaran 6% menawarkan support dan hanya 18 hari pernah diperdagangkan di bawah level ini.

Hal ini menunjukkan bahwa suku bunga nominal saat ini cenderung mahal. Selisih imbal hasil atas US Treasury juga mencapai kisaran terendah 200–220bps sejak 2002, meskipun tren serupa juga terjadi di negara-negara peer terhadap UST.

"Kami cenderung bersikap defensif memasuki 2026 setelah sebelumnya optimis pada tiga kuartal pertama tahun ini. Valuasi obligasi sudah cukup mahal dan dari sisi fundamental terdapat tantangan dalam pencapaian penerimaan dan pembiayaan bersih. Namun demikian, permintaan domestik tetap kuat sehingga membatasi risiko pelemahan IndoGB secara lokal," papar riset Schroders.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa