Akurat

Bitcoin Kembali Menguat Tembus USD92.000

Hefriday | 5 Desember 2025, 09:10 WIB
Bitcoin Kembali Menguat Tembus USD92.000

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan signifikan setelah sempat mengalami tekanan tajam pada pekan lalu.

Aset kripto berkapitalisasi terbesar itu menembus level USD92.000 pada Selasa malam hingga Rabu pagi waktu Indonesia, sebuah kenaikan yang disebut pelaku industri sebagai bukti kuatnya daya beli pasar.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, mengatakan pemulihan harga tersebut terjadi tidak lama setelah pasar kripto sempat diguncang gelombang likuidasi lebih dari UDD250 juta.

Tekanan itu menekan harga Bitcoin hingga area USD83.800—USD84.000, sebelum akhirnya kembali diborong pelaku pasar.

“Kenaikan ini didorong oleh menguatnya minat institusi keuangan global terhadap aset digital serta pulihnya sentimen pasar pasca penurunan tajam akhir pekan lalu,” ujar Antony di Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Baca Juga: Bitcoin Tembus Rp1,5 Miliar Jelang FOMC, Simak Proyeksi Harganya untuk Akhir Tahun Ini!

Menurut dia, keputusan strategis sejumlah institusi besar menjadi faktor utama yang mendorong kepercayaan investor.

Beberapa raksasa keuangan global seperti Goldman Sachs, Vanguard, dan Bank of America disebut membuka akses lebih luas terhadap produk investasi berbasis Bitcoin.

“Penerimaan institusi besar menjadi katalis penting dalam penguatan harga Bitcoin kali ini. Langkah mereka memberikan sinyal kuat bahwa adopsi aset digital semakin meluas,” kata Antony.

Selain faktor institusional, dinamika pasar jangka pendek turut menjadi pendorong kenaikan harga. Rebound cepat yang terjadi setelah penurunan pekan lalu menunjukkan bahwa minat beli pasar tetap solid di sekitar level support tertentu.

Volume perdagangan global pun tercatat meningkat signifikan dalam 24 jam terakhir.

Dari sisi makroekonomi, keputusan Federal Reserve menghentikan program Quantitative Tightening (QT) sejak Senin (1/12/2025) ikut memperkuat sentimen.

The Fed tercatat menyuntikkan sekitar USD13,5 miliar melalui operasi repo harian, yang menjadi salah satu injeksi likuiditas terbesar sejak pandemi.

Antony menjelaskan bahwa peningkatan likuiditas tersebut biasanya berdampak positif bagi aset berisiko, termasuk kripto. Meredanya tekanan kebijakan moneter memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke pasar.

“Pasar global kini menantikan keputusan The Fed pada pertemuan 9–10 Desember 2025 terkait potensi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Secara historis, kebijakan moneter yang lebih longgar mendorong masuknya investor ke aset berisiko,” ujarnya.

Kendati demikian, Antony mengingatkan bahwa Bitcoin tetap memiliki volatilitas tinggi sehingga investor perlu berhati-hati.

Dirinya juga menyarankan pelaku pasar agar tidak terbawa euforia atau fear of missing out (FOMO), serta menerapkan strategi investasi jangka panjang seperti dollar-cost averaging (DCA) dan disiplin dalam manajemen risiko.

Indodax juga mengimbau seluruh investor untuk terus mengikuti perkembangan pasar dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi volatilitas harga.

Menurut Antony, pemahaman yang baik terhadap dinamika pasar menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah cepatnya pergerakan aset kripto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa