Kripto Minim Nilai Baru, Cofounder Aevo Ungkap Kekecewaan
Hefriday | 10 Desember 2025, 18:06 WIB

AKURAT.CO Komunitas kripto Asia diguncang oleh pernyataan blak-blakan Ken Chan, mantan co-founder protokol derivatif Aevo.
Dikutip dari unggahan di platform X, Rabu (10/12/2025) Chan mengaku industri kripto yang selama ini ia tekuni bukan membangun sistem keuangan baru, melainkan “kasino” yang beroperasi tanpa henti.
Pengakuan itu dengan cepat viral lintas negara, dari komunitas berbahasa Inggris hingga menjalar ke China dan Korea Selatan.
Chan menggambarkan pernyataannya sebagai runtuhnya idealisme pribadi. Ia mengaku pernah menjadi libertarian yang terinspirasi novel-novel Ayn Rand, hingga menyumbang kampanye calon presiden AS Gary Johnson pada 2016.
Bagi Chan, etos cypherpunk Bitcoin adalah gagasan yang sangat kuat: kemampuan membawa aset bernilai miliaran dolar “hanya di dalam kepala” tanpa batasan negara.
Namun perjalanan delapan tahun di industri kripto justru mengikis idealisme itu. Chan mengkritik keras “perang layer-1,” yakni derasnya aliran dana ke proyek seperti Aptos, Sui, Sei, dan Internet Computer.
Menurut dia, seluruh kompetisi itu tidak memperlihatkan kemajuan berarti dalam mewujudkan sistem keuangan yang lebih baik.
“Secara literal hanya membakar uang semua orang demi jadi Solana berikutnya. Kita tidak perlu membangun kasino di Mars," tulisnya.
Dikutip dari beberapa sumber, Rabu (10/12/2025) Chan meninggalkan Aevo pada Mei 2025. Situs pribadinya menunjukkan ia kini mengerjakan KENSAT, proyek satelit personal yang dijadwalkan meluncur menggunakan Falcon 9 pada Juni 2026.
Pengakuannya datang enam bulan setelah hengkang, tepat ketika token AEVO diperdagangkan pada valuasi fully diluted sekitar USD45 juta merosot 99% dari puncaknya.
Metafora “kasino” yang digunakan Chan muncul di tengah kelelahan pasar. Setelah gejolak harga pada Oktober lalu, pelaku pasar di Asia menghadapi volatilitas tinggi dan penurunan likuiditas.
Media China menyebut viralnya unggahan Chan sebagai cerminan “kecemasan kolektif di tengah kekosongan naratif” dalam dunia aset digital.
Reaksi komunitas berbahasa Mandarin terbelah. Sebagian mengkritik balik Chan, menyebut kegagalannya sebagai tanggung jawab pribadi. Namun tak sedikit yang memperkuat kritik itu dengan mempertanyakan manfaat nyata industri kripto.
Resonansi serupa muncul di Korea Selatan. Banyak trader menilai kripto tidak memiliki kasus penggunaan nyata selain stablecoin. Mereka mengatakan bahwa di dasar crypto, tidak ada yang menciptakan nilai baru, hanya scammer yang menghisap uang investor ritel.
Di luar kritik teknis, perhatian publik juga tertuju pada peringatan Chan terkait dampak sosial industri kripto. Ia menilai mentalitas toksik yang mendorong spekulasi ekstrem dapat memperburuk mobilitas sosial generasi muda.
Kekhawatiran ini mencuat di tengah naiknya biaya hidup di Asia Timur, membuat jalur tradisional menuju kesejahteraan semakin sulit dijangkau.
Analis Korea, KKD Whale, tanpa merujuk langsung unggahan Chan, menyampaikan refleksi serupa. Ia menilai era keahlian tunggal sudah usang, dan banyak profesional kehilangan relevansi ketika tidak memperbarui kemampuan.
“Skill itu pun menjadi usang, orangnya ikut tersingkir,” tulisnya. Pernyataan ini dipandang sejalan dengan kritik Chan bahwa industri dan pelakunya sedang terjebak dalam lingkaran stagnasi.
Chan menutup pernyataannya dengan kutipan dari CMS Holdings, yaitu 'Anda mau menghasilkan uang, atau mau menjadi benar?'. Baginya, kali ini ia memilih 'menjadi benar'.
Pernyataan itu memicu perdebatan baru di komunitas kripto mengenai motif, integritas, dan arah industri ke depan.
Enam bulan setelah meninggalkan proyek yang turut ia bangun, dan melihat nilai AEVO yang merosot drastis, pertanyaan pun mengemuka, apakah pengakuan Chan adalah kejernihan setelah melepaskan diri, atau justru pembenaran dari seseorang yang sudah tidak lagi berada di arena?.
Namun satu hal jelas adalah pengakuannya telah membuka ruang refleksi bagi banyak pelaku industri yang kini mempertanyakan hal yang sama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









